Weekend kemarin (31 Mei 2025), aku memenuhi undangan GKPI Rawamangun yang menyelenggarakan acara Bincang-bincang yang mengambil tema besar, Batak itu Keren. Bersama dengan penyanyi tenar yang sekarang lebih dikenal sebagai penulis skenario, sutradara, dan pemain film, Bene Dion Rajaguguk. Acaranya dalam rangka peringatan 60 tahun Gereja GKPI Rawamangun.
Tentang acara ini sendiri, aku sudah diinformasikan jauh hari oleh Irving “Omving” Tobing, teman di clubhouse yang sama-sama punya concern soal budaya Batak. Kata Omving, ketika rapat awal ide ini dilontarkan sebagai bagian dari perayaan ulang tahun gereja, panitia menyambut dengan antusias. Ternyata para orang tua, jemaat GKPI RAwamangun memiliki keresahan bagaimana mengenalkan budaya Batak kepada generasi muda. Khususnya mengenai partuturon (kekerabatan).
Aku sendiri cukup antusias menanggapi ajakan ini. Karena punya keresahan sama. Sejak muda dan makin giat dalam empat tahun terakhir, aku memang mencoba menggali mengenai habatahon (segala sesuatu tentang Batak). Bagaimana tarombo, partuturon, budaya, makanan, dan seterusnya. Keresahan yang bersambut melalui komunitas Mandok Hata, yang aku dampingi sejak awal tahun 2021.
Memang aku bukan founder Mandok Hata sebagaimana poster yang disusun panitia. Hanya mendampingi dengan segala keterbatasan pengetahuan yang aku miliki. Antusiasme peserta diskusi maya lewat aplikasi clubhouse, aku rasa sayang sekali jika berhenti sampai sebatas diskusi. Kesukaanku menulis, membuatku menyusun semacam resume dari setiap diskusi yang ada. Sudah ada ratusan resume sebagai dokumentasi diskusi. Harapannya semakin banyak orang membaca resume tersebut, semakin banyak orang yang memahami, tanoa berusaha untuk menggurui.
Acara dimulai pukul 14.00. Aku mendapat kesempatan pertama. Ada ratusan naposo (generasi muda) GKPI dan diluar GKPI yang hadir. Bukan semata dari jemaat Rawamangun sebagai penyelenggara. Bahkan dari jemaat lain seperti dari Cikarang yang hadir menggunakan bus. Ada juga yang dari Bogor. Bahkan beberapa gereja selain GKPI. Entah karena materi partuturon atau karena ada Bene Dion. Tak pedulilah. Yang pasti, Sabtu sore ketika mereka mungkin mempersiapkan malam mingguan, mereka mau hadir ke gereja mendengar orang bicara, menurutku sebuah kebahagiaan tersendiri.
Beberapa naposo, berdasar pengamatan sekilas bukanlah mereka yang lahir di Jabodetabek. Mungkin lahir dan besar di bona pasogit (kampung halaman) daerah sekitar Danau Toba. Daerah yang semestinya lebih memahamj partuturon, karena diajarkan langsung oleh orang tuanya yang native. Berbahasa ibu, bahasa Batak. Tak apalah. Toh sejak awal aku sudah klaim bahwa apa yang aku sampaikan bukan bertujuan untuk mengajari, melainkan sekadar berbagi.
Yang membuat agak kecut juga adalah, diantara yang hadir ada juga orang tua. Yang menurutku pastilah bukan mereka yang lahir di perantauan seperti aku dan kebanyakan peserta. Tetapi the show must go on. Keburu basah, mandi sekalian. Aku harus menyampaikan bahwa banyak hal yang berhubungan dengan Batak, membanggakan. Dan tidak dimiliki oleh suku atau bangsa lain di dunia. Dalihan Na Tolu, khususnya. Itu yang membuat Batak Itu Keren. Yang kalau kita jalankan dengan baik, entah itu dalam bidang pemerintahan atau ‘sekadar’ merawat kaldera Toba yang statusnya saat ini sedang direview oleh Unesco.
Selain soal kekerabatan, sebagaimana diduga, soal hubungan antar dua anak muda Batak menjadi keresahan anak muda itu. Juga oleh orang tua. Itu yang aku dapat dalam diskusi sebentar dengan salah satu orang tua, sebelum acara dimulai. Bagaimana anak muda Batak sudah mulai menghindari pesta unjuk ketika mereka akan menikah. Si bapak bilang, agak sulit memberi pemahaman pda anak muda saat ini. Dikerasin gimana, mau diikuti juga gimana🤭.
Keresahan sama yang aku temui pada beberapa ruang diskusi Mandok Hata. Keresahan yang belum bisa aku share terlalu banyak pada acara kemarin. Karena memang yang utama adalah soal partuturan. Aku membuat diagram sederhana dan akhirnya membagi kepad peserta yang hadir. Semoga kesederhanaan itu bisa memicu keinginrahuan mereka untuk kemudian menggali lebih banyak lagi. Yang pada akhirnya, akan menumbuhkan benih-benih cinta akan budaya Batak. Karena, Batak itu memang keren koq. Ada sanggahan? Marinkita diskusikan 🤭