Kondisi sedang tidak baik. Semakin hari, kondisi bukannya membaik. Rekor yang tidak pernah kita harapkan tercapai, akhirnya tercapai juga. Dua juta kasus! Empat belas ribu lima ratus tiga puluh enam kasus harian! Akhirnya bisa kita capai pada saat bersamaan! Membanggakan, TIDAK. Menyedihkan, IYA!

Entah apa yang ada dalam pikiran kita. Saat vaksinasi baru mulai, kita sudah pecicilan seolah vaksinasi adalah jalan keluar atas segalanya. Atas nama bosan di rumah saja selama setahun dipilih sebagai alasan. Silaturahmi dengan kerabat menjadi pembenar akan mobilitas masyarakat. Padahal kita tahu vaksinasi yang dilaksanakan juga masih jauh dari target yang direncanakan. Perdebatan tidak perlu masih dikedepankan. Argumen gak mutu, masih disampaikan. CUIH! 

Pakar bilang, tujuan vaksinisasi adalah tercapainya herd immunity. Bukan menghilangkan virus yang tidak terlihat itu!. Ketika tujuan itu belum tercapai, kita sudah mengobrak-abrik jalan untuk mencapainya. Merusak semua rencana yang ada. Memberantakkan semua yang belum terbangun. Pancasila kalian bilang? Kalau Tuhan belum berkehendak, tidak akan terjadi katamu. Makan kau prinsip itu sendiri. Jangan ajak-ajak orang. Kalau kau tidak bisa jaga diri sendiri, lantas berharap Tuhan mau menjaga? Peduli kepada sesama adalah salah satu pengamalan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Tidakkah kau sadari itu? Sekali lagi, kalau mau mampus jangan ajak orang lain. Bukan begitu pengamalan sila ketiga. Yang ada kita bersama-sama menjaga sebagai bangsa kita mencapai herd immunity. BEGU! 

Dulu kalian mengetahui berita duka melalui media. Sekarang mungkin kalian mendengar berita lelayu dari tetangga dua tau tiga rumah di sekitar kalian. Tidakkah membuatmu khawatir? Masih mau pecicilan seperti anak babi lepas dari kandang? LATTEUNG! 

Seiring meningkatnya jumlah korban, ruang perawatan juga menipis. Seberapa banyak pun uangmu, seberapa besar pertanggungan asuransimu, tak akan berarti ketika tidak ada ruangan tersedia buatmu!. Atau tenaga kesehatan mati sia-sia, hanya karena tingkah lakumu yang tidak seperti manusia. BORJONG!

Berharap kalau kau terpapar virus dulu untuk kemudian menangis membaca hasil PCR test, baru tersadar? Aku rasa tidak ada guna. Karena setelahnya kau akan membusungkan dada dan membanggakan diri sebagai penyintas yang bisa berkeliaran bebas. LONTONG! 

Kalau tidak mau bersama menjaga jalan menuju herd immunity, sila pindah negara. Aku dengar Filipina cocok buatmu. Eh tapi pak Dutarte juga bilang, “Get vaccinated or I’ll arrest you and inject it in your butt”. Pak Dutarte juga bilang ternyata, kurasa sila tinggalkan Filipina jika tak mau kerjasama menyelamatkan negara. Aku rasa memang tempatmu bukan di dunia. ENYAH SANA!

Semakin jelas kenapa negara kita tidak maju-maju. Para pemimpin, bukannya memimpin malah sibuk dengan urusan tari-tarian. Pemimpin sebuah Partai Oposisi bilang kalo pemimpin (pemerintahan) sekarang sedang menari poco-poco. Maju selangkah, mundur selangkah. Gak ada kemajuan. Kalaupun ada goyangan, sekedar memuaskan pandangan para penonton. Yang dikritik, memang tidak langsung membalas. Tapi balik membalas, melalui juru bicaranya dan partai pendukungnya. Main sindir-sindiran seperti bocah.

Susah juga. Yang satu, sepertinya tidak bisa menerima kekalahan dalam Pemilu terakhir, dan merasa mampu memimpin seandainya dahulu diberi kesempatan. Mungkin dia lupa kalau, beliau pernah diberi kesempatan memimpin. Meski hanya sebentar (karena menggantikan Presiden sebelumnya, yang dimakjulkan), dalam kampanyenya menyambut pemilihan Presiden pertama secara langsung, beliau menyingkap semua keberhasilan selama memimpin. Namun apa daya rakyat lebih memilih orang lain. Mustinya hal ini bisa jadi pelajaran.

Pemimpin yang menang, terlalu tipis telinganya. Terlalu cepat merespon sekala kritik terhadapnya. Bahkan merasa perlu melaporkan sendiri kepada polisi, atas nama pribadi seorang [mantan] anggota Dewan Perwakilan Rakyat, yang menurutnya telah mencemarkan nama baiknya. Namun, sikap yang sepertinya elegan itu ternyata tidak dilanjutkan pada waktu laporannya ditindaklanjuti aparat penegak hukum. Pelapor, dengan alasan kesibukan tugas negara tidak bisa datang ke Pengadilan sebagai saksi korban.

Ingat hal ini, aku ingat kalimat yang kira-kira berbunyi, “Kita tidak akan pernah menjadi seperti apa yang orang katakan”. Kita sendirilah yang menentukan siapa diri kita. bukan orang lain. Kenapa kita musti menghabiskan energi untuk memikirkan apa yang orang lain katakan?

Seorang teman dekat merasa perlu ‘membunuh’ blog yang dibangunnya cukup lama, karena beberapa teman lain sering membaca dan kemudian berkomentar miring terhadap beberapa postingannya. Seorang teman lain, bahkan bercerita dengan mata berkaca-kaca saat tau kalau dia dikatain sesuatu yang terus terang menyakitkan hati. Namun aku percaya dia tak seperti itu.

Diluar kedua teman tadi, ada seorang teman dekat lain yang berprinsip unik dan aku setuju dengan dia. Dia cerita, pernah bertemu dengan seorang teman baru di satu tempat. Namun sang teman baru itu seolah-olah tidak mengenal teman dekatku ini. Kepadaku dia berkata, “Emang gw pikirin kalo waktu itu dia sombong? Yang penting bukan dia yang memberi aku makan. Aku mencarinya sendiri”

Kira-kira seperti itulah prinsip yang sedari dulu aku jalani. Prinsip yang diajarkan oleh keluargaku. Peduli amat kata orang. Mari kita kerjakan hal yang sepatutnya kita kerjakan dengan sebaik-baiknya. Peduli amat kata orang. Toh bukan dia yang kasih kita makan. [kalimat terakhir ini biasanya Ibuku yang ngucapin] Sebab nasi yang kita makan, berasal dari “rice coocker !

Jadi daripada rajin mengkritik, mungkin ada baiknya pemimpin partai oposisi itu melakukan konsolidasi terhadap partainya. Cari penyebab dari, bagaimana bisa partai yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan anggota parlemen, kalah dalam pemilihan Presiden langsung. Bukankah sudah jelas, lebih banyak yang menyukai saingannya? Satu hal lagi, perasaan dulu waktu jadi pemimpin, beliau selalu menjawab lebih baik banyak bekerja daripada banyak bicara, waktu orang-orang mengkritik sikap diamnya. Kenapa hal itu gak berlaku?

Kepada pemimpin yang menang, kerja aja bos! Gak usah dipikirin suara satu dua orang. Ada puluhan juta yang memilih anda dalam pemilihan kemarin. Bukankah itu lebih dari cukup? Masak sampeyan lebih peduli suara segelintir orang daripada mayoritas pemilih anda? Kalau kerja anda bagus, tahun depan insya allah dipilih lagi. Ya kalo selama ini kerjanya gak bener, ya rakyat juga akan menghukum dengan memilih yang lain. Dan itu tak perlu ditakutkan karena, bukankah jabatan adalah amanah dan titipan dari Sang Pemberi Hidup?

Kepada teman dekat, teman lain, dan teman dekat lain, apapun sikap kalian, aku tetep sayang kalian :-D.

Bulan lalu, Mama khusus mengirim sms menanyakan apakah aku pernah bertemu dengan seorang teman SMP-ku yang kebetulan tinggal dekat rumah di Medan. Mama menanyakan ini kepadaku karena konon katanya sang teman bekerja di industri yang sama dengan tempatku bekerja. Bursa Efek!. Sebenarnya hal itu belum yang utama. Yang lebih menghebohkan tetangga di lingkungan kami itu, sang teman baru saja mudik untuk ‘meresmikan’ selesainya renovasi rumah yang ditinggali orang tuanya di Medan. Tidak cukup hanya membangunkan rumah yang katanya lumayan megah, sang teman juga membelikan sebuah Innova kepada orangtuanya dan dua buah angkot buat saudaranya. Sesuatu yang terus terang membuatku sempat kagum sekaligus khawatir.

Kagum karena menurutku sang teman berhasil membuat bangga orangtuanya. Karena usia kami yang sebaya menurutku kehidupan sang teman telah berada jauh di tingkat mapan. Saat aku baru bisa menabung sedikit untuk membeli rumah buat keluarga kecilku, sang teman telah jauh meninggalkanku dengan membangunkan rumah plus membeli perlengkapannya kepada orangtuanya. Saat itu, aku hanya bilang ke Mama kalau memang sang teman bekerja satu industri denganku aku bisa cari tahu keberadaan dia. Aku juga bilang saat ini orang sering rancu membedakan antara Bursa Efek dengan Bursa Berjangka. Namun aku berjanji untuk mencari tahu juga. Dan beruntung ada google. Aku berhasil ketemu dan berbicara melalui telepon dengan sang teman hanya dengan mengetik namanya di mesin pencari itu. Dugaan awalku benar. Dia bekerja di satu perusahaan yang menjadi anggota Bursa Berjangka.

Namun kekagumanku diikuti dengan rasa khawatir karena belakangan Bursa Berjangka menuai banyak berita miring. Banyak pihak yang merasa dirugikan dengan maraknya upaya penipuan yang mengatasnamakan instumen perdagangan di bursa berjangka. Semacam index Hang Seng, Future Trading dan sejenisnya. Namun aku mencoba menghilangkan kehawatiran itu dan tetap berpikir positip bahwa aku punya seoran teman yang hebat!. Aku berharap satu saat aku bisa bertemu dengan sang teman untuk sekedar berbagi cerita soal masa lalu dan sekarang.

Sampai kepada minggu lalu saat koran dipenuhi dengan headline soal menghilangnya seorang bernama Leonardus Patar Muda Sinaga dengan membawa serta keluarganya dan uang ‘nasabah’ sebesar 2 Triliun Rupiah !. Modus operandi yang digunakan bang Naga satu ini, tidak jauh berbeda dengan yang digunakan oleh QSAR serta Ibist yang juga sempat heboh itu. Dengan iming-iming memberi keuntungan 2 persen sebulan, bang Naga berhasil memikat ratusan orang yang ingin menggunakan jalan pintas untuk segera kaya. Sesuatu yang tidak masuk akal sehat saat perbankan hanya memberi bunga dibawah 10 persen setahun !.

Mendadak aku ingat lagi dengan sang teman. Aku ingat nama perusahaan tempat dia bekerja mirip dengan perusahaan bang Naga yang digunakan untuk menggalang dana besar itu. Ternyata benar. Keduanya masih dimiliki oleh bang Naga. Selain itu masih ada satu Perusahaan Efek yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

Kekhawatranku ternyata ada benarnya juga. ditambah dengan Minggu pagi aku membaca nama sang teman di harian Pos Kota. Bersama dengan Direkturnya, dia menjadi tersangka dan sedang diinterogasi di Polda Metro Jaya. Buru-buru aku menelepon ke Mama untuk mengabarkan soal ini. Mama kaget. Aku bilang ke Mama, tak apalah aku belum bisa membangunkan rumah megah untuk dia. Daripada aku harus ke Komdak dan menginap di sana. Si Mama hanya ketawa saja.

Mudah-mudahan apa yang terjadi dengan sang teman [juga bang Naga] menjadi yang terakhir terjadi di Republik ini. Sah-sah saja orang kepengen cepat kaya. Namun yang aku tahu selain mendapat warisan :-p, kerja keras hanyalah satu-satunya cara untuk mencapai apa yang sering disebut orang Kebebasan Finansial [jangan tanya aku maksudnya jargon ini :-)].

Kalau boleh memberi pesan, bila ingin berinvestasi ada banyak cara yang halal dan benar. Masih banyak pilihan masuk akal. Mulai dari menabung di bank, membeli properti, membeli emas, juga bisa berinvestasi di pasar modal atau pasar komoditas. Selain itu, satu yang paling penting diingat adalah hukum dasar investasi. High Risk, High Return. Tidak ada high return yang low risk.

Bila ingin belajar investasi di Pasar Modal, silahkan hubungi BEJ. Karena tiap hari Rabu ada kelas pengenalan Pasar Modal. Selain itu BEJ juga sedang promosi dengan slogan Tahu caranya, tahu resikonya pasti tahu keuntungannya !. Kalau tidak salah Bursa Berjangka Jakarta juga mempunya program serupa.

[untuk seorang teman yang sekarang jadi ‘tamu’ Kombes Carlo B. Tewu]

Nasihat Jiwaku

Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar mencintai semua orang yang membenciku dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.
Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku bahwa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai, tetapi juga orang yang dicintai.
Sejak saat itu bagiku cinta ibarat jarring lelabah di antara dua bunga, dekat satu sama lain; tapi kini dia menjadi suatu lingkaran cahaya di sekeliling matahari yang tiada berawal pun tiada berakhir, melingkari semua yang ada, dan bertambah secara kekal
Jiwaku menasihatiku dan mengajarku agar melihat kecantikan yang ada di sebalik bentuk dan warna. Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampaklah keelokannya.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.
Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia. Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan, Yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman ke zaman. Menyanyikan nada langit, dan menyingkap tabir rahasia keabadian…
Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar memuaskan kehausanku dengan meminum anggur yang tak dituangkan ke dalam cangkir-cangkir yang belum terangkat oleh tangan dan tak tersentuh oleh bibir.
Hingga hari itu kehausanku seperti nyala redup yang terkubur dalam abu; tertiup angin dingin dari musim-musim bunga; tetapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku, cinta menjadi anggurku, dan kesendirian adalah kebahagiaanku.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat; dan jiwaku menyingkapkan kepadaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita impikan.
(by Khalil Gibran)

Entah ada hubungannya dengan Pemerintahan Orde Baru [Pak Harto] atau tidak. Aku merasa hari ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sepuluh Nopember terasa biasa-biasa saja. Atau mungkin juga karena dulu selama sekolah setiap tahun diperingati dengan upacara bendera. Dan di televisi ditayangkan berbagai macam acara yang ada hubungannya dengan Pahlawan.

Sepuluh Nopember. Hari yang [dulu ?] disebut dengan Hari Pahlawan. Masihkah kini ? Masihkah ada yang mengingatnya. Masih bergunakah mengenang pertempuran arek Suroboyo 59 tahun yang lalu ? Masihkah ada pahlawan saat ini, minimal di negara ini ? Aku coba lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Apapun jawabannya, aku pikir saatnya mengucapkan terima kasih kepada mereka yang layak disebut pahlawan.

Sorry ! Tidak termasuk kepada Anggota DPR nich….