10. Februari 2004 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Mungkin kita harus membiasakan diri dengan sifat latah yang ada di bangsa ini. Contoh terakhir yang aku temui dari sifat latah ini tercantum dalam kutipan berikut :
===========
Dear all,
Sedikit berbagi info …
tempat dimana gue bekerja sekarang , Fremantle Media Indonesia akan mengadakan Indonesian Idol, yang akan running di RCTI sekitar bulan Maret atau April ini. Bener banget, this is the indonesian version of American Idol.
Kalau ada yang berminat, syaratnya gak susah;
– Laki2 atau Perempuan WNI
– Usia 16 – 26 tahun (maksimal 26 tahun di tahun 2004 ini a.k.a maks lahir tahun 1977)
– belum pernah terikat kontrak dengan label manapun
– bersuara bagus
– berpenampilan menarik (diutamakan yang camera face)

Berminat? Atau mungkin tau ada orang lain yang sepertinya pas banget buat ikutan Indonesian Idol, bisa langsung aja daftarkan diri ke www.indonesianidol.com
===========
American Idol [AI] adalah acara menjaring entertain [penyanyi/ penghibur] yang diselenggarakan di Amerika. Jaman dahulu ada kontes serupa yang digelari Asia Bagus [AB]. Bedanya kalo AI kiblatnya ke Amerika, AB lebih membumi di Asia. Jebolan AB juga sudah malang melintang di dunia entertain Indonesia. Kris Dayanti dan AB Three merupakan salah dua darinya. Saat ini ada beberapa acara serupa yang ditayangkan di berbagai stasiun TV di tanah air. Bakal Beken di TPI, Popstars di TransTV dan yang paling nyaring terdengar adalah Akademi Fantasi di Indosiar [AFI].

Menurutku acara terakhir ini menarik. Pertama, selama 70 hari seluruh peserta dikarantina di satu tempat di Jakarta. Tanpa boleh berhubungan dengan dunia luar termasuk keluarga. Selama dikarantina mereka diajari berbagai hal semisal masalah vokal oleh Bertha guru vokal kondang itu. Atau oleh ARi Tulang yang koregrafer dan Tamam Husein yang ‘bapaknya’ group vokal Warna.

Setelah selama seminggu dilatih, setiap Sabtu malam semua peserta menunjukkan atraksinya di panggung dan disiarkan secara langsung oleh Indosiar. Setiap usai satu peserta tampil, penampilan mereka akan dikomentari oleh tiga orang komentator. Salah satu komentatornya yang menurutku paling bagus [karena memberi komentar yang ‘tajam’] adalah Trie Utami [vokalis Krakatau]. Dan setiap minggu ada satu peserta yang harus gugur dan tidak berhak berlaga untuk minggu depan.

Di sinilah letak keunikan lain. Gugurnya peserta tidak berhubungan dengan teknik vokal, penguasaan panggung lewat keluwesan bergerak atau kemampuan bermusik. Namun lebih kepada jumlah dukungan yang didapat oleh tiap peserta [melalui polling premium call atau sms]. Sangat disayangkan memang. Namun kalau aku melihat ini tidak lepas dari strategi bisnis juga. Ada hitung-hitungannya. Semakin banyak pendukung berarti jumlah penonton semakin banyak. Nah, banyaknya jumlah penonton berbanding lurus dengan dewa stasiun televisi yang bernama rating !. Ujung-ujungnya, ya iklan [baca : duit] juga lah.

Sah-sah sajalah menurutku. Karena dalam beberapa kesempatan terungkap bahwa mereka sedang disiapkan untuk jadi penghibur, bukan semata-mata penyanyi !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *