Namanya Monang Parlindungan Ambarita, biasa disingkat M.P. Ambarita. Awalnya beliau berpangkat Brigadir Polisi Satu, sehingga dikenal dengan nama Briptu Ambarita. Sekarang bang Ambar sudah promosi menjadi Ajun Inspektur Polisi Dua dan dipanggil Aipda Ambarita.

Awal tahu bang Ambar (begitu dia disapa) lewat acara variety show bertajuk The Police pada stasiun tv Trans7. Acara yang menunjukkan upaya dia dan timnya yang tergabung dalam Raimas Backbone kepolisian resort (Polres) Jakarta Timur. Raimas sendiri singkatan dari pengurai massa. Bang Ambar memimpin Raimas Backbone sejak tahun 20217.

Dari The Police, kita tahu mereka melakukan patroli ketika hari telah gelap. Menyusuri wilayah hukum Polres Jakarta Timur menggunakan sepeda motor, sampai pagi menjelang. Karena merupakan acara televisi, patroli mereka diikuti oleh kameramen dan tim televisi pemilik siaran. Sesuatu yang juga dilakukan oleh televisi lain dengan nama berbeda. Mungkin karena aksi para penegak hukum ini menarik perhatian publik. Sesuai namanya yang variety show, apa yang terjadi di lapangan disiarkan kepada publik apa adanya. Mungkin dengan beberapa edit disana-sini. Sah saja.

Dalam tayangan yang diunggah melalui youtube, sering Raimas menemukan pelaku kejahatan berdasar insting bang Ambar. Mungkin karena punya pengalaman panjang sebagai reserse di kepolisian daerah Metro Jaya. Ketika sedang patroli dan melihat ada pemuda yang gerak geriknya mencurigakan, dia akan memberhentikan dan memeriksanya. Melakukan penggeledahan dan bisa berakhir ternyata yang diberhentikan merupakan pelaku kejahatan atau terindikasi sedang berniat melakukan kejahatan.

Satu kejadian yang sempat viral adalah ketika Raimas menemukan pengendara sepeda motor yang tidak membawa surat lengkap. Pada video yang tayang 29 Oktober 2019 dan telah ditonton 26,6 juta kali itu bang Ambar terlihat bersitegang dengan pengendara sepeda motor yang mengaku keluarga anggota DPR. Sebelumnya sang pengendara justru ‘menantang’ bang Ambar dengan mengatakan akan meminta anggota Paspampres untuk mengambil motor yang dibawa ke kantor polisi sektor Cakung. Mungkin karena terpancing dan dijawab dengan nada tinggi lebih dahulu, terlihat bang Ambar memang menjawab dengan nada tak kalah tinggi.

Pernah ada kejadian lucu juga. Ketika Raimas menggrebek satu perjudian. Setelah melakukan interogasi bang Ambar justru merasa malu ketika dari informasi yang diperoleh, ada satu perempuan yang ternyata semarga dengannya. Boru Ambarita kata para pelaku. Lucu melihat responnya (menit ke-tiga). Selain itu ada juga kejadian dimana Raimas mengamankan penjualan minuman keras kepada anak di bawah umur. Meskipun sang ibu yang berjualan dan dimarahin oleh bang Ambar menggunakan bahasa daerah yang sama dengan bang Ambar (bahasa Batak), dia bergeming.

Soal membuka handphone, bukanlah hal baru yang dilakukan bang Ambar. Seringkali gerak gerik mencurigakan yang dilanjutkan dengan penggeledahan, dilanjutkan dengan mencari informasi lewat handphone milik mereka yang diperiksa. Mungkin karena yang diperiksa kebanyakan remaja tanggung dan memang dalam kondisi bersalah, mereka tidak menunjukkan perlawanan. Bukan sekali dua jejak kejahatan ditemukan lewat aplikasi percakapan di handphone. Dan pernah juga awalnya hanya memberhentikan remaja tanggung yang mengendarai sepeda motor dari hasil pemeriksaaan, diketahui kejahatan yang lebih besar yaitu pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

Menarik sebenarnya mengikuti aksi Raimas Backbone, melalui akun youtube Trans7. Entah karena kontrak dengan televisi tersebut sudah berakhir atau ada alasan lain, Raimas akhirnya memiliki akun youtube sendiri. Bertajuk Raimas Backbone Official yang per 20 Oktober 2021 sudah memiliki 1,4juta subscriber. Bahkan sudah mampu menutupi biaya operasional tim tersebut. Mungkin juga pengalaman membuktikan kalau media sosial bisa dibuat sebagai alat sosialisasi tugas polisi, sekaligus menambah dana buat operasional. Sah saja.

Beberapa hari terakhir, nama bang Ambar kembali viral. Bukan semata lantaran aksinya sebagaimana biasa disaksikan melalui youtube. Namun karena beliau dipindahkan ke divisi humas Polda Metro Jaya. Selain dimutasi, bang Ambar juga diperiksa oleh Bidang Propam Polda Metro Jaya. Hal tersebut konon karena aksinya yang membuka handphone dianggap tidak pantas dan melanggar prosedur yang ada. Soal membuka handphone ini menjadi viral. Entah karena saat ini polisi sedang menjadi sorotan, atau karena yang diperiksa handphone-nya memang berniat membuat menjadi viral.

Apapun yang menyebabkan bang Ambar dimutasi untuk kemudian diperiksa, lewat aksinya kita bisa melihat polisi dalam menjalankan tugasnya mengamankan masyarakat apa adanya. Mencegah terjadinya tindakan kejahatan. Banyak yang suka dengan gayanya memeriksa dengan ceplas ceplos. Demikian juga mungkin sebaliknya, ada yang tidak suka dengan cara interogasi dan mengumpulkan informasi di lapangan yang dianggap kelewatan.

Tetap semangat lae Ambarita.

“Pa, kenapa papi gak marah waktu Gabriel bilang pernah ambil duit papi, diam-diam?” tanya anak bungsuku kepadaku ketika kami berdua sedang membersihkan soliter cupang pada sebuah Sabtu. Aku menjawab, “Untuk apa papi marah? Yang penting Gabriel sudah mengakui dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi kan? Kataku padanya. “Iya, sih” jawabnya. “Selain itu, juga mungkin Gabriel perlu uang itu untuk jajan dan papi lupa memberinya kepada Gabriel. Selanjutnya kalau butuh uang untuk jajan, Gabriel bisa minta kepada papi. Papi pasti kasih kepada Gabriel” “Apakah dulu Ompung Jansen begitu juga kepada papi?” tanyanya melanjutkan diskusi kami. Ompung Jansen adalah sebutannya untuk almarhum Bapak. “Betul! Sahutku. Ompungmu mengajarkan seperti itu dan itu yang papi ajarkan kepada kalian anak-anak papi. Kepada Gabriel, kepada Abang” sahutku sambil kami terus membersihkan dan mengganti air di soliter cupang kami yang tidak seberapa itu.


Memang dua malam sebelumnya ketika hendak tidur, aku dikagetkan ketika dia mendadak terisak dan meminta maaf padaku. Ketika aku tanya kenapa, dia mengaku ketika kelas empat, beberapa kali mengambil uangku yang suka aku letakkan di meja di dalam kamar kami. Biasanya lembaran dua puluh ribuan atau kurang. Karena aku punya kebiasaan, uang yang masuk dompet hanyalah pecahan lima puluh ribuan dan seratus ribuan.


Selasa malam, giliran abangnya yang teman-teman (dan aku) kagum. Bergabung sebagai pembicara (speaker) pada sebuah ruang bicara di Clubhouse yang membahas anak sulung, si Abang bercerita bagaimana dia melihat posisinya sebagai anak sulung di keluarga. Atas pertanyaan apakah anak sulung merupakan previlese atau beban buatnya, dengan lancar dia bercerita kalau buat dia itu fifty-fifty. Bisa sebagai beban bisa sebagai previlese. Dia bercerita kalau sebagai anak sulung dia punya beban untuk selalu menjadi panutan buat adik satu-satunya. Menjadi tempat bertanya. Menjadi tempat bercerita. Dia juga bilang kadang merasa bangga sebagai abang ketika teman-temannya kagum melihat adiknya pintar berbahasa Inggris sejak dini. Berbeda dengan dia. Sikap-sikap sebagai anak sulung yang baik diceritakan dengan runut di ‘hadapan’ mereka yang jauh lebih dewasa. Padahal dia baru mau masuk kuliah tahun ini.


Ketika moderataor ruang bicara bertanya, apakah hal tersebut dia dapatkan karena diajarkan oleh orang tuanya, si Abang bercerita jarang sekali papinya memberi arahan ini dan itu terkait hubungan abang adik. Memang beberapa kali papi bercerita bagaimana dia dengan adik-adiknya, kata si Abang. Namun selebihnya papi (ayah saya dia manyebutnya) lebih banyak mengajarkan lewat gesture saja kepada kami anak-anaknya, katanya.
Seperti itulah yang aku ajarkan (atau tunjukkan) kepada anak-anak. Kebetulan keduanya lelaki. Hal sama yang aku terima dari almarhum Bapak. Sebagai Bapak dan anak, kami memang tidak pernah bercerita secara khusus membahas sesuatu sebagaimana biasa aku lakukan kepada kedua jagoanku. Namun Bapak memberi contoh dengan perbuatan. Tanpa bermaksud menggurui. Itu yang aku tiru. Termasuk belajar dan mencintai budaya Batak sebagaimana aku lakukan aktif di ruang bicara Mandok Hata di cluhouse itu.


Seingatkau Bapak juga jarang sekali marah kepada kami anak-anaknya. Kalau Gabriel mengejek bahasa Inggrisku yaang berantakan, yang beberapa kali didengarkannya ketika aku meeting dengan orang asing, selama satu setengah tahun lebih karena aku work from home, aku cuma bilang, “Mungkin itulah kesalahan papimu ini. Ketika dulu masih kecil papi disuruh untuk les bahasa Inggris, papi tidak menuruti permintaan Ompung Jansen”, kataku. “Ompung Jansen juga dari awal menyarankan papi kuliah jurusan Akuntansi, tapi papi ambil manajemen”, kataku. “Terbukti sekarang Ompung kalian itu visioner. Karena dua yang disarankannya masih relevan sampai sekarang”, tambahku kepada dua jagoan itu.


Memang begitulah Bapak yang kukenal. Tidak pernah memaksakan kami anak-anaknya untuk melakukan ini dan itu. Beliau hanya mengarahkan. Selanjutnya pilihan kembali pada kami anak-anaknya. Selama pilihan itu dapat dipertanggung-jawabkan. Itu saja pesannya. Pesan yang sama yang juga aku sampaikan kepada sulungku ketika memilih jurusan kuliah. Aku tidak mengarahkan apalagi memaksakan dia untuk ambil jurusan yang aku maui.


Terima kasih atas ajaranmu pak. Anak si Jujung Baringin mu ini sampai sekarang masih terus belajar bagaimana menjadi anak siangkangan. Menjadi bapak bagi adik-adik. Semoga membanggakanmu. Sebagaimana aku bangga pada dua cucumu yang tidak sempat kau kenal ini.
Tenang di sana dan selamat ulang tahun, ya!

Berdasarkan hukum kekerabatan adat Batak, aku menyapanya Nantulang. Berarti kurang lebih istri dari Tulang. Tulang adalah sapaan untuk saudara lelaki ibuku. Kebetulan nantulang ini adalah istri dari Tulang paling besar. Abang dari mama. Anak ompung paling besar. Kami menyebutnya Tulang Banggas. Anak anakku menyapanya Ompung Dokter. Kebetulan beliau seorang dokter dan bertugas sebagai dokter di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan pengajar bahkan sempat menjadi Pembantu Dekan di Fakultas Kedokteran UKI

Usia Nantulang tidak terpaut jauh dari ibuku. Usia Tulang pun tak terpaut jauh dari usia almarhum Bapak. Sama seperti almarhum Bapak, Nantulang menjadi karyawan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. hanya beda penugasan saja. Bapak bertugas di Wilayah 01 yang meliputi wilayah Sumatera Utara dan Daerah Istimewa Aceh. Sementara Nantulang menghabiskan sebagian besar karirnya di Jakarta. Entah di Kantor Besar (demikian istilahnya untuk kantor pusat) atau di kantor cabang wilayah 10 yang meliputi Jabodetabek.

Tulang dan Nantulang termasuk yang sering mengunjungi kami di Medan waktu itu. Karena Ompung (orangtua mama) banyak tinggal di rumah kami di Medan atau Kabanjahe (sebelum kami pindah ke Medan). Intensitas pertemuan yang sering, membuat hubungan lebih akrab. Aku menyebutnya demikian karena aku merasa ada yang berbeda antara hubunganku dengan Tulang ini jika dibandingkan dengan hubunganku (dan keluargaku) dengan keluarga lain. Apalagi Nantulang dan Bapak belerja pada institusi yang sama. Ditambah beberapa kesamaan soal kesenangan mereka. Tanggal lahirnya pun hanya selisih satu hari. Bapak 12 Agustus, Nantulang 13 Agustus.

Di rumah Tulang di Jatikramat Bekasi pula aku tinggal ketika akhirnya memutuskan tinggal di pulau Jawa. Setelah sebelumnya tinggal di kediaman keluarga dari Bapak di Duren Sawit Jakarta Timur. Kedekatan hubungan dan ketersediaan satu kamar kosong di rumah Tulang menjadi alasan kuat. Sampai sebelum bekerja aku suka diberi uang saku. Untuk sekedar biaya fotocopy lamaran atau ongkos mengirim lamaran. Sambil menunggu panggilan dari lamaran yang aku kirim ke berbagai perusahaan yang ada di Jakarta, aku sering mendapat tugas mengantar Tulang atau Nantulang. Itung itung belajar mengetahui jalanan di Jabodetabek. Selain dari yang aku pelajari lewat menumpang bis ke berbagai penjuru.

Nantulang lah yang mengunformasikan kepadaku adanya lowongan di perusahaan tempatku bekerja sekarang. Informasi yang dia dapatkan dari HRD karena kebetulan pembayaran gaji perusahaan melalui BNI. Menurut Nantulang, beliau termasuk yang mendorong agar kantor cabang Semanggi yang awalnya berlokasi di gedung Veteran (sekarang Plaza Semanggi) pindah ke gedung Bursa Efek Jakarta (namanya waktu itu).

Setelah melewati serangkaian test (terakhir test TOEFL di LPPM daerah Tugu Tani, yang untuk mencapainya pun aku diantar oleh Tulang) akupun diterima bekerja di PT Bursa Efek Jakarta. Tinggal serumah dan bekerja di satu gedung yang sama membuat perjalanan ke kantor tidak mengalami kendala. Setiap hari aku ikut mobil Nantulang. Lumayan menghemat ongkos. Selain itu Nantulang tidak perlu ribet mencari joki three in one 😀. Dalam perjalanan Nantulang punya teman ngobrol. Kami membicarakan apa saja. Mulai dari kondisi pekerjaan, atau sekadar berita televisi.

Namun tidak berlangsung lama. Jalanan yang semakin macet, waktu kerja Nantulang yang lebih fleksibel dari jam kerjaku membuat aku harus mencari moda transportasi cadangan. Akhirnya akupun mulai menumpang omprengan yang ngetem di seputar pintu tol Jatibening. Untuk sore hari pun demikian. Kadang kalau Nantulang harus menghadiri meeting di luar kantor aku pulang sendiri. Menumpang bis hingga Cawang seberang UKI. Untuk kemudian menumpang angkot 461 ke rumah. Sering juga nongkrong seperlunya di warung warung depan UKI atau berbelanja apa saja di emperannya.

Ketika Nantulang berkenalan dengan golf, akupun sering diminta untuk mengantar ke lapangan pada hari Sabtu atau Minggu pagi. Atau sekadar mengantar ke daerah tertentu karena beliau berjanji dan menumpang mobil temannya. Beberapa kali aku nyasar ketika setelah mengantar aku harus pulang sendiri 😀. Namun aku anggap semuanya sebagai bagian mengenal jalanan ibukota. Selain Nantulang, Sabtu pagi aku kerap mengantar dua sepupuku ke sekolah. Atau ke acara dengan teman temannya.

Meskipun dalam hubungan kekerabatan, Tulang berada di posisi paling atas (Hula Hula dalam konsep Dalihan Na Tolu) aku dan adik adik dianggap sebagai anak sendiri. Hubungan yang dibangun tidak berjarak. Tulang dan Nantulang pulalah yang menemani keluarga kami ketika Bapak ‘pergi’. Saat keluarga lain hadir seperti tamu 😔. Hubungan yang dipertahankan hingga sekarang. Hubungan yang aku ajarkan juga kepada dua anakku. Sekarang Gabriel tidak akan sungkan untuk langsung masuk kamar tidur Tulang dan Nantulang, untuk sekadar ngadem karena ada pendingin ruangan, ketika kami berkunjung. Sering terdengar Tulang menyebut anak kita, menyebut diriku ketika berbicara dengan Nantulang. Bahkan aku ingat sekali pernah menyebut ‘mantu kita’. Aku dengar dari lantai atas. Karena kamarku terletak di lantai dua. Nantulang juga yang ‘memerintahkan’ aku untuk membawa mobil sedannya saja ketika aku meminta ijin menggunakan Kijang Tulang untuk bertamu pertama kali ke rumah calon mertua di Kebon Jeruk ☺️.

Mantu (menantu) kita merujuk pada posisiku yang adalah bere (anak laki laki dari saudara perempuan) Tulang. Karena berdasarkan hukum kekerabatan Batak, putri dari Tulang (yang aku sapa pariban) adalah wanita dengan prioritas tertinggi yang bisa aku nikahi. Kebiasaan yang semakin hari sudah ditinggalkan. Selain karena bukan lagi masa Siti Nurbaya, konon karena katanya bisa menyangkut incest ☺️. Mengingat hubungan demikianlah, mengakibatkan adanya kebiasaan untuk ‘permisi’ kepada Tulang ketika seorang lelaki Batak akan menikah. Prosesi yang ketika kami utarakan kepada Tulang, kami disuruh untuk melakukannya kepada Tulang yang paling kecil. Adiknya (plus adik lelaki ibuku) yang bertempat tinggal di Medan. Selain karena menurutku Tulang ini sudah menganggapku anak, beliau juga tidak terlalu suka dengan ‘keribetan’ adat Batak.

Hubungan kami, aku Nantulang dan keluargaku atau keluarga dari pihak mama tidaklah selalu berjalan mulus. Aku mengerti bahwa hubungan ipar keluarga manapun ada pasang surutnya. Hal yang lumrah. Lama tinggal dengan mereka (kurang lebih lima tahun sebelum akhirnya menikah dan pindah) sedikit banyak aku memahami sifat mereka berdua. Tidak banyak neko neko. Lempeng lempeng saja kalau kata orang Betawi. Kadang kalau menemani belanja ke ITC Mangga Dua, Nantulang belanja dengan cepat saja. Manakala keluarga lain masih memerlukan waktu untuk sekadar window shopping atau sekadar membandingkan harga antara dua toko bersebelahan, Nantulang tidak terlalu suka. Akhirnya aku akan menemani duduk di suatu tempat ketika keluarga lain masih asyik dengan window shopping 😁.

Itulah kenapa aku menggunakan caption “berfoto bersama mertua” untuk foto selfie kami berdua (aku dan Nantulang) ketika beliau bersama teman temannya sesama pensiunan Bank BNI ada acara di gedung Bursa. Begitu mengetahui beliau ada acara di gedung sama aku berusaha menemui. Ketika acara mereka selesai aku temani. Aku merasakan bagaimana bangganya Nantulang mengenalkanku kepada teman temannya. Sebangga beliau mengenalkan anaknya sendiri. Sesenang beliau ketika aku kabarkan bahwa bere yang dahulu dikenalkan ke perusahaan tempatku bekarja sekarang memeroleh promosi.

Sehat terus ya Tulang dan Nantulang ♥️

Ai damang do si jujung baringin
Di au amangmon
Jala ho do silehon dalan
Di anggi ibotomi

Ianggo anggi iboto mon ndang magoan. Hodo na magoan. Ho do ganti di bapa di halak on” Engkaulah yang kehilangan ayah. Adik adikmu tidak kehilangan. Sebab engkaulah yang akan menjadi bapak mereka. Itulah kalimat yang disampaikan pelayat kepadaku pada Mei 2000. Saat itu aku masih sendiri. Belum berkeluarga. Kata penghiburan kepada lelaki sulung keluarga Batak yang telah menikah akan dimodifikasi dengan menambahkan kalimat (wejangan) sama kepada istri si sulung. Bahwa sang istri akan berperan sebagai ibu bagi adik adik suaminya.

Sebagaimana potongan lagu Poda di atas, demikianlah peran anak sulung. Si jujung baringin. ‘Pembawa Bendera’ keluarga. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, ketika bapak tiada, sulung akan menggantikan peran bapak. Bukan hanya keluarga Batak. Aku pikir posisi sama terjadi pada hampir seluruh keluarga tanpa melihat suku bangsa. Peran tersebut semakin bertambah ketika bicara soal adat. Karena Batak masih memegang erat adat istiadat.

Kadang terasa berat. Kenapa beban seberat itu harus disematkan di pundakku. Apalagi ketika itu aku belum berkeluarga. Setelah menikah dan secara otomatis memiliki tempat di adat Batak, dalam usia muda aku ‘terpaksa’ mengikuti adat. Menghadiri pesta unjuk (pernikahan) atau prosesi adat lainnya. Sesuatu yang saat ini masih dihindari oleh banyak keluarga muda Batak. Sering teman bertanya, “rajin kali lah kau ke adat?” Apa yang bisa aku katakan? Posisiku mewajibkannya. Ingin sebenarnya menolak, namun posisi sebagai sulung tidak memungkinkannya. Ditambah lagi, aku memang menyukai adat Batak. Meski oleh banyak kalangan dianggap ribet dan melelahkan, aku merasakan ada kearifan lokal yang bermanfaat darinya. Oleh sebab itu perlu dilestarikan.

Posisi sebagai sulung juga mewajibkanku untuk ‘menikahkan’ adik adikku. Meski dalam dua kesempatan aku hanya berperan kecil. Karena kediaman di pulau Jawa tidak memungkinkanku untuk banyak terlibat. Aku hanya mengandalkan mama. Dari jauh aku hanya bisa memantau dambil sesekali memberi sumbang saran. Syukur keduanya berjalan dengan baik. Meskipun pasti ada kekurangan.

Selain utusan adat, dalam beberapa hal lain aku juga terbeban untuk menjadi ‘si lehon dalan’ sang pemberi jalan. Mungkin semacam voorijder dalam sebuah iringan. Membantu adik adikku dalam hal apa saja. Tentu saja dalam batas kemampuan. Entah apakah apa yang aku lakukan berhasil atau enggak. Entah apakah aku bisa menjadi contoh yang baik kepada mereka sebagaimana doa dalam lagu Poda itu. Meski kadang terasa berat, lebih sering aku menikmatinya sebagai tanggung jawab yang harus aku pikul. Aku berharap bisa membantu mereka dalam mewujudkan keinginan orang tua kami. Terutama keinginan almarhum bapak yang hari ini (jika masih ada) berulang tahun ke-73 😔

*Poda adalah lagu yang berisi pesan orang tua kepada anak lelaki sulung

Sebagaimana biasa setiap awal tahun ajaran baru, aku menyampul buku anak-anak. Dimulai dari buku Gabriel (buku kelas 2 SD) karena buku abangnya belum diberikan oleh sekolah. Sambil menyampul aku tertarik mencari tahu, sebenarnya apa yang diajarkan pada mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ). Karena rasanya waktu satu tahun cukup untuk mengenalkan (budaya) Jakarta. Kenapa harus ada buku (pelajaran) untuk tahun kedua dan seterusnya.

Namun alangkah kagetnya ketika membaca satu (konon) cerita rakyat pada halaman 74 buku terbitan yudhistira tersebut. Judulnya “Cerita Bang Maman dari Kali Pasir”

Bang Maman adalah pedagang buah di Kali Pasir. Istrinya telah lama meninggal dunia. Bang Maman memiliki seorang putri bernama Ijah. Bang Mana berniat menjodohkan Ijah dengan Salim anak pak Darip, seorang kaya. Meski kaya, konon Salim anak baik dan tidak sombong.

Setelah mereka menikah, pak Darip meninggal dunia. Salim mendapat warisan. Karena tidak bisa mengurus warisan, Salim menyerahkan pengurusannya kepada Kusen orang kepercayaan pak Darip. Sampai satu saat, istri Kusen menyuruhnya untuk menjual seluruh warisan dan meninggalkan Salim. Salim pun jatuh miskin. Akhirnya menjadi pedagang buah. Bang Maman malu karena Ijah hidup miskin, lantas meminta bantuan Fatme untuk mengaku sebagai istri Salim dan menemui Ijah. Ijah marah pada Salim. Salim meninggalkan Ijah.

Ijah berkenalan dengan Ujang. Kemudian mereka menikah. Ketika pesta pernikahan, polisi menangkap Ujang karena ternyata Ujang seorang perampok. Bang Maman ikut ke kantor polisi sebagai saksi.

Disajikan dalam bentuk komik, seolah aku menonton sinetron yang ditayangkan di televisi lokal. Terus terang gak bisa paham, nilai luhur apa yang hendak diajarkan kepada anak kelas dua sekolah dasar dengan setting cerita seperti ini. Jika ingin menonjolkan baik dan buruk, nusantara mengenal si kancil. Jika ingin lebih membumi (mengambil setting Betawi) dan menghindari penggunaan si kancil, bisa dengan alur cerita lain. Pemilihan setting Kali Pasir seolah dipaksakan semata agar pas dengan tempat di Jakarta. Semata agar pas dengan topik Cerita Rakyat Betawi. Mungkin karena aku bukan warga Betawi (Jakarta) cerita rakyat yang kukenal hanyalah si Pitung atau soal Nyai Desima.

Dalam pandanganku, mungkin PLBJ ini menjadi jalan mengajarkan kepada anak anak (Jakarta) pendidikan budi pekerti. Namun membaca cerita di atas, aku malah ragu dengan tujuan itu. Apa yang hendak diajarkan kepada anak kelas dua, ketika bang Maman sebagai orang tua yang tadinya menjodohkan putrinya dengan Salim, kemudian berbalik meminta bantuan Fatme untuk mengganggu rumah tangga Ijah ketika Salim akhirnya jatuh miskin?

lamar
fatme

Soal baik dan jahat mungkin soal sederhana. Yang baik akan sentosa, yang jahat akan celaka. Perampok adalah penjahat dan untuk itu layak diurus polisi, dan setelahnya layak untuk ditindaklanjuti dengan proses persidangan agar mendapat hukuman yang setimpal. Mungkin memang tidak cukup satu dua halaman komik untuk mejelaskannya. Atau mungkin anak kelas dua belum bisa menerima penjelasan yang oleh orang dewasa sendiri belum bisa memahaminya. Namun melakukan simplifikasi sebagaimana penutup komik di atas menurutku agak kurang pas.

Selama ini aku sudah cukup nyaman ketika anak anak tidak menonton sinetron di rumah. Tidak masalah keluar biaya sedikit untuk berlangganan tv kabel, dan anak anak lebih menonton tayangan non lokal. Namun kok ya malah kecolongan di sekolah dengan menyajikan cerita yang katanya cerita rakyat namun ternyata sebuah penggalan s*itnetron :-(