12. November 2011 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Setelah duapuluh tahunan meramaikan musik Indonesia, akhirnya lahir juga sebuah album bertajuk a Tribute to. Dugaanku album ini merupakan proyek solo sang gitaris. Saat diluncurkan,teringat pernah membicarakan ini dengan beliau beberapa tahun lalu.

Dilihat dari artis yang terlibat, sepertinya memang diniatkan untuk memberi suasana baru pada setiap lagu yang direkam. Mulai dari penyanyi ‘masa kini’ semacam Vidi,The Upstairs, RAN, Kerispatih atau Ungu, penyanyi ‘seangkatan’ mereka seperti Ahmad Dhani,Pongki Barata, sampai ‘pendatang baru’ seperti Violet diajak serta.

Lagu-lagu yang direkam juga sedikit berbeda jika dibandingkan dengan materi ‘The Best’ yang pernah mereka keluarkan. Atau dibanding dengan daftar lagu yang pernah mereka tampilkan di panggung panggung. Setidaknya ‘pembeda’ itu ada dua lagu yang menandai hal tersebut. Lagu Lantai Dansa yang dibawakan The Upstairs plus lagu Bahagia Tanpamu yang dibawakan group pendatang baru Violet. Selebihnya adalah ‘lagu wajib’ yang hampir selalu mereka bawakan kalau manggung. Semacam Jogjakarta,Semoga, atau Terpurukku Disini. Mungkin hal tersebut bisa terjadi, karena para penyanyi diberi kebebasan dalam menantukan lagu yang akan mereka bawakan.

Lagu yang direkam juga berasal dari seluruh album yang pernah mereka keluarkan pada masa sebelum ‘pecah’. Ketika sang gitaris penggagas album ini, membentuk XOTC bersama Simon, gitaris yang terbiasa membantu mereka manggung. Mulai Tentang Kita dan Lantai Dansa dari album KLa, hingga Menjemput Impian dari album ‘terakhir’ di era dulu.

Entah karena terinspirasi dari menumpang penjualan di toko makanan cepat saji ala Agnes Monica, penjualan album Tribute To ini juga ‘menumpang’ pada jaringan toko swalayan Indomaret. Sebuah pilihan bagus saat pendengar musik Indonesia lebih senang mengunduh lagu [bajakan :-p] dari internet atau hanya membeli potongan lagu seperti yang terjadi pada Ring Back Tone.

Akhirnya, sebagai seorang penyuka [yeah,minimal era sebelum mereka ‘pecah’], aku hanya bisa berharap, semoga apa yang sedang dijalankan oleh group ini, terlepas dari ide pribadi sang gitaris atau ide bersama yang dijalankan olehnya, bisa memberi gambaran akan apa yang sedang terjadi di musik Indonesia. Bahwa musik Indonesia merupakan sebuah industri. Dimana selera penikmat musik bisa bergeser. Pergeseran yang kalau tidak diantisipasi akan lekas membuat mereka hanya layak menjadi pengisi acara semacam Zona Memory, dan sejenisnya.

Akhirnya,tanpa Prasangka, aku hanya berharap,Semoga mereka Sudi Turun ke Bumi dan menemukan Lantai Dansanya. Sehingga Meski Tlah Jauh,mereka tidak hanya melagukan Terpurukku Disini, dan melantunkan Bahagia Tanpamu kepada penikmat musik Indonesia. Secepatnya mereka bisa Menjemput Impian dan mengulang sukses Jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *