17. Februari 2012 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Woody dan Buzz adalah dua tokoh utama dari film animasi Toy Story yang sudah mencapai jilid tiga. Dikisahkan, awalnya Woody adalah mainan favorit Andy. Sampai satu saat, Andy merayakan ulang tahun dan menerima Buzz sebagai hadiah.

Sedari awal, sebelum kedatangan Buzz, Woody sebagai ‘koordinator’ seluruh mainan yang dimiliki Andy, sudah merasa khawatir akan tersisih jika Andy menerima kado dalam bentuk mainan baru. Dia berusaha memprovokasi teman teman sesama mainan untuk membenci Buzz. Bahkan Woody dianggap menyisihkan Buzz, meski terjadi tanpa sengaja, agar perhatian Andy padanya tidak berkurang. Tanggung jawab sebagai pemimpin informal, diambil oleh Woody untuk mengembalikan Buzz ke kamar Andy.

Petualangan itulah yang diceritakan pada Toy Story awal. Meski awalnya ada kesombongan pada diri Buzz, akhirnya mereka berdua bisa berteman bahkan hingga sekuel ketiga Toy Story.Cerita pertemanan dalam film animasi Toy Story ini terpikir semalam hingga pagi ini. Awalnya adalah, ketika memberi kado kepada Gabriel dalam rangka hari ulang tahunnya yang ketiga kemarin, 16 Februari.

Aku memberi kado karakter Buzz kepada Gabriel dan Woody kepada abangnya, Yeremia. Entah sengaja atau tidak, komposisi itu yang terjadi. Bukan sebaliknya. Semalam ketika menyembunyikan mainan itu, aku merenungi lagi bahwa komposisinya sudah pas seperti itu.Woody seperti ejawantah dari Yeremia, dan Buzz ejawantah dari Gabriel.

Yeremia hadir lebih dahulu di keluarga kami. Gabriel adalah si bungsu yang hadir belakangan. Layaknya hubungan sulung dan bungsu di keluarga manapun [yeah,mungkin tidak seluruhnya], aku membaca ada semacam kekhawatiran pada Yeremia bahwa kasih sayang orangtuanya akan berkurang padanya. Beberapa kali, terlihat rasa cemburu padanya akan adiknya.

Terakhir sekali diungkapkannya minggu lalu, saat maminya sedang dinas keluar kota dan hanya ada kami bertiga. Aku,Yeremia dan Gabriel. Dalam perbincangan sebelum tidur, Yeremia mengungkapkan kenapa tidak ada lagi yang sayang padanya. Kenapa semua rasa sayang ada pada adiknya. Terus terang, bukan perkara sulit buatku untuk menerangkan. Karena hal seperti ini sudah beberapa kali diungkapkan terbuka.

Yang membuatku, sedikit sedih adalah dia hampir menangis mengucapkannya.Sebagai orangtuanya, tentu saja aku harus menerangkan, dengan bahasa yang lugas dan gampang dimengerti olehnya. Aku hanya mengajak dia berhitung dulu. “Umur Abang berapa?” Tanyaku. “Delapan tahun” katanya.
“Adek?”
“Tiga tahun”
“Delapan dikurang tiga,berapa bang?”
“Lima”
“Nah, selama lima tahun sebelum adik lahir, abang sudah mendapat banyak dari Papi dan Mami. Sementara, adek baru tiga tahun mendapat perhatian dari Papi dan Mami. Sekarang, lebih besar mana lima dan tiga?”
“Lima”
“Nah itu dia, sebenarnya abang sudah mendapat lebih banyak daripada adek. Abang tidak boleh bilang adek lebih disayang daripada abang. Abang lihat kalau papi dan mami selama ini gak pernah membedakan abang dan adek kan? Malah abang mendapat lebih banyak. Kadang, adek pakai baju bekas abang. Sementara abang dibeliin baju baru.Abang dibeliin mainan PSP, adek enggak. Kalau adek dibeliin mainan, abang pun begitu. Tidak ada yang dibedakan. Abang tahu,kan?”
“Iya,pi”
“Nah,sekarang abang berdoa,dan tidur.Katanya besok mau berenang?”
“Iya,pi” katanya.
Lantas diapun berdoa. Doa ‘standard’ yang senantiasa mengantarkannya tidur. Minta perlindungan juga terhadap papi, mami dan adek. Juga minta supaya tidak ada gempa lagi. Serius! :-)

Begitulah, setelah berdoa diapun tidur menyusul adeknya yang sudah lebih dulu tidur. Papinya lanjut menonton teve.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *