30. November 2014 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Aku lupa persisnya kapan mulai menyukainya. Yang aku tahu, aku suka minum karena dulu bapak juga peminumnya. Kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang. Yang aku maksud, minum kopi.

Kurang pas rasanya jika memulai hari tanpa terlebih dahulu meminum kopi. Mungkin memang salah. Karena seringkali aku mendahulukan kopi daripada meminum air putih. Mungkin sehari bisa sampai lebih dari tiga cangkir. Dimulai pagi hari, siang dan malam.

Malam juga? Iya! Dan kebiasaan itu entah kenapa tidak memengaruhi jadwal tidurku. Meski malam hari meminum kopi, tidak serta merta membuatku kesulitan tidur. Ketika kantuk datang, aku tertidur kurang dari pukul 12 malam yang mungkin jadi batas waktu sebelum disebut begadang. Padahal yang aku suka minum, mungkin dikateorikan jenis konvensional. Kopi tanpa campuran krim atau susu. Kopi tubruk. Dengan bubuk.

Hal menarik lain, karena aku memulai minum kopi sejak tinggal di Medan, aku lebih memilih untuk minum kopi yang berasal dari sana. Entah apakah kopi yang kuminum adalah jenis kopi Sidikalang yang terkenal itu. Meski pada kemasannya disebutkan demikian, aku tak terlalu peduli. Buatku, rasa pahitnya pas. Ya, karena aku tak terlalu suka kopi yang gulanya terlalu banyak.

Kesukaan itu memaksaku untuk menyediakan kopi yang dikirim dari Medan. Meski mungkin harganya tak semahal kopi kemasan pabrik besar, buatku tak menjadi masalah. Karena yang penting rasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan kopi yang dijual kedai kopi terkenal, sepanjang aku masih bisa menyeduh bubuk kopi yang kudatangkan dari Medan, aku lebih memilih kopiku sendiri.

Mungkin untuk keadaan darurat bolehlah. Ketika aku tidak memiliki akses pada bubuk kopiku. Atau ketika sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Sementara keinginan untuk minum kopi begitu besarnya, aku pasrah pada kopi yang dijual di kedai kopi itu. Atau minum kopi yang tersedia di hotel tempat menginap. Atau membeli kopi kemasan. Dan selalu, sedapat mungkin dalam bentuk kopi hitam. Tanpa krim tanpa susu.

Konon katanya, suhu air dalam menyeduh kopi, cukup 78 derajat celcius. Entahlah. Buatku tak terlalu penting. Ketika air mendidih, hal itu sudah cukup untuk menyeduh bubuk kopi. Dan dengan kondisi demikian, bubuk kopi yang berwarna hitam, akan menghasilkan cairan kopi berwarna cokelat karena buih. Ditambah aroma yang menggoda.

Ada satu cara membuat minuman kopi yang aku ketahui dari ibuku. Cara yang sama ternyata digunakan di kedai kopi dimana minum kopi menjadi kebiasaan dan ajang pergaulan. Seperti di kota Medan, Pematang Siantar dan terakhir aku ketahui di kota Bangka. Mungkin juga kota lain. Aku tak punya cukup bukti untuk mengatakannya. Caranya adalah, bubuk kopi dimasukkan dalam air putih yang mentah untuk kemudian dimasak sampai mendidih. Jadi mungkin kurang tepat jika disebut menyeduh kopi. Karena matangnya bersamaan.

Satu lagi yang unik yang dulu sering aku praktekkan, sekarang tidak pernah lagi. Aku melakukannya karena pernah membaca dalam satu artikel singkat. Semacam tips. Menurut artikel itu, flu dapat diatasi dengan meminum kopi yang diberi es. Aneh? Entahlah. Ketika masih sekolah menengah hal ini sering aku praktekkan. Lumayan ampuh. Silahkan kalau mau dicoba.

@goklastambunan
https://www.facebook.com/goklas.tambunan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *