30. Desember 2016 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ibarat lelaki batak, jika belum menikah, setiap tahun nasihat hanya tertuju padanya setiap malam pergantian tahun.

Desember ini, Slank berusia tiga puluh tiga tahun. Bermula dari berdirinya Cikini Stone Complex pada Desember 1983, saat ini SLANK bukan hanya sebuah group band. SLANK konon berasal dari kata slengekan, yang kurang lebih berarti sesuka sukanya, menjelma menjadi komunitas yang luas. Potlot, nama gang di bilangan Jakarta Selatan (pernah) menjadi kiblat musik Indonesia. Sebut saja Oppie Andaresta, Imanez (almarhum), Andy Liany (almarhum), Anang Hermansyah dan Kidnap Katrina, mengindonesia dari sana. Selain itu masih ada juga BIP yang digawangi oleh Bongky, Indra dan Pay Siburian yang keluar dari SLANK setelah album Minoritas. Dan masih banyak lagi yang (mungkin) belum sebesar nama nama itu.

Bukan hanya kiblat musik, Potlot juga menjadi kiblat politik. Tidak sedikit pihak (partai maupun perorangan) yang merapat ke gang Potlot hanya untuk memeroleh dukungan dalam pemilu. Apalagi sejak era pemilu langsung. Betapa tidak, dengan usia 33 tahun, penggemar SLANK terdiri dari beberapa generasi. Mereka yang mungkin masih bersekolah di SMP atau SMA ketika album Suit Suit….hehehe (gadis sexy) keluar, sampai level anak anak dari generasi pertama itu.

Para penggemar pun fanatik bukan main. Sampai muncul celetukan seperti iklan teh dalam botol yang ‘apapun makannya….’. Konser artis manapun yang dilakukan di lapangan terbuka, bendera SLANK pasti dikibarkan! Tanpa bermaksud membandingkan, mirip dengan komunitas OI milik Iwan Fals. Padahal Iwan Fals sudah jauh lebih dahulu berkarya di industri musik Indonesia.

Dengan kenyataan seperti itu, sulit menjelaskan fenomena ini. Bahkan ketika beberapa personilnya (lagi lagi) diketahui menjadi pecandu narkoba, fanatisme itu tidak hilang. Manajemen Pulau Biru (entah apakah masih seperti itu namanya) berhasil mengelola peristiwa itu. Alih alih menjadi peristiwa memalukan, manajemen bahkan berhasil membuatnya menjadi kejadian yang menginspirasi banyak anak muda untuk menjauhi narkoba. Mungkin kalau menggunakan istilah korporasi, menjadi semacam CSR bagi SLANK. Menjadi tanggung jawab SLANK untuk mengarahkan jutaan fans agar tidak mengikuti jejak idolanya yang kurang bagus itu. Bunda Iffet, ibunda Bimbim, yang walaupun (hanya) seorang ibu rumah tangga biasa, mampu mengelola SLANK dengan baik.

Aku mengikuti SLANK sejak awal karirnya hingga album Minoritas. Album berikutnya Lagi Sedih, 999+09 #1 dan 999+09 #2 hingga yang terbaru sudah tidak intens kuikuti lagi. Ada rasa yang hilang ketika aku tak mendengar permainan jari Indra di keyboard dan melodi Pay di gitar. Lirik jujur bebas dan nakal ditambah keyboard dan kocokan gitar terlalu sempurna buatku. Bagaimana mereka dengan lugas meneriakkan ‘Anjing’ pada lagu ‘An – = -‘ ~ >…’ (judulnya memang begitu) dari album Kampungan atau meneriakkan kata ‘Kentut’ pada lagu Tut Wuri Handayani dari album Minoritas. Atau melagukan ‘Bangsat’ di lagu Begitu Saja dari album ‘Piss!’. Bagaimana mereka merekam dengkuran dan menimpali dengan koor personil dan diiringi permainan piano lagu Nina Bobo pada lagu Nina Bobo dari album Kampungan.

Mereka juga dengan bebas memasukkan lagu dolanan anak anak di Jawa pada Bang Bang Tut dari Minoritas atau memasukkan bahasa Batak (kebetulan Pay bermarga Siburian) pada intro lagu Generasi Biru di album Generasi Biru. Mereka bercerita tentang apa saja. Korupsi, Birokrasi yang kompleks, aborsi, keindahan di Bali (lagu Tepi Campuhan di Bali atau sepinya pantai Anyer, keriangan bocah bermain. Romantisnya Terlalu Manis atau kemarahan pada perbedaan status pada Mawar Merah. Masih banyak lagi.

Ah….aku rindu SLANK (sampai album Minoritas ☺). Ingin berada di Pulau Biru bersama jutaan Slankers 😍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *