Orang lebih mengenalnya dengan nama Tompi daripada nama lengkapnya yang dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE. Bisa dimaklumi karena mungkin sebagian besar orang lebih dulu mengenalnya sebagai penyanyi dengan sembilan album. Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik ini juga aktif berpraktik di klinik kecantikan bernama Beyoutiful Aesthetic Clinic. Belakangan merk Beyoutiful merambah ke dunia perfilman dengan mengusung nama Beyoutiful Pictures. Perusahaan inilah yang menggarap Selesai yang mulai ditayangkan lewat layar daring (bioskoponline.com) sejak tanggal 13 Agustus 2021. Melalui film ini, Tompi kembali bekerja sama dengan Imam Darto (sebagai penulis skenario) setelah film Pretty Boys (2019).


Selesai berkisah tentang problem yang biasa dihadapi rumah tangga. Soal perselingkuhan. Sebagaimana biasanya perselingkuhan dalam rumah tangga, biasanya berujung pada pertengkaran. Satu pihak yang merasa dirugikan akan meminta cerai. Setidaknya pisah. Apakah perpisahan akan terjadi atau berakhir dengan rujuk, itulah yang ingin diceritakan pada film ini. secara gambaran besar tidak berbeda dengan film megenai perselingkuhan yang terjadi dalam rumah tangga.


Namun berbeda dengan film Indonesia lain dengan pemain (dan pendukung) yang lumayan banyak, film ini hanya dimainkan oleh tujuh pemain utama. Ada Ariel Tatum (Ayudina Samara), Gading Marten (Broto Hadisutedjo), Tika Panggabean (Yani), Anya Geraldine (Anya), Marini Soerjosoemarno (Sriwedari Hadisutedjo), Farish Nahdi (Dimas Hadisutedjo), Imam Darto (Bambang). Selain perbedaan pemeran, perbedaan lainya juga terletak pada set film. Selesai tidak banyak mengambil lokasi. Praktis hanya pada satu rumah saja. Ruangan yang ada pada rumah itulah secara bergantian menjadi lokasi cerita. Mulai dari kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, dapur, ruang belakang dan kamar pembantu. Sedikit adegan pada halaman depan. Mungkin itu merupakan tuntutan cerita atau karena film ini dibuat saat kondisi pandemi.


Entah karena sang sutradara juga seorang fotografer atau keterbatasan set dalam cerita, sinematografi sepanjang film terlihat manis. Enak untuk dinikmati. Layaknya menikmati jepretan kamera. Mengingat setting hanya berlangsung pada berbagai ruang dalam sebuah rumah, pencahayaan diatur sedemikian rupa. Menurut sang sutradara, diatur sedemikian rupa seturut kondisi saat adegan terjadi. Pagi, siang sore atau malam. Bahkan untuk adegan di kamar pembantu yang dibuat bukan hanya tempelan cerita namun bagian dari keseluruhan cerita.


Meskipun pengambilan gambar dilakukan hanya pada sebuah rumah, pemilihan rumah untuk menjadi lokasi syuting juga ternyata memberi keuntungan dalam penggambarannya. Lihat saja bagaimana setelah Broto dan Ayu berantam hebat. Keduanya duduk terpisah namun kamera bisa mempertontonkan keterpisahan mereka dalam satu frame tanpa harus diedit. Demikian juga setting waktu kejadian, yang mungkin hanya terjadi dalam dua atau tiga hari saja. Kalaupun lebih lama dari itu, digambarkan dengan beberapa adegan flashback saja.


Gading Marten yang sempat diledek dengan, modal garuk biji atau berkolor saja bisa dapat Citra, lewat perannya dalam Love For Sale (2018) seperti mengulang perannya tersebut dalam beberapa adegan. Baik ketika bangun tidur, mandi maupun ketika sedang diskusi mencari solusi dengan Anya. Yang menarik adalah beberapa adegan ‘dewasa’ yang terjadi. Mulai dari Gading mandi, adegan bercintanya Gading baik dengan Ayu atau Anya, apakah kalau ditayangkan di bioskop normal, bakal kena sensor? Entahlah.

Ariel dan Anya mungkin pemain baru dalam film Indonesia. Namun rasanya peran yang mereka mainkan pas saja. Ayu layaknya wanita Jawa yang nurut pada suami, meski kadang suka meledek suami sendiri soal lupa kunci mobil misalnya. Anya yang memerankan wanita ‘penggoda’ tidak harus berdandan menor atau mengucap kata vulgar. Marini yang sudah lebih dulu bermain film dari mereka semua juga memperlihatkan senioritasnya. Dan seperti biasa menjalankan peran seabgai ibu yang bijaksana dengan beberapa selipan dialog yang kocak. Karena memang film ini bergenre drama komedi. Bagian komedi ini yang diambil oleh Tika Panggabean dan Imam Darto. Bahkan tato yang dalam kenyataannya ada di lengan Tika Panggabean, diolah oleh Imam Darto dengan baik. Rasa komedinya juga terasa ketika ada adegan logika bengkok ala Srimulat diselipkan dalam film ini. Alih-alih membuka gerbang ketika nyonya rumah mengklakson di depan pagar, Yani (Tika Panggabean) malah meminta Broto, tuannya untuk membukakan pagar bagi nyonya. Karena dia sedang sibuk di dapur. Absurd! Hahahaha..

Secara keseluruhan film berdurasi satu jam 22 menit ini cukup menghibur. Sedikit kekurangan film ini menurutku hanyalah pada cara menggambarkan ibu Hadisutedjo mengumpulkan potongan informasi (puzzle) yang dia miliki dalam mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Broto. Selebihnya sih asyik. Pada akhirnya penonton akan bertanya, apakah perselingkuhan yang biasa terjadi dalam rumah tangga, berakhir seperti film ini?

Oh ya, pemilihan lagu Nurlela yang pernah dipopulerkan oleh almarhum Bing Slamet dan dilantunkan kembali oleh Trio Lestari (Tompi, Sandhy Sondoro dan Glenn Fredly), pada akhir film cukup menarik.

Selamat kepada dokter Tompi dan Imam Darto.

“Pa, kenapa papi gak marah waktu Gabriel bilang pernah ambil duit papi, diam-diam?” tanya anak bungsuku kepadaku ketika kami berdua sedang membersihkan soliter cupang pada sebuah Sabtu. Aku menjawab, “Untuk apa papi marah? Yang penting Gabriel sudah mengakui dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi kan? Kataku padanya. “Iya, sih” jawabnya. “Selain itu, juga mungkin Gabriel perlu uang itu untuk jajan dan papi lupa memberinya kepada Gabriel. Selanjutnya kalau butuh uang untuk jajan, Gabriel bisa minta kepada papi. Papi pasti kasih kepada Gabriel” “Apakah dulu Ompung Jansen begitu juga kepada papi?” tanyanya melanjutkan diskusi kami. Ompung Jansen adalah sebutannya untuk almarhum Bapak. “Betul! Sahutku. Ompungmu mengajarkan seperti itu dan itu yang papi ajarkan kepada kalian anak-anak papi. Kepada Gabriel, kepada Abang” sahutku sambil kami terus membersihkan dan mengganti air di soliter cupang kami yang tidak seberapa itu.


Memang dua malam sebelumnya ketika hendak tidur, aku dikagetkan ketika dia mendadak terisak dan meminta maaf padaku. Ketika aku tanya kenapa, dia mengaku ketika kelas empat, beberapa kali mengambil uangku yang suka aku letakkan di meja di dalam kamar kami. Biasanya lembaran dua puluh ribuan atau kurang. Karena aku punya kebiasaan, uang yang masuk dompet hanyalah pecahan lima puluh ribuan dan seratus ribuan.


Selasa malam, giliran abangnya yang teman-teman (dan aku) kagum. Bergabung sebagai pembicara (speaker) pada sebuah ruang bicara di Clubhouse yang membahas anak sulung, si Abang bercerita bagaimana dia melihat posisinya sebagai anak sulung di keluarga. Atas pertanyaan apakah anak sulung merupakan previlese atau beban buatnya, dengan lancar dia bercerita kalau buat dia itu fifty-fifty. Bisa sebagai beban bisa sebagai previlese. Dia bercerita kalau sebagai anak sulung dia punya beban untuk selalu menjadi panutan buat adik satu-satunya. Menjadi tempat bertanya. Menjadi tempat bercerita. Dia juga bilang kadang merasa bangga sebagai abang ketika teman-temannya kagum melihat adiknya pintar berbahasa Inggris sejak dini. Berbeda dengan dia. Sikap-sikap sebagai anak sulung yang baik diceritakan dengan runut di ‘hadapan’ mereka yang jauh lebih dewasa. Padahal dia baru mau masuk kuliah tahun ini.


Ketika moderataor ruang bicara bertanya, apakah hal tersebut dia dapatkan karena diajarkan oleh orang tuanya, si Abang bercerita jarang sekali papinya memberi arahan ini dan itu terkait hubungan abang adik. Memang beberapa kali papi bercerita bagaimana dia dengan adik-adiknya, kata si Abang. Namun selebihnya papi (ayah saya dia manyebutnya) lebih banyak mengajarkan lewat gesture saja kepada kami anak-anaknya, katanya.
Seperti itulah yang aku ajarkan (atau tunjukkan) kepada anak-anak. Kebetulan keduanya lelaki. Hal sama yang aku terima dari almarhum Bapak. Sebagai Bapak dan anak, kami memang tidak pernah bercerita secara khusus membahas sesuatu sebagaimana biasa aku lakukan kepada kedua jagoanku. Namun Bapak memberi contoh dengan perbuatan. Tanpa bermaksud menggurui. Itu yang aku tiru. Termasuk belajar dan mencintai budaya Batak sebagaimana aku lakukan aktif di ruang bicara Mandok Hata di cluhouse itu.


Seingatkau Bapak juga jarang sekali marah kepada kami anak-anaknya. Kalau Gabriel mengejek bahasa Inggrisku yaang berantakan, yang beberapa kali didengarkannya ketika aku meeting dengan orang asing, selama satu setengah tahun lebih karena aku work from home, aku cuma bilang, “Mungkin itulah kesalahan papimu ini. Ketika dulu masih kecil papi disuruh untuk les bahasa Inggris, papi tidak menuruti permintaan Ompung Jansen”, kataku. “Ompung Jansen juga dari awal menyarankan papi kuliah jurusan Akuntansi, tapi papi ambil manajemen”, kataku. “Terbukti sekarang Ompung kalian itu visioner. Karena dua yang disarankannya masih relevan sampai sekarang”, tambahku kepada dua jagoan itu.


Memang begitulah Bapak yang kukenal. Tidak pernah memaksakan kami anak-anaknya untuk melakukan ini dan itu. Beliau hanya mengarahkan. Selanjutnya pilihan kembali pada kami anak-anaknya. Selama pilihan itu dapat dipertanggung-jawabkan. Itu saja pesannya. Pesan yang sama yang juga aku sampaikan kepada sulungku ketika memilih jurusan kuliah. Aku tidak mengarahkan apalagi memaksakan dia untuk ambil jurusan yang aku maui.


Terima kasih atas ajaranmu pak. Anak si Jujung Baringin mu ini sampai sekarang masih terus belajar bagaimana menjadi anak siangkangan. Menjadi bapak bagi adik-adik. Semoga membanggakanmu. Sebagaimana aku bangga pada dua cucumu yang tidak sempat kau kenal ini.
Tenang di sana dan selamat ulang tahun, ya!

Apa yang ditunggu investor Indonesia akhirnya terwujud. Satu unicorn lokal akhirnya melakukan penawaran umum saham. Menjual sebagian saham mereka kepada publik dan kemudian tercatat di Bursa. Euphoria pun terjadi.


Jauh sebelum tercatat di Bursa, banyak yang menanyakan kabar kapan akhirnya perusahaan ini (dan perusahaan sejenis) akan tercatat di Bursa. Entah terbawa suasana tercatatanya perusahaan sejenis di Bursa luar atau mungkin mereka tidak sabar untuk membeli dan kemudian menjadi pemilik perusahaan rintisan bernilai satu miliar dollar amerika. Ketika beberapa hari sebelum perusahaan itu tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan turun yang mengindikasikan banyak aksi jual di pasar, banyak yang bilang investor sedang butuh uang tunai untuk belanja (membeli saham) perusahaan itu.


Ketika akhirnya mereka siap untuk memulai proses initial public offering, permintaan melonjak. Dengan kondisi over subscribe (kelebihan permintaan) 8 kali. Konon terdapat 100 ribuan investor yang memesan meskipun akhirnya hanya 90 ribuan yang mendapat penjatahan. Tidak sedikit yang mengeluh karena tidak kebagian di pasar perdana. Mereka berjanji akan membeli di pasar sekunder. Mungkin sambil mambayangkan keuntungan yang sudah di depan mata.


Pada hari pertama tercatat, sebagaimana biasa perusahaan yang baru tercatat, harga sahamnya melejit. Ditutup pada harga Rp1.060,00 yang jika dibandingkan dengan harga penawaran perdana yang Rp850,00 naik sekitar 24,71%. Tidak ada investor yang mau menjual sahamnya. Tidak ada antrian di sisi kanan (menjual). Semua antrian ada di sebelah kiri (membeli). Demikian juga kondisi pada hari kedua. Sepertinya euphoria masih ada. Harga tertinggi sempat menyentuh level Rp1.325,00. Jika pada hari pertama tercatat nilai transaksinya hanya sekitar 500 an miliar, tidak demikan pada hari kedua. Nilai transaksi mencapai 4,4 triliun rupiah! Mungkin ini disebabkan, mereka yang tidak kebagaian di pasar perdana, sedang belanja. Perburuan harus dilanjutkan.


Tidak demikian dengan hari ketiga. Keadaan berbalik. Antrian berada di sebelah kanan. Investor ramai-ramai menjual. Dampaknya harga saham turun. Ditutup pada harga Rp1.035,00 meskipun sempat mencapai harga tertinggi Rp1.160,00 dengan nilai transaksi yang hanya berkisar 1 triliun rupiah. Sebagian mengatakan, harganya diselamatkan oleh batas bawah auto rejection yang lebih kecil dibanding batas atasnya. Kalau tidak harga saham perusahaan itu akan kembali pada harga perdana, kata mereka. Yang kalau diteruskan bisa jagi bahkan lebih rendah. Ternyata keriuhan hanya bertahan dua hari. Apa yang terjadi. Entahlah. Biar investor dan analis yang menilai.


Dari sisi aplikasi yang menjadi andalan mereka, investor memberi ‘hukuman’ terhadap perusahaan tersebut. Dengan beramai-ramai memberi rating satu. Bisa jadi ini ulah mereka yang merasa dirugikan oleh pergerakan harga saham dalam tiga hari perdagangan. Kasihan.
Entah apa yang ada di benak investor kita. Saat belum tercatat, saban hari bertanya kapan tercatat. Ketika sudah tercatat, malah dilepeh. Dibuang di pasar sehingga harga turun. Ketika harganya turun, mungkin yang kadung membeli di harga 1.300an dan tersadar aset mereka hilang dalam hitungan hari (jam?). Karena ternyata harganya longsor.


Padahal ketika menawarkan saham kepada publik, perusahaan sudah buka-bukaan soal kondisi mereka. Bentuk bisnisnya seperti apa, ke depannya akan seperti apa, kondisi keuangannya seperti apa. Bukankah membeli perusahaan adalah membeli masa depan? Beli sekarang dengan harapan pada masa mendatang perusahaan akan berkembang dan membesar. Dengan demikian nilai perusahaan juga ikut membesar. Hal tersebut akan tercermin pada harga saham yang naik. Idealnya begitu. Kalau tidak yakin dengan masa depan perusahaan, ada pilihan untuk tidak membeli. Karena tidak ada paksaan dalam membeli (saham) perusahaan. Semua kembali pada keputusan sendiri. Kapan hendak membeli dan kapan akan menjual.
Selain itu penting juga memahami kalau uang yang digunakan untuk berinvestasi haruslah uang dingin. Bukan uang belanja dapur. Sehingga ketika berharap untuk meraih untung ketika membeli pada harga tinggi dengan harapan harga akan naik lebih tinggi, malah amsyong karena kenyataan berkata sebaliknya, tidak ada penyesalan.


Semoga meningkatnya ketertarikan untuk mulai berinvestasi melalui pasar modal (saham), juga diiringi dengan peningkatan pemahaman akan itu semua. Sejatinya hasil investasi tidaklah diperoleh dalam waktu semalam. Paham, Punya, Pantau.

Jagat politik Indonesia sedang hangat. Di tengah penanganan pandemi Covid-19 yang masih terengah-engah. Diantara angka statistik yang naik dan turun mirip Indeks Harga Saham Gabungan. Mungkin pemanasan menuju 2024. Sebentar. Bisanya pemanasan (entah dalam rangka olah raga atau memanaskan mesin) dilakukan sesaat sebelumnya ya. Bukan jauh hari.

Negara memang sedang mengalami kondisi pandemi. Namun bukan alasan untuk partai dan tokoh politik untuk berhenti saling mengkritik. Sisa pemilu dan pilkada (DKI Jakarta) terakhir masih terasa. Mereka yang menyebut dirinya oposisi akan menelanjangi kinerja pemerintah yang sedang bekerja. Yang sedang bekerja menunjukkan hasil kerja lewat fluktuasi angka korban terpapar maupun penurunan jumlah korban. Terakhir angka pertumbuhan ekonomi seolah menjadi melegitimasi.

Prestasi ganda putri kita meraih medali emas bulu tangkis pada Olimpiade Tokyo 2020 digunakan sebagai tunggangan. Tidak butuh waktu lama, wajah politisi, entah anggota DPR, pejabat pemerintah, maupun pengurus partai berseliweran di linimasa media sosial. Kenapa tunggangan, karena ternyata lebih banyak yang menonjolkan wajah pemberi selamat. Bukan sang peraih medali. Hal sama sebelumnya juga terjadi di Filipina.

Pengusaha papan reklame juga sedang kebanjiran pesanan. Datang silih berganti dari tokoh (partai) berbeda. Baliho wajah ketua umum bertebaran di sudut jalan. Sekadar mempertontonkan wajah atau memberitahu kinerja kepada masyarakat. Entahlah. Bahkan ada yang terang-terangan menulis angka ‘keramat’ 2024 pada balihonya. Sudah pasti arah yang dituju. Minimal pengusaha papan reklame punya kerjaan. Pemerintah memperoleh pendapatan dari pajak reklame yang dibayarkan. Bayar gak ya? Hmm..

Bisa dimaklumi. Mesin memang harus dipanaskan untuk bertarung pada pemilihan umum mendatang. Petahana, sudah menjabat dua periode. Sesuai batas waktu sebagaimana diatur konstitusi, sudah tidak memiliki kesempatan maju lagi. Meski sempat beredar wacana untuk memberi perpanjangan waktu, ide itu kemudian perlahan menghilang. Entah karena petahana sudah menyampaikan tiada niat dan tidak tertarik atau karena oleh sang pemilik ide sedang dimatangkan kembali.

Diluar angka statistik dan baliho, ada hal baru lagi yang didiskusikan. Soal warna pesawat kepresidenan. Dahulu didominasi warna biru, berubah menjadi warna merah. Ada yang bilang ini terkait dengan partai penguasa. Sebagaimana diketahui, pesawat kepresidenan dibeli ketika partai mercy sedang berkuasa. Pesawat dibeli menjelang berakhirnya dua periode jabatan. Konon katanya hanya pernah dipakai sekali sebelum akhirnya pengganti yang menggunakannya. Sekarang partai banteng sedang berkuasa. Dan warna diubah menjadi merah sesuai warna partai.

Kenapa baru dilakukan sekarang? Apakah tidak bisa ditunda? Saat ini pandemi dan butuh biaya banyak. Konon katanya, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp2 miliar. Untuk ukuran angka memang terlihat besar. Namun jika dilihat dari tujuan biaya sebesar itu untuk satu pesawat, mungkin memang tidak terlalu besar. Coba dibandingkan dengan biaya untuk mobil kelas sultan. Selain itu, pemerintah menyampaikan tidak ada hubungan dengan hal lain selain soal perawatan rutin. Pembaruan dan perawatan pesawat kepresidenan sudah dianggarkan sejak tahun 2019. Pandemi yang menyerang tahun lalu, membuat rencana perawatan dan perubahan warna itu baru direalisasikan tahun ini.

Karena yang banyak menghebohkan soal cat baru pesawat ini (setidaknya pantauan di linimasa) berasal partay mercy yang dulu membeli, ada hal menarik di tengah itu semua. Mendadak (?) saat riuh soal warna cat pesawat, beredar kabar kalau sang ketua dewan pembina mereka yang hanya sempat menggunakan satu kali pesawat kepresidenan, ternyata sedang bermain dengan cat. Sedang belajar melukis. Berita itu dilengkapi dengan sang ketua dewan pembina di samping lukisannya.
Aku tidak tahu apakah ini berhubungan atau tidak. Pikiran nakalku sedang bertanya. Apakah ini merupakan pertontonan cara politik Jawa yang katanya kuat bermain dengan simbol? Entahlah.

Aku membayangkan, dari arah Cibubur sedang menyampaikan pesan, “Mbok ya kalau sedang suka bermain cat, mending bikin lukisan yang indah gitu lho, bukan mengecat ulang pesawat”

Wallahuallam….namanya juga pikiran nakal, yekan?

anonim /ano·nim/ a 1 tanpa nama; tidak beridentitas; awanama; 2 Sos tidak ada penandatangannya

Seminggu terakhir di clubhouse, sedang ramai mengenai akun anonim. Sependek pemahamanku, pemicunya adalah adanya satu akun yang membuat room (ruang bincang) dengan judul provokatif dan akhirnya menyinggung atau dianggap melecehkan satu kelompok (pekerja seni) tertentu. Selain itu ada juga kejadian dimana satu akun (anonim) ditengarai melakukan pelecehan terhadap pengguna lain (lawan jenis).

Saat ruang bincang berjudul provokatif, ada pengguna yang meninggalkan ruang bincang untuk kemudian membuat ruang bincang baru untuk membahasnya. Demikian juga setelah terkuaknya kejadian (yang diduga) pelecehan. Ada ruang bincang yang dibuka untuk membahasnya. Memberi dukungan untuk ‘korban’. Hal ini terjadi beberapa kali, beberapa hari. Perbincangan yang pro kepada pengguna anoim, dan yang kontra terhadap anonim. Dan tetap saja ramai. Banyak pendengar.

Seolah masih berhubungan, ternyata ada kesamaan diantara dua peristiwa itu meski berbeda kasus. Keduanya melibatkan pengguna anonim. Mereka yang tidak menggunakan nama asli sebagai nama pengguna (setidaknya aku perhatikan demikian). Setelah itu, silih berganti ada saja ruang bincang yang dibuka untuk membahasnya. Ada apa dibalik akun anonim?
Sejatinya berinteraksi melalui media sosial sama saja seperti berinteraksi langsung. Masing-masing pengguna dapat berinteraksi satu sama lain. Yang membedakan dengan interaksi langsung adalah, pada media sosial ada pilihan untuk tidak menunjukkan wajah asli kita. Menggunakan akun yang disebut akun anonim. Semacam menggunakan topeng dalam berinteraksi langsung.

Apakah salah? Dari sisi kenyamanan interaksi, pengguna akun anonim misalnya beralasan dia mau berinteraksi tanpa lawan mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Alasan tidak enak dengan latar belakangnya, tempat kerjanya, dan seterusnya. Mereka tidak mau apa yang disampaikannya pada media sosial dianggap mewakili kelompok atau tempat dia bekerja misalnya. untuk ini pada biodata pengguna sebenarnya ada pilihan untuk membuat semacam ingkaran (disclaimer) bahwa apa yang disampaikannya merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili institusi. Dan selanjutnya ketika kelak ada yang menganggap apa yang disampaikannya merupakan pendapat institusi tempat dia bekerja, dia bisa berkelit dan menunjukkan ingkaran tadi. Meskipun seringkali soal ini masih banyak yang tidak bisa memisahkan dan memberi sekat yang jelas.

Dari ruang bincang yang sempat aku ikuti, ada juga pengguna akun anonim yang menyampaikan alasan ‘mulia’. Mereka menggunakan akun anonim, karena mereka tidak mau orang lainmendengar pendapat mereka hanya karena melihat siapa dirinya. Orang terkenal semacam selebirita atau pejabat misalnya. Mereka berharap perbincangannya egaliter saja. Dalam posisi yang setara. Masuk akal. Budaya kita masih belum bisa menerima egaliter sepenuhnya.

Dari sisi lawan interaksi, selama dia nyaman untuk ‘berbicara’ dengan orang yang menggunakan topeng, sah saja. Itu adalah pilihan yang harus diputuskan sebelumnya. Jika tidak nyaman, dia bisa minta lawan interaksinya untuk membuka topengnya terlebih dahulu. Kalau memang lawannya tidak mau membuka, pilihannya adalah terus berinteraksi dengan dia yang bertopeng atau menyudahinya saja.

Namun dari sisi lain, penggunaan akun anonim seolah membuat penggunanya bebas melakukan apa saja. Karena ketika dia melakukan kesalahan misalnya, dia bisa bersembunyi dibalik akun anonim tersebut. Atau lenyap dan membuat akun anonim baru ketika sudah ada masalah.

Menurutku sah saja seseorang berinteraksi dengan topeng (menggunakan akun anonim di media sosial), selama itu membuatnya nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Menjadi salah dan tidak bisa dibenarkan ketika topeng itu digunakan untuk melakukan perbuatan yang tidak semestinya. Menghina atau menipu orang misalnya. Walaupun tidak tertutup kemungkinan menghina dan menipu orang lain, bisa saja dilakukan dengan menggunakan akun non anonim.

Namun bukankah sebenarnya media sosial itu juga bentuk dari sebuah topeng dari dunia nyata kita? Kita tidak pernah bisa memastikan seratus persen, sebuah akun yang menggunakan nama (seolah) asli benar-benar sama dengan identitas pemiliknya. Karena ketika membuat sebuah akun media sosial, kita diberi kebebasan untuk memilih nama pengguna dan nama yang berbeda dengan nama asli kita.

Fenomena akun anonim ini bukan hal yang baru dan hanya terjadi di clubhouse. Juga terjadi pada media sosial lain yang ada lebih dahulu. Semacam twitter, facebook atau instagram. Merupakan hal biasa. Ini bisa terjadi untuk akun yang tujuannya tidak mewakili satu orang atau organisasi tertentu. Untuk keperluan literasi misalnya. Atau gossip? Kita masih ingat, akun anonim ini juga bertebaran pada saat pemilihan umum yang terjadi. Baik pilpres atau pilgub. Tujuannya bisa beragam. Selain untuk memberikan kampanye (baik atau buruk) juga untuk menaikkan satu topik menjadi trending.

Jadi, ya santai saja menyikapi akun anonim. Kalau darinya kita beroleh manfaat, sila ikuti atau bahkan berinteraksi. Namun jika sudah tidak ada manfaat atau malah merugikan. Kita bebas untuk tidak mengukitinya (unfollow) atau bahkan membloknya. Meniadakan dia dari hadapan kita di media sosial. Semudah itu. Tanpa perlu menghabiskan energi membahasnya.