08. Desember 2008 · 6 comments · Categories: Tak Berkategori

Aku adalah cucu pertama dari anak pertama di keluarga Tambunan. Sedikit berbeda, dari keluarga Siahaan [ibuku] juga, aku adalah cucu pertama. Bedanya, bukan dari anak pertama. Karena, sebelum ibuku, Ompung sudah lebih dahulu memiliki Tulang dan Inang Tua [uwak] yang belum menikah pada saat aku lahir. Dengan posisi demikian, wajar kehadiranku disambut dengan penuh sukacita. Baik oleh keluarga Tambunan maupun oleh keluarga Siahaan. Konon, itu pulalah yang menyebabkan orangtuaku memberi nama Goklas padaku. Sebuah kata dalam bahasa Batak yang dibangun dari dua kata. Gok yang berarti penuh dan Las yang berarti sukacita. Kata las sendiri bisa bermakna panas. Namun dalam konteks namaku, gabungan kedua kata tersebut [Gok dan Las] serta dalam penggunaan sehari-hari, Goklas lebih sering berarti penuh sukacita.

Aku tidak terlalu ingat, kapan persisnya aku mengetahui dengan benar pengertian namaku ini. Karena ketika masih bersekolah di Sekolah Dasar, aku masih sempat salah mengira kalau namaku berarti penuh panas. Sebagaimana juga beberapa warga Batak yang nota bene, berbahasaibukan bahasa Batak, sering salah mengartikan nama itu. Mungkin hampir sama banyaknya dengan mereka yang salah dalam mengucapkan nama itu menjadi g o l k a s, dan tidak menyadari ada makna dalam gabungan dua kata itu :-(.

Sewaktu kanak-kanak, sempat juga aku merasa seperti ‘terbebani’ oleh nama itu. Beban dalam pengertian, aku sempat kecewa kenapa harus bernamakan ‘aneh’ seperti itu. Tidak seperti nama teman yang menggunakan David, Robert, Kristian atau nama keren lain. Rasa kecewa itu sempat terobati saat kelas empat SD dan tinggal di sekitar Simpang Limun Medan, aku bertetangga dengan seorang anak yang bernamakan sama. Sejak saat itu, aku seolah memasang telinga mencaritau, seberapa banyak sebenarnya orang yang bernama sama denganku. Ternyata pekerjaan iseng ini membuahkan hasil. Dari yang aku dengar dan baca, banyak juga yang bernamakan Goklas. Semasa SMP, aku pernah membaca sebuah nama yang sama di majalah HAI. Pernah juga aku add seseorang di jaringan pertemanan, hanya karena nama kami sama. Tanpa pernah tau atau kenal sebelumnya dengan dia.

Terkait dengan penyebutan yang salah oleh mereka yang berbahasaibu Batak, aku pernah ngotot pada saat ngobrol dengan seorang Direktur di tempatku bekerja. Ngotot, karena aku mengetahui, Beliau ini berasal dari kota yang sama dengan orang tuaku Balige [Kabupaten Toba Samosir]. Selama berbincang dengannya, sempat dua kali aku ‘protes’ terhadap sapaannya terhadapku yang menjadi N i k o l a s. Pertama aku koreksi, sepertinya dia mengerti. Namun, saat dalam pembicaraan seterusnya beliau masih salah dalam menyebut namaku, aku sampai mengingatkan kalau namaku punya makna indah. Aku sampai ingatkan kalau nama itu, adalah satu kata dari bahasa Batak. Namun tetap saja si Bapak menyapaku dengan Nikolas. HUH. Padahal aku tau beliau juga memiliki nama yang berasal dari bahasa Batak. Belakangan aku ketahui dari beberapa teman, setelah menceritakan ‘kekesalanku’ terhadap kesalahan itu, bahwa si Bapak memang senang mengganti nama orang :-p.

Setelah pernah merasa terbebani menyandang nama itu, seiring dengan pertambahan usia, ada rasa bangga karena menyandang nama itu. Rasa bangga itu, bahkan aku ungkapkan dengan ‘marah’ saat mereka yang satu suku denganku, menyebut artinya dengan penuh panas. Namun aku masih bisa memaklumi apabila mereka yang salah itu, hanya sekedar satu suku denganku. Aku akan lebih ‘marah’ lagi apabila kesalahmengertian makna itu dilakukan mereka yang aku tau berbahasaibukan Batak.

Rasa marah itu juga sering aku tunjukkan saat menjawab panggilan telepon. Bila saat menjawab telepon, aku mendengar “Boleh bicara dengan Bapak Golkas Tambunan?” aku akan langsung bilang, “Maaf….tidak ada yang bernama Golkas Tambunan disini. Adanya G o k l a s Tambunan”. Kalau sudah begini, biasanya buru-buru penelepon akan minta maaf.

Hari ini aku terpikir, memiliki nama unik, ternyata punya berkah sendiri. Dari mailing list dan jaringan pertemanan aku mendapat beberapa teman baru karena nama unik itu. Diawali dari mereka menyangka aku adalah teman mereka pada beberapa waktu lalu. Namun setelah aku melakukan klarifikasi, dan sedikit menerangkan tentang diriku, ketahuan bahwa ternyata aku disangka temannya. Biasanya setelah itu aku dan mereka yang salah sangka di awal itu akan menjadi sahabat meski baru melalui dunia maya :-).

6 Komentar

  1. Pingback: Bath Remodel St. Louis

  2. oberson saragi

    Nama yang Harum,, dan makna yg bagus!! perlu diketahui bahwa orang Batak,, penuh dengan Seni dalam pemberian sebuah nama & mempunyai makna arti tersendiri!! banyak dengan sebuah nama sering sekali menjadi kenyataan!! seperti contoh: Makmur Sotar Duga,dll

  3. Hello my dear friend! I’m a pure student… [url=http://www.westcentraldental.ca/Members/sonyazhvakina/tooth-whitening-dallas-dentist-tooth-whitening]Kit Light Tooth Whitening[/url] | [url=http://www.westcentraldental.ca/Members/sonyazhvakina/white-go-tooth-teeth-whitening]Teeth Whitening Eugene[/url] | http://www.westcentraldental.ca/Members/sonyazhvakina/white-tigers-teeth Orbit Teeth Whiteing | Addwords Tooth Whitening Boston | Tooth Whitening Pasadena Texas

  4. Hehehehe…dari awal aku sebutmu Pariban. Dan si 212 sebagai Tulang kadang Lae…justru karena aku tau partuturannya :-)

  5. Waks.. pariban-nya kita…bah! Kampung kami pun di Balige looh.. Siambat Dalan tepatnya… Bahkan almarhum bapak-ku pun dimakamkan disana…. Ttg nama… hmm.. bagus kalipun artinya Goklas itu.. sayang aku gak bisa marhata batak dan gak terlalu ngerti juga.. maklum, mamak kan bukan Bat… jadi aku ikhlas dengan nama yang diberikan mertua ke anak2ku, ternyata gak pake unsur Batak.. tapi dari Alkitab: Paulus, Benjamin, Christine.. hehe.. Demikian yang sedikit ‘terpikir’oleh saya .. Horas !!

  6. itu hanya untuk mempermudah, saja Dab. biar orang lain tidak menyebut G o l k a s lagi…hehehe

  7. What if : Go KLA’s!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *