anonim /ano·nim/ a 1 tanpa nama; tidak beridentitas; awanama; 2 Sos tidak ada penandatangannya

Seminggu terakhir di clubhouse, sedang ramai mengenai akun anonim. Sependek pemahamanku, pemicunya adalah adanya satu akun yang membuat room (ruang bincang) dengan judul provokatif dan akhirnya menyinggung atau dianggap melecehkan satu kelompok (pekerja seni) tertentu. Selain itu ada juga kejadian dimana satu akun (anonim) ditengarai melakukan pelecehan terhadap pengguna lain (lawan jenis).

Saat ruang bincang berjudul provokatif, ada pengguna yang meninggalkan ruang bincang untuk kemudian membuat ruang bincang baru untuk membahasnya. Demikian juga setelah terkuaknya kejadian (yang diduga) pelecehan. Ada ruang bincang yang dibuka untuk membahasnya. Memberi dukungan untuk ‘korban’. Hal ini terjadi beberapa kali, beberapa hari. Perbincangan yang pro kepada pengguna anoim, dan yang kontra terhadap anonim. Dan tetap saja ramai. Banyak pendengar.

Seolah masih berhubungan, ternyata ada kesamaan diantara dua peristiwa itu meski berbeda kasus. Keduanya melibatkan pengguna anonim. Mereka yang tidak menggunakan nama asli sebagai nama pengguna (setidaknya aku perhatikan demikian). Setelah itu, silih berganti ada saja ruang bincang yang dibuka untuk membahasnya. Ada apa dibalik akun anonim?
Sejatinya berinteraksi melalui media sosial sama saja seperti berinteraksi langsung. Masing-masing pengguna dapat berinteraksi satu sama lain. Yang membedakan dengan interaksi langsung adalah, pada media sosial ada pilihan untuk tidak menunjukkan wajah asli kita. Menggunakan akun yang disebut akun anonim. Semacam menggunakan topeng dalam berinteraksi langsung.

Apakah salah? Dari sisi kenyamanan interaksi, pengguna akun anonim misalnya beralasan dia mau berinteraksi tanpa lawan mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Alasan tidak enak dengan latar belakangnya, tempat kerjanya, dan seterusnya. Mereka tidak mau apa yang disampaikannya pada media sosial dianggap mewakili kelompok atau tempat dia bekerja misalnya. untuk ini pada biodata pengguna sebenarnya ada pilihan untuk membuat semacam ingkaran (disclaimer) bahwa apa yang disampaikannya merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili institusi. Dan selanjutnya ketika kelak ada yang menganggap apa yang disampaikannya merupakan pendapat institusi tempat dia bekerja, dia bisa berkelit dan menunjukkan ingkaran tadi. Meskipun seringkali soal ini masih banyak yang tidak bisa memisahkan dan memberi sekat yang jelas.

Dari ruang bincang yang sempat aku ikuti, ada juga pengguna akun anonim yang menyampaikan alasan ‘mulia’. Mereka menggunakan akun anonim, karena mereka tidak mau orang lainmendengar pendapat mereka hanya karena melihat siapa dirinya. Orang terkenal semacam selebirita atau pejabat misalnya. Mereka berharap perbincangannya egaliter saja. Dalam posisi yang setara. Masuk akal. Budaya kita masih belum bisa menerima egaliter sepenuhnya.

Dari sisi lawan interaksi, selama dia nyaman untuk ‘berbicara’ dengan orang yang menggunakan topeng, sah saja. Itu adalah pilihan yang harus diputuskan sebelumnya. Jika tidak nyaman, dia bisa minta lawan interaksinya untuk membuka topengnya terlebih dahulu. Kalau memang lawannya tidak mau membuka, pilihannya adalah terus berinteraksi dengan dia yang bertopeng atau menyudahinya saja.

Namun dari sisi lain, penggunaan akun anonim seolah membuat penggunanya bebas melakukan apa saja. Karena ketika dia melakukan kesalahan misalnya, dia bisa bersembunyi dibalik akun anonim tersebut. Atau lenyap dan membuat akun anonim baru ketika sudah ada masalah.

Menurutku sah saja seseorang berinteraksi dengan topeng (menggunakan akun anonim di media sosial), selama itu membuatnya nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Menjadi salah dan tidak bisa dibenarkan ketika topeng itu digunakan untuk melakukan perbuatan yang tidak semestinya. Menghina atau menipu orang misalnya. Walaupun tidak tertutup kemungkinan menghina dan menipu orang lain, bisa saja dilakukan dengan menggunakan akun non anonim.

Namun bukankah sebenarnya media sosial itu juga bentuk dari sebuah topeng dari dunia nyata kita? Kita tidak pernah bisa memastikan seratus persen, sebuah akun yang menggunakan nama (seolah) asli benar-benar sama dengan identitas pemiliknya. Karena ketika membuat sebuah akun media sosial, kita diberi kebebasan untuk memilih nama pengguna dan nama yang berbeda dengan nama asli kita.

Fenomena akun anonim ini bukan hal yang baru dan hanya terjadi di clubhouse. Juga terjadi pada media sosial lain yang ada lebih dahulu. Semacam twitter, facebook atau instagram. Merupakan hal biasa. Ini bisa terjadi untuk akun yang tujuannya tidak mewakili satu orang atau organisasi tertentu. Untuk keperluan literasi misalnya. Atau gossip? Kita masih ingat, akun anonim ini juga bertebaran pada saat pemilihan umum yang terjadi. Baik pilpres atau pilgub. Tujuannya bisa beragam. Selain untuk memberikan kampanye (baik atau buruk) juga untuk menaikkan satu topik menjadi trending.

Jadi, ya santai saja menyikapi akun anonim. Kalau darinya kita beroleh manfaat, sila ikuti atau bahkan berinteraksi. Namun jika sudah tidak ada manfaat atau malah merugikan. Kita bebas untuk tidak mengukitinya (unfollow) atau bahkan membloknya. Meniadakan dia dari hadapan kita di media sosial. Semudah itu. Tanpa perlu menghabiskan energi membahasnya.

Media sosial ‘baru’ itu bernama Clubhouse. Disebut ‘baru’ karena meskipun naik daun awal tahun 2021, ternyata aplikasi ini sudah ada sejak tahun 2020. Pada level global, menjadi perhatian pada awal 2021 karena kemunculan Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX dalam aplikasi Clubhouse. Untuk ukuran lokal, ketenaran clubhouse di Indonesia terpicu kemunculan Wishnutama yang mantan menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang saat itu menjabat Komisaris Utama Telkomsel, hadir dalam salah satu diskusi berjudul “Ngobrol seru bahas startup” di Clubhouse pada 12 Februari 2021.

Sama dengan media sosial lain, pengguna clubhouse juga saling mengikuti (follow). Perbedaannya, platformnya, kalau twitter berbasis text, instagram berbasis gambar, atau gabungan keduanya (facebook), clubhouse berbasiskan suara. Pesertanya berinteraksi menggunakan suara. Seperti ngobrol saja. Perbedaan lainnya adalah menjadi pengguna clubhouse tidak dapat dengan serta merta dilakukan setelah mengunduh aplikasinya. Keberadaan kita harus dinominasikan oleh mereka yang telah menjadi pengguna terlebih dahulu. Selain itu pada awalnya clubhouse hanya tersedia pada aplikasi berbasis IOS milik apple. Baru pada bulan Mei 2021, pengguna Andorid bisa bergabung dan penggunanya pun menjadi lebih ramai.

Sebagai langkah awal, seorang pengguna baru akan diberitahu bahwa nomer kontak mereka adalah pengguna clubhouse. Setelah itu proses saling mengikuti terjadi. Selanjutnya ketika seorang pengguna ingin memulai, pada layar awal yang terlihat adalah ruang bicara yang muncul berdasarkan topik apa yang kita pilih ketika mulai clubhouse. Topik teknologi, olah raga, seni, keuangan dan sebagainya. Selain itu ruang bicara yang muncul adalah ruang bicara yang sedang diikuti oleh mereka yang kita follow.

Ketika tertarik dengan judul atau topik satu ruang bicara, kita bisa bergabung sebagai pendengar. Ketika tertarik untuk nimbrung sebagai pembicara kita bisa mengajukan diri (dengan mengangkat tangan) atau diundang oleh pembicara yang ada di ruang tersebut untuk naik sebagai pembicara. Disebut naik karena pada clubhouse, pembicara dan pendengar dipisah posisinya. Pembicara berada di atas ruang bicara sementara ‘pendengar’ berada di bawah. Ketika pada akhirnya kita merasa tidak tertarik akan topik pembicaraan, baik ketika sebagai pembicara maupun sebagai pendengar, kita bisa meninggalkan room tersebut. Mirip dengan di dunia nyata saja. Kalau ada sekumpulan orang yang sedang ngobrol, pada suatu tempat, kita bisa nimbrung untuk kemudian meninggalkannya.

Semakin hari, sepertinya clubhouse tidak seramai awal 2021. Entah karena sifatnya ekslusif di awal atau memang berbincang tidak semenarik berbagi text atau gambar. Meskipun sudah ada perluasan platform (dari hanya IOS ke Android) sepertinya tidak menolong. Terpikir apakah aplikasi ini akan mengikuti jejak (almarhum) path, yang akhirnya bubar karena pembatasan-pembatasan yang ada. Mungkin ini akan diuji dalam beberapa bulan ke depan. Karena per 22 Juli 2021, perluasan pengguna juga dilakukan oleh pengembang aplikasi. Karena katanya sudah tidak versi beta lagi, sekarang semua orang bisa langsung menjadi pengguna tanpa harus dinominasikan oleh pengguna sebelumnya.

lucu juga dunia maya ini!
aku lagi merhatiin weblognya BEP [teman di KLab], malah ketemu weblognya ivo [teman di BEJ]
:-))