07. Juli 2004 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Perjalanan waktu

Entah kenapa, wiken kemarin tiba-tiba aku teringat sama postingan bapak ini. Walopun seberanya gak ada hubungan langsung.

Awalnya adalah malam minggu kemaren. Dalam arisan sesama warga Batak di kompleks, pembahasan seru terjadi waktu bicara soal adat Batak. Pertanyaan yang muncul sama dengan pertanyaan di beberapa milis Batak yang aku ikuti. Kenapa pelaksanaan adat Batak, khususnya adat pernikahan selalu memakan waktu yang lama. Apakah gak ada jalan keluar sehingga semua prosesi adat itu hanya berlangsung dua jam saja. Tidak seperti selama ini. Kalo dimulai sekitar pukul satu siang, sudah hampir pasti berakhir pukul lima sore. Sudah termasuk makan siang dan jam segitu sudah termasuk cepat. Bicara kesana-kemari, akhirnya aku nyeletuk [dalam bahasa Batak tentu saja] :”Amang, mungkin apa yang kita bicarakan dan menjadi mimpi kita sekarang, akan terealisasi pada jaman kami orang-orang muda ini”

Kenapa aku bilang seperti itu, karena dari pembicaraan yang terjadi aku melihat bahwa sebenarnya masih banyak orang Batak [mungkin terutama golongan tua/usia limapuluh tahunan] yang belum bisa melepas ego yang melekat di diri. Dalam pandanganku pribadi, sifat itu adalah orang banyak harus tau siapa aku !

Saat arisan hampir berakhir, ada sms masuk dari seorang sahabat. Teman lama waktu kuliah di Medan dulu. Kebetulan dia sedang di rumah teman lain yang masih satu kompleks. Sepertinya dia sedang ada masalah. Kesimpulan seperti itu aku dapat dari hasil ngobrol dengan istri beberapa hari sebelumnya. Waktu aku samperin, ternyata benar. Waktu aku liat dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Kalo untuk dia ini apalagi kalo bukan masalah jodoh ! Satu persatu temannya mengakhiri masa lajang, dia sendiri sepertinya masih belum ketemu apa yang hendak dicari.

Minggunya, aku semakin menyadari kalo adik-adikku sudah semakin dewasa [mudah-mudahan bahasanya gak terlalu formil]. Pertama kali aku menyadari hal ini dulu adalah saat si bungsu kami mulai pacaran. Sebagai si sulung dan [saat itu] tiga tahun terpisah darinya aku menyadari kalo dia sudah gede. Lucu gak siy, kalo aku berpikir seperti itu. Padahal saat itu dia sudah kuliah. Tapi justru aku sadar dia sudah gede dari hal berpacaran.

Dan minggu kemarin, adik perempuan satu satunya curhat ke edanya [eda : panggilan kepada kakak atau adik ipar dan hanya berlaku untuk sesama wanita] soal pasangan hidup. Dari pembicaraan mereka juga, aku bisa menebak kalau adikku ini siap mentas. Sebelumnya, sekitar empat bulan lalu kami [aku dan istri] mendapat kabar bahwa adik nomer dua sedang serius menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Keseriusannya kelihatan dari sikapnya. Dia sudah membawa temannya itu ke rumah untuk ketemu dan berkenalan dengan Mama.

Tapi diluar itu, ada satu hal yang bikin aku terharu dan menyadari bahawa banyak perubahan yang telah aku dan keluargaku alami. Ini terkait dengan Si Abang, jagoan kecilku itu. Hari Minggu kami membawanya ke Tumble Tots. Senangnya bukan main. Berlari kesana kemari di ruang kelas yang diset sebagai tempat bermain, seolah tiada yang ditakuti. Padahal ini kali pertamanya ke sana. Biasanya dia akan memperhatikan dulu keadaan untuk kemudian dihadapkan pada dua pilihan sikap. Tetap berdiam diri dalam ‘perlindungan’ orangtuanya atau malah mulai menangis.

Selama ikut kelas, dia yang ditemani Bundanya berpindah dari satu mainan ke mainan lain dan sebentar-sebentar menoleh kepadaku sambil tertawa. Seolah memberitau kalo dia udah besar dan berterimakasih dibawa ke sana. Tingkahnya ini membuatku terharu. Tak terasa si Abang sudah besar !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *