Namanya Monang Parlindungan Ambarita, biasa disingkat M.P. Ambarita. Awalnya beliau berpangkat Brigadir Polisi Satu, sehingga dikenal dengan nama Briptu Ambarita. Sekarang bang Ambar sudah promosi menjadi Ajun Inspektur Polisi Dua dan dipanggil Aipda Ambarita.

Awal tahu bang Ambar (begitu dia disapa) lewat acara variety show bertajuk The Police pada stasiun tv Trans7. Acara yang menunjukkan upaya dia dan timnya yang tergabung dalam Raimas Backbone kepolisian resort (Polres) Jakarta Timur. Raimas sendiri singkatan dari pengurai massa. Bang Ambar memimpin Raimas Backbone sejak tahun 20217.

Dari The Police, kita tahu mereka melakukan patroli ketika hari telah gelap. Menyusuri wilayah hukum Polres Jakarta Timur menggunakan sepeda motor, sampai pagi menjelang. Karena merupakan acara televisi, patroli mereka diikuti oleh kameramen dan tim televisi pemilik siaran. Sesuatu yang juga dilakukan oleh televisi lain dengan nama berbeda. Mungkin karena aksi para penegak hukum ini menarik perhatian publik. Sesuai namanya yang variety show, apa yang terjadi di lapangan disiarkan kepada publik apa adanya. Mungkin dengan beberapa edit disana-sini. Sah saja.

Dalam tayangan yang diunggah melalui youtube, sering Raimas menemukan pelaku kejahatan berdasar insting bang Ambar. Mungkin karena punya pengalaman panjang sebagai reserse di kepolisian daerah Metro Jaya. Ketika sedang patroli dan melihat ada pemuda yang gerak geriknya mencurigakan, dia akan memberhentikan dan memeriksanya. Melakukan penggeledahan dan bisa berakhir ternyata yang diberhentikan merupakan pelaku kejahatan atau terindikasi sedang berniat melakukan kejahatan.

Satu kejadian yang sempat viral adalah ketika Raimas menemukan pengendara sepeda motor yang tidak membawa surat lengkap. Pada video yang tayang 29 Oktober 2019 dan telah ditonton 26,6 juta kali itu bang Ambar terlihat bersitegang dengan pengendara sepeda motor yang mengaku keluarga anggota DPR. Sebelumnya sang pengendara justru ‘menantang’ bang Ambar dengan mengatakan akan meminta anggota Paspampres untuk mengambil motor yang dibawa ke kantor polisi sektor Cakung. Mungkin karena terpancing dan dijawab dengan nada tinggi lebih dahulu, terlihat bang Ambar memang menjawab dengan nada tak kalah tinggi.

Pernah ada kejadian lucu juga. Ketika Raimas menggrebek satu perjudian. Setelah melakukan interogasi bang Ambar justru merasa malu ketika dari informasi yang diperoleh, ada satu perempuan yang ternyata semarga dengannya. Boru Ambarita kata para pelaku. Lucu melihat responnya (menit ke-tiga). Selain itu ada juga kejadian dimana Raimas mengamankan penjualan minuman keras kepada anak di bawah umur. Meskipun sang ibu yang berjualan dan dimarahin oleh bang Ambar menggunakan bahasa daerah yang sama dengan bang Ambar (bahasa Batak), dia bergeming.

Soal membuka handphone, bukanlah hal baru yang dilakukan bang Ambar. Seringkali gerak gerik mencurigakan yang dilanjutkan dengan penggeledahan, dilanjutkan dengan mencari informasi lewat handphone milik mereka yang diperiksa. Mungkin karena yang diperiksa kebanyakan remaja tanggung dan memang dalam kondisi bersalah, mereka tidak menunjukkan perlawanan. Bukan sekali dua jejak kejahatan ditemukan lewat aplikasi percakapan di handphone. Dan pernah juga awalnya hanya memberhentikan remaja tanggung yang mengendarai sepeda motor dari hasil pemeriksaaan, diketahui kejahatan yang lebih besar yaitu pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

Menarik sebenarnya mengikuti aksi Raimas Backbone, melalui akun youtube Trans7. Entah karena kontrak dengan televisi tersebut sudah berakhir atau ada alasan lain, Raimas akhirnya memiliki akun youtube sendiri. Bertajuk Raimas Backbone Official yang per 20 Oktober 2021 sudah memiliki 1,4juta subscriber. Bahkan sudah mampu menutupi biaya operasional tim tersebut. Mungkin juga pengalaman membuktikan kalau media sosial bisa dibuat sebagai alat sosialisasi tugas polisi, sekaligus menambah dana buat operasional. Sah saja.

Beberapa hari terakhir, nama bang Ambar kembali viral. Bukan semata lantaran aksinya sebagaimana biasa disaksikan melalui youtube. Namun karena beliau dipindahkan ke divisi humas Polda Metro Jaya. Selain dimutasi, bang Ambar juga diperiksa oleh Bidang Propam Polda Metro Jaya. Hal tersebut konon karena aksinya yang membuka handphone dianggap tidak pantas dan melanggar prosedur yang ada. Soal membuka handphone ini menjadi viral. Entah karena saat ini polisi sedang menjadi sorotan, atau karena yang diperiksa handphone-nya memang berniat membuat menjadi viral.

Apapun yang menyebabkan bang Ambar dimutasi untuk kemudian diperiksa, lewat aksinya kita bisa melihat polisi dalam menjalankan tugasnya mengamankan masyarakat apa adanya. Mencegah terjadinya tindakan kejahatan. Banyak yang suka dengan gayanya memeriksa dengan ceplas ceplos. Demikian juga mungkin sebaliknya, ada yang tidak suka dengan cara interogasi dan mengumpulkan informasi di lapangan yang dianggap kelewatan.

Tetap semangat lae Ambarita.

Orang lebih mengenalnya dengan nama Tompi daripada nama lengkapnya yang dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE. Bisa dimaklumi karena mungkin sebagian besar orang lebih dulu mengenalnya sebagai penyanyi dengan sembilan album. Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik ini juga aktif berpraktik di klinik kecantikan bernama Beyoutiful Aesthetic Clinic. Belakangan merk Beyoutiful merambah ke dunia perfilman dengan mengusung nama Beyoutiful Pictures. Perusahaan inilah yang menggarap Selesai yang mulai ditayangkan lewat layar daring (bioskoponline.com) sejak tanggal 13 Agustus 2021. Melalui film ini, Tompi kembali bekerja sama dengan Imam Darto (sebagai penulis skenario) setelah film Pretty Boys (2019).


Selesai berkisah tentang problem yang biasa dihadapi rumah tangga. Soal perselingkuhan. Sebagaimana biasanya perselingkuhan dalam rumah tangga, biasanya berujung pada pertengkaran. Satu pihak yang merasa dirugikan akan meminta cerai. Setidaknya pisah. Apakah perpisahan akan terjadi atau berakhir dengan rujuk, itulah yang ingin diceritakan pada film ini. secara gambaran besar tidak berbeda dengan film megenai perselingkuhan yang terjadi dalam rumah tangga.


Namun berbeda dengan film Indonesia lain dengan pemain (dan pendukung) yang lumayan banyak, film ini hanya dimainkan oleh tujuh pemain utama. Ada Ariel Tatum (Ayudina Samara), Gading Marten (Broto Hadisutedjo), Tika Panggabean (Yani), Anya Geraldine (Anya), Marini Soerjosoemarno (Sriwedari Hadisutedjo), Farish Nahdi (Dimas Hadisutedjo), Imam Darto (Bambang). Selain perbedaan pemeran, perbedaan lainya juga terletak pada set film. Selesai tidak banyak mengambil lokasi. Praktis hanya pada satu rumah saja. Ruangan yang ada pada rumah itulah secara bergantian menjadi lokasi cerita. Mulai dari kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, dapur, ruang belakang dan kamar pembantu. Sedikit adegan pada halaman depan. Mungkin itu merupakan tuntutan cerita atau karena film ini dibuat saat kondisi pandemi.


Entah karena sang sutradara juga seorang fotografer atau keterbatasan set dalam cerita, sinematografi sepanjang film terlihat manis. Enak untuk dinikmati. Layaknya menikmati jepretan kamera. Mengingat setting hanya berlangsung pada berbagai ruang dalam sebuah rumah, pencahayaan diatur sedemikian rupa. Menurut sang sutradara, diatur sedemikian rupa seturut kondisi saat adegan terjadi. Pagi, siang sore atau malam. Bahkan untuk adegan di kamar pembantu yang dibuat bukan hanya tempelan cerita namun bagian dari keseluruhan cerita.


Meskipun pengambilan gambar dilakukan hanya pada sebuah rumah, pemilihan rumah untuk menjadi lokasi syuting juga ternyata memberi keuntungan dalam penggambarannya. Lihat saja bagaimana setelah Broto dan Ayu berantam hebat. Keduanya duduk terpisah namun kamera bisa mempertontonkan keterpisahan mereka dalam satu frame tanpa harus diedit. Demikian juga setting waktu kejadian, yang mungkin hanya terjadi dalam dua atau tiga hari saja. Kalaupun lebih lama dari itu, digambarkan dengan beberapa adegan flashback saja.


Gading Marten yang sempat diledek dengan, modal garuk biji atau berkolor saja bisa dapat Citra, lewat perannya dalam Love For Sale (2018) seperti mengulang perannya tersebut dalam beberapa adegan. Baik ketika bangun tidur, mandi maupun ketika sedang diskusi mencari solusi dengan Anya. Yang menarik adalah beberapa adegan ‘dewasa’ yang terjadi. Mulai dari Gading mandi, adegan bercintanya Gading baik dengan Ayu atau Anya, apakah kalau ditayangkan di bioskop normal, bakal kena sensor? Entahlah.

Ariel dan Anya mungkin pemain baru dalam film Indonesia. Namun rasanya peran yang mereka mainkan pas saja. Ayu layaknya wanita Jawa yang nurut pada suami, meski kadang suka meledek suami sendiri soal lupa kunci mobil misalnya. Anya yang memerankan wanita ‘penggoda’ tidak harus berdandan menor atau mengucap kata vulgar. Marini yang sudah lebih dulu bermain film dari mereka semua juga memperlihatkan senioritasnya. Dan seperti biasa menjalankan peran seabgai ibu yang bijaksana dengan beberapa selipan dialog yang kocak. Karena memang film ini bergenre drama komedi. Bagian komedi ini yang diambil oleh Tika Panggabean dan Imam Darto. Bahkan tato yang dalam kenyataannya ada di lengan Tika Panggabean, diolah oleh Imam Darto dengan baik. Rasa komedinya juga terasa ketika ada adegan logika bengkok ala Srimulat diselipkan dalam film ini. Alih-alih membuka gerbang ketika nyonya rumah mengklakson di depan pagar, Yani (Tika Panggabean) malah meminta Broto, tuannya untuk membukakan pagar bagi nyonya. Karena dia sedang sibuk di dapur. Absurd! Hahahaha..

Secara keseluruhan film berdurasi satu jam 22 menit ini cukup menghibur. Sedikit kekurangan film ini menurutku hanyalah pada cara menggambarkan ibu Hadisutedjo mengumpulkan potongan informasi (puzzle) yang dia miliki dalam mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Broto. Selebihnya sih asyik. Pada akhirnya penonton akan bertanya, apakah perselingkuhan yang biasa terjadi dalam rumah tangga, berakhir seperti film ini?

Oh ya, pemilihan lagu Nurlela yang pernah dipopulerkan oleh almarhum Bing Slamet dan dilantunkan kembali oleh Trio Lestari (Tompi, Sandhy Sondoro dan Glenn Fredly), pada akhir film cukup menarik.

Selamat kepada dokter Tompi dan Imam Darto.

Apa yang ditunggu investor Indonesia akhirnya terwujud. Satu unicorn lokal akhirnya melakukan penawaran umum saham. Menjual sebagian saham mereka kepada publik dan kemudian tercatat di Bursa. Euphoria pun terjadi.


Jauh sebelum tercatat di Bursa, banyak yang menanyakan kabar kapan akhirnya perusahaan ini (dan perusahaan sejenis) akan tercatat di Bursa. Entah terbawa suasana tercatatanya perusahaan sejenis di Bursa luar atau mungkin mereka tidak sabar untuk membeli dan kemudian menjadi pemilik perusahaan rintisan bernilai satu miliar dollar amerika. Ketika beberapa hari sebelum perusahaan itu tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan turun yang mengindikasikan banyak aksi jual di pasar, banyak yang bilang investor sedang butuh uang tunai untuk belanja (membeli saham) perusahaan itu.


Ketika akhirnya mereka siap untuk memulai proses initial public offering, permintaan melonjak. Dengan kondisi over subscribe (kelebihan permintaan) 8 kali. Konon terdapat 100 ribuan investor yang memesan meskipun akhirnya hanya 90 ribuan yang mendapat penjatahan. Tidak sedikit yang mengeluh karena tidak kebagian di pasar perdana. Mereka berjanji akan membeli di pasar sekunder. Mungkin sambil mambayangkan keuntungan yang sudah di depan mata.


Pada hari pertama tercatat, sebagaimana biasa perusahaan yang baru tercatat, harga sahamnya melejit. Ditutup pada harga Rp1.060,00 yang jika dibandingkan dengan harga penawaran perdana yang Rp850,00 naik sekitar 24,71%. Tidak ada investor yang mau menjual sahamnya. Tidak ada antrian di sisi kanan (menjual). Semua antrian ada di sebelah kiri (membeli). Demikian juga kondisi pada hari kedua. Sepertinya euphoria masih ada. Harga tertinggi sempat menyentuh level Rp1.325,00. Jika pada hari pertama tercatat nilai transaksinya hanya sekitar 500 an miliar, tidak demikan pada hari kedua. Nilai transaksi mencapai 4,4 triliun rupiah! Mungkin ini disebabkan, mereka yang tidak kebagaian di pasar perdana, sedang belanja. Perburuan harus dilanjutkan.


Tidak demikian dengan hari ketiga. Keadaan berbalik. Antrian berada di sebelah kanan. Investor ramai-ramai menjual. Dampaknya harga saham turun. Ditutup pada harga Rp1.035,00 meskipun sempat mencapai harga tertinggi Rp1.160,00 dengan nilai transaksi yang hanya berkisar 1 triliun rupiah. Sebagian mengatakan, harganya diselamatkan oleh batas bawah auto rejection yang lebih kecil dibanding batas atasnya. Kalau tidak harga saham perusahaan itu akan kembali pada harga perdana, kata mereka. Yang kalau diteruskan bisa jagi bahkan lebih rendah. Ternyata keriuhan hanya bertahan dua hari. Apa yang terjadi. Entahlah. Biar investor dan analis yang menilai.


Dari sisi aplikasi yang menjadi andalan mereka, investor memberi ‘hukuman’ terhadap perusahaan tersebut. Dengan beramai-ramai memberi rating satu. Bisa jadi ini ulah mereka yang merasa dirugikan oleh pergerakan harga saham dalam tiga hari perdagangan. Kasihan.
Entah apa yang ada di benak investor kita. Saat belum tercatat, saban hari bertanya kapan tercatat. Ketika sudah tercatat, malah dilepeh. Dibuang di pasar sehingga harga turun. Ketika harganya turun, mungkin yang kadung membeli di harga 1.300an dan tersadar aset mereka hilang dalam hitungan hari (jam?). Karena ternyata harganya longsor.


Padahal ketika menawarkan saham kepada publik, perusahaan sudah buka-bukaan soal kondisi mereka. Bentuk bisnisnya seperti apa, ke depannya akan seperti apa, kondisi keuangannya seperti apa. Bukankah membeli perusahaan adalah membeli masa depan? Beli sekarang dengan harapan pada masa mendatang perusahaan akan berkembang dan membesar. Dengan demikian nilai perusahaan juga ikut membesar. Hal tersebut akan tercermin pada harga saham yang naik. Idealnya begitu. Kalau tidak yakin dengan masa depan perusahaan, ada pilihan untuk tidak membeli. Karena tidak ada paksaan dalam membeli (saham) perusahaan. Semua kembali pada keputusan sendiri. Kapan hendak membeli dan kapan akan menjual.
Selain itu penting juga memahami kalau uang yang digunakan untuk berinvestasi haruslah uang dingin. Bukan uang belanja dapur. Sehingga ketika berharap untuk meraih untung ketika membeli pada harga tinggi dengan harapan harga akan naik lebih tinggi, malah amsyong karena kenyataan berkata sebaliknya, tidak ada penyesalan.


Semoga meningkatnya ketertarikan untuk mulai berinvestasi melalui pasar modal (saham), juga diiringi dengan peningkatan pemahaman akan itu semua. Sejatinya hasil investasi tidaklah diperoleh dalam waktu semalam. Paham, Punya, Pantau.

Jagat politik Indonesia sedang hangat. Di tengah penanganan pandemi Covid-19 yang masih terengah-engah. Diantara angka statistik yang naik dan turun mirip Indeks Harga Saham Gabungan. Mungkin pemanasan menuju 2024. Sebentar. Bisanya pemanasan (entah dalam rangka olah raga atau memanaskan mesin) dilakukan sesaat sebelumnya ya. Bukan jauh hari.

Negara memang sedang mengalami kondisi pandemi. Namun bukan alasan untuk partai dan tokoh politik untuk berhenti saling mengkritik. Sisa pemilu dan pilkada (DKI Jakarta) terakhir masih terasa. Mereka yang menyebut dirinya oposisi akan menelanjangi kinerja pemerintah yang sedang bekerja. Yang sedang bekerja menunjukkan hasil kerja lewat fluktuasi angka korban terpapar maupun penurunan jumlah korban. Terakhir angka pertumbuhan ekonomi seolah menjadi melegitimasi.

Prestasi ganda putri kita meraih medali emas bulu tangkis pada Olimpiade Tokyo 2020 digunakan sebagai tunggangan. Tidak butuh waktu lama, wajah politisi, entah anggota DPR, pejabat pemerintah, maupun pengurus partai berseliweran di linimasa media sosial. Kenapa tunggangan, karena ternyata lebih banyak yang menonjolkan wajah pemberi selamat. Bukan sang peraih medali. Hal sama sebelumnya juga terjadi di Filipina.

Pengusaha papan reklame juga sedang kebanjiran pesanan. Datang silih berganti dari tokoh (partai) berbeda. Baliho wajah ketua umum bertebaran di sudut jalan. Sekadar mempertontonkan wajah atau memberitahu kinerja kepada masyarakat. Entahlah. Bahkan ada yang terang-terangan menulis angka ‘keramat’ 2024 pada balihonya. Sudah pasti arah yang dituju. Minimal pengusaha papan reklame punya kerjaan. Pemerintah memperoleh pendapatan dari pajak reklame yang dibayarkan. Bayar gak ya? Hmm..

Bisa dimaklumi. Mesin memang harus dipanaskan untuk bertarung pada pemilihan umum mendatang. Petahana, sudah menjabat dua periode. Sesuai batas waktu sebagaimana diatur konstitusi, sudah tidak memiliki kesempatan maju lagi. Meski sempat beredar wacana untuk memberi perpanjangan waktu, ide itu kemudian perlahan menghilang. Entah karena petahana sudah menyampaikan tiada niat dan tidak tertarik atau karena oleh sang pemilik ide sedang dimatangkan kembali.

Diluar angka statistik dan baliho, ada hal baru lagi yang didiskusikan. Soal warna pesawat kepresidenan. Dahulu didominasi warna biru, berubah menjadi warna merah. Ada yang bilang ini terkait dengan partai penguasa. Sebagaimana diketahui, pesawat kepresidenan dibeli ketika partai mercy sedang berkuasa. Pesawat dibeli menjelang berakhirnya dua periode jabatan. Konon katanya hanya pernah dipakai sekali sebelum akhirnya pengganti yang menggunakannya. Sekarang partai banteng sedang berkuasa. Dan warna diubah menjadi merah sesuai warna partai.

Kenapa baru dilakukan sekarang? Apakah tidak bisa ditunda? Saat ini pandemi dan butuh biaya banyak. Konon katanya, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp2 miliar. Untuk ukuran angka memang terlihat besar. Namun jika dilihat dari tujuan biaya sebesar itu untuk satu pesawat, mungkin memang tidak terlalu besar. Coba dibandingkan dengan biaya untuk mobil kelas sultan. Selain itu, pemerintah menyampaikan tidak ada hubungan dengan hal lain selain soal perawatan rutin. Pembaruan dan perawatan pesawat kepresidenan sudah dianggarkan sejak tahun 2019. Pandemi yang menyerang tahun lalu, membuat rencana perawatan dan perubahan warna itu baru direalisasikan tahun ini.

Karena yang banyak menghebohkan soal cat baru pesawat ini (setidaknya pantauan di linimasa) berasal partay mercy yang dulu membeli, ada hal menarik di tengah itu semua. Mendadak (?) saat riuh soal warna cat pesawat, beredar kabar kalau sang ketua dewan pembina mereka yang hanya sempat menggunakan satu kali pesawat kepresidenan, ternyata sedang bermain dengan cat. Sedang belajar melukis. Berita itu dilengkapi dengan sang ketua dewan pembina di samping lukisannya.
Aku tidak tahu apakah ini berhubungan atau tidak. Pikiran nakalku sedang bertanya. Apakah ini merupakan pertontonan cara politik Jawa yang katanya kuat bermain dengan simbol? Entahlah.

Aku membayangkan, dari arah Cibubur sedang menyampaikan pesan, “Mbok ya kalau sedang suka bermain cat, mending bikin lukisan yang indah gitu lho, bukan mengecat ulang pesawat”

Wallahuallam….namanya juga pikiran nakal, yekan?

Sudah kurang lebih dua puluh bulan sejak pemerintah China mengumumkan kasus COVID-19 pertama kali terjadi pada 17 November 2019. Kurang dari setahun, penyakit yang diakibatkan oleh virus bernama resmi Sars-Cov-2 ini menyebar ke seluruh dunia. Penyebaran yang begitu cepat, dampak yang begitu luas membuat akhirnya ditetapkan sebagai pandemi (pandemi/pan·de·mi/ /pandémi/ n wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas). Hampir semua negara di dunia mengalami.

World Health Organization (WHO), badan Perserikatan Bangsa Bangsa yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional, memberi perhatian khusus. Perusahaan farmasi berlomba dalam menemukan penangkalnya (vaksin). Angka statistik mereka yang terpapar, mereka yang dirawat, mereka yang menjadi korban, mereka yang sembuh seolah menjadi akrab dengan kita. diumumkan setiap hari, dibicarakan berbagai kalangan dan usia.

Untuk Indonesia, tanggal 2 Maret 2020 dianggap sebagai tanggal masuknya virus tersebut ke Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan diumumkannya dua warga yang berdomisili di Depok diketahui positif mengidap virus SARS Cov-2. Ini merupakan kasus pertama yang ditemukan di Indonesia. Kedua pengidap Covid-19 itu memiliki riwayat berinteraksi dengan warga negara Jepang yang diketahui lebih dulu menderita penyakit tersebut. Namun demikian, banyak pejabat (pemerintah) yang mengeluarkan pernyataan yang seolah menafikan keberadaan dan dampak virus tersebut. Beberapa menyampaikan bahwa kondisi akan baik-baik saja. Bahkan ada yang membuatnya menjadi kelakar :-(. Dari satu sisi mungkin bisa dipahami. Tujuannya untuk encegah kepanikan. Bahwa kita harus jernih meilhat masalah sebelum mencari solusi penanggulangannya. Namun pada sisi lain (entah benar atau tidak), hal tersebut ternyata membuat kita abai.

Pada awal pandemi beberapa negara mengetatkan pergerakan warga negara mereka. Termasuk kunjungan ke negara kita. Hal tersebut sempat membuat daerah tujuan wisata kita sepi. Pemerintah bergerak cepat. Atas nama pertumbuhan ekonomi, insentif diberikan agar sektor pariwisata tidak berdampak. Para penggaung yang dianggap pro pemerintah bahkan melakukan langkah blunder. Menganggap mereka yang membiacarakan Coronavirus dan Covid sedang menyebar issue. Sangat disayangkan. Meski pada saat bersamaan pemerintah akhirnya menetapkan dampaknya sebagai Bencana Nasional Non Alam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana diberi tugas untuk mengatasinya. Jenderal Doni Monardo menjadi panglima penanganan. Isitlah baru dikampanyekan. Tiga M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Bersama dengan praktik tiga T (tracing, testing, treatment).

Seiring berjalannya waktu, pemerintah tidak tinggal diam. Perangkat hukum disiapkan. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 diresmikan DPR sebagai undang-undang (UU). Perppu tersebut berisi tentang Kebijakan Keuangan dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk penanganan Covid-19. Pembatasan Pejabat negara setingkat menteri diberi tugas untuk berkeliling mencari vaksin. Sebuah upaya yang tidak mudah sebenarnya. Selain karena penyakitnya baru, dan vaksin masih dalam porses pembuatan, jumlah kebutuhan vaksin negara ini ternyata cukup besar mengingat jumlah penduduknya. Data menunjukkan kekebalan kelompok (herd immunity) akan tercapai ketika setidaknya 60-70 penduduk sudah mendapatkan vaksin. Bantuan sosial pun diberikan kepada mereka yang terdampak. Meskipun untuk ini ternyata masih ada pejabat yang tega berbuat curang dan mencari keuntungan :-(.

Beruntung kesigapan pemerintah membuahkan hasil. Mendahului banyak negara, secara bertahap vaksin pesanan kita berdatangan. Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang farmasi diberi mandat untuk memproduksi vaksin. Agar ketergantungan akan vaksin dari luar segera teratasi. Selain itu BUMN dan tentara juga ditugaskan untuk membangun fasilitas kesehatan tambahan. Karena untuk mengantisipasi menaiknya jumlah korban. Beberapa sarana milik pemerintah dialihfungsikan menjadi fasilitas kesehatan. Lahan kosong milik negara dibangun rumah sakit yang dikerjakan oleh BUMN karya.

Berbagai upaya tersebut membuahkan hasil. Angka statistik menunjukkan trend menurun. Seiring dengan hal tersebut, persiapan menghadapi kondisi baru mulai dilonggarkan. Demikian juga pelonggaran penerbangan keluar dan masuk negara ini. masyarakat dibiarkan menentukan kenormalan baru buat dirinya sendiri. Musim lebaran tiba. Silang pendapat permainan kata-kata mulai dipertontonkan. Mudik tidak dilarang, hanya diimbau untuk tidak dilakukan. Atau dengan bentuk setengah hati muncul istilah, mudik dilarang namun wisata diperbolehkan.

Lebaran tahun 2021 menjadi semacam tontonan pertarungan opini di masyarakat. Mereka yang pro kenormalan baru melenggang di jalanan, berkerumun di daerah wisata. Atas nama silaturahmi dan bosan di rumah saja menjadi pilihan. Toh sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes), begitu mereka beralasan. Mereka yang masih berpikir bahwa kenormalan baru belum waktunya diterapkan, memaki mereka yang berkerumun. Banyak beredar foto kerumunan di berbagai tempat. Mereka yang berkerumun disebut covidiot.

Gabungan pelonggaran dan ketidakpedulian membuat negara ini harus mengalami gelombang kedua (second wave). Mirip dengan apa yang terjadi di negara India. Ditambah lagi adanya varian Delta yang konon berasal dari India dan memiliki daya tular tujuh kali lebih cepat dari varian awal. Bulan Juni dan Juli menjadi puncaknya. Angka statistik menunjukkan rekor tertingginya. Jumlah mereka yang terpapar semakin menggila. Termasuk tingkat kematian.

Keadaan menjadi lebih mencekam. Lelayu yang dahulu dibaca melalui media, sekarang semakin dekat. Terbaca melalui pesan whatsapp pertemanan dan keluarga. Instagram story yang dahulu berisi foto makanan atau perjalanan wisata, kini berisi permintaan tolong donor plasma konvalesen. Perburuan ruang rawat rumah sakit beredar pada berbagai kelompok percakapan whatsapp. Cerita kesulitan mencari obat menjadi berita biasa. Kelangkaan obat menjadi berita biasa. Ragam cara menanggulanginya beredar. Termasuk yang berakibat perburuan susu beruang. Bisa dipahami, di tengah kepanikan akan penyakit yang belum ada obatnya.

Akhirnya pemerintah menetapkan kebijakan baru. Disebut Pembatasan Kegiatan Masyarakat (disingkat dengan PPKM). Keadaan darurat diterapkan di pulau Jawa dan Bali. Dikomandani oleh Menko Luhut. Untuk daerah lain diterapkan PPKM (tanpa darurat) dan dikomandani oleh Menko Hartarto. Namun ternyata menimbulkan masalah baru. Penyekatan jalan dan pembatasan aktivitas mendapat respon yang mungkin sudah diduga sebelumnya. Belum lagi pada tingkat pelaksanaan masih ada perbedaan yang terjadi. Ada aparat yang menerapkan peraturan dengan cara simpatik dan mendapat pujuan. Namun tidak sedikit aparat yang tidak pandang bulu menegakkan peraturan. Gesekan terjadi.

Apa yang bisa dilakukan sekarang? Mungkin sudah saatnya kita bersama menyadari. Bahwa ini bukan soal urusan pemerintah atau rakyat semata. Sudah menjadi urusan bersama. Ini musuh bersama. Mungkin memang tidak kelihatan. Tapi bisa kita hadapi kalau bersama. Tetaplah kembali pada semangat gotong royong.

Pemerintah sudah menyiapkan jutaan dosis vaksin. Tahapan pelaksanaan sudah ditetapkan. Semakin kesini juga vaksinasi atau imunisasi sudah dibantu banyak pihak (swasta). Semakin banyak titik yang bisa dipilih. Pelebaran rentang penerima juga sudah dilakukan. Awalnya kepada usia di atas 60, sekarang penduduk di atas 12 tahun sudah bisa menerima vaksin. Meskipun banyak pilihan vaksin tersedia, bukan saatnya memilih dan membandingkan vaksin mana yang terbaik. Karena dalam kondisi pandemi seperti sekarang, vaksin terbaik adalah vaksin yang tersedia untuk disuntikkan.

Bersamaan dengan itu, penerapan prokes bukan lagi sekadar tiga M. Sekarang sudah menjadi lima M dengan tambahan menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Mengurangi mobilitas mungkin hal yang paling sulit dilakukan. Namun sesulit apapun harus dilakukan untuk melandaikan kurva. Mereka yang sehari-hari masih harus melakukan mobilitas untuk mencari makan mungkin bisa diberi kebebasan. Namun haruslah diingat tetap dengan prokes yang ketat. Terutama menghindari kontak dengan orang lain. Karena hal tersebut bisa meminimalkan perpindahan virus. Untuk mereka yang masih bisa di rumah saja, bisa membantu dengan menyebarkan berita baik atau bergandeng tangan (bukan dalam arti sebenarnya) untuk membantu korban atau mengingatkan lingkar sekitar. Atau melakukan aktivitas ekonomi seperti berbelanja atau menggunakan layanan pesan antar untuk membantu mereka yang terkena pembatasan mobilitas.
Dengan demikian, Indonesia akan bisa pulih lebih cepat.