06. Maret 2015 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

“She said there is no reason
And the truth is plain to see”
#A Whiter Shade Of Pale

Procol Harum, Scorpion, Led Zeppelin, dan group (pelantun lagu slow) rock era 70an. Teringat kembali ketika siang ini aku disambangi oleh seorang Tulang. Tulang sapaan kepada saudara lelaki ibu. Tulang ini, dan adiknya yang mengenalkanku pada group di atas. Ketika masih kecil dulu, mereka sering main ke rumah di Medan.

Kebetulan beliau sedang ada urusan di gedung yang sama dimana aku bekerja. Sejak pagi selesai mandi, beliau sudah menelepon. Katanya sudah di gedung ini. Sesampai di aku di kantor, beliau sedang tidak bisa bertemu. Sepertinya sedang mengurus sesuatu di menara satu lagi.

Sekitar jam 11 beliau menelepon lagi. Katanya urusannya sudah selesai dan ingin bertemu. Aku tanya ada di mana, di kantn jawabnya. Dugaan awalku beliau ada di kantin milik koperasi karyawan kantorku. Ternyata di kantin satu lagi. Yang letaknya satu lantai di bawah kantin yang aku maksud.

Aku samperin dia. Karena ketika aku ajak bertemu di cafe dimana aku biasa nongkrong ketika istirahat siang, dia bilang gak paham letaknya dimana. Akhirnya aku ajak ke cafe yang lebih sejuk. Lebih nyaman karena berpendingin udara. Aku tawari makan. Kami makan bersama. Juga merokok bersama setelahnya.

Sedih melihat kondisinya sekarang, dibanding ketika aku pertama kali datang ke ibukota negara ini. Ketika aku samperin dia di kontrakannya waktu itu. Badannya yang semakin kurus. Dada sudah seperti papan cucian, kalau istilah mama. Tapi apa mau dikata. Mungkin memang karena sudah semakin tua. Juga, memang sejak dahulu tak berbakat gemuk. Sejak dahulu memang makannya tak banyak. Roti isi yang aku pesankan buatnya pun tersisa setengah. Hanya the tarik dingin yang dihabiskannya.

Dulu kami menyapanya dengan sebutan Tulang Bos. Karena menurut kami waktu itu lagaknya seperti bos. Bukan dalam arti ngebossy. Lebih kepada penampilan saja. Bayangkan saja dia masuk ke rumah dengan tetap bersepatu. Berkemeja mahal, dan selalu wangi. Rokok sudah Dji Sam Soe. Kalau tiba waktunya mandi, tak pernah langsung mandi. Setelah mengambil handuk, masih butuh berapa lama untuk beliau masuk kamar mandi.

Kuliahnya sudah di Jayabaya. Ya, di Jakarta. Kami masih di Medan. Bekerja dan akhirnya menikah di Jakarta. Kami bere (ponakannya) akan senang jika Tulang Bos sudah datang berlibur ke Medan. Jauh sebelumnya, aku ingat, beliau lah yang mengenalkanku dengan LEGO. Ketika masih di Kabanjahe (sebelum pindah ke Medan) beliau mengirimkan seperangkat mainan lego buatku dan adik adik. Mundur lebih jauh lagi, aku ingat ketika berlibur ke Balige tempat Ompung Siahaan menetap, dan beliau masih bersekolah di kampung. Setiap sore, beliau bertugas menyalakan lampu gas. Agar rumah Ompung terang malam hari. Karena waktu itu, listrik belum ada di Huta Bagasan II, nama kampung Ompung.

Tulang Bos ini pulalah yang dulu marah padaku, ketika tahu aku mengambil jurusan manajemen. Kenapa tidak akuntansi, tanyanya. Delapan belas tahun lalu ketika datang ke kontrakannya di daerah Cempaka Putih, beliau memberiku sun glass RayBan. Memberi sebuah Zippo. Zipponya sudah entah kemana, sun glass masih ada hingga kini. Dia memang baik pada kami berenya. Mungkin itu sebabnya setiap kali aku tahu beliau butuh bantuan, aku tak berpikir lama untuk membantu. Dengan beragam cara. Mungkin tak mewah, pun tak terkesan royal. Namun aku yakin apa yang kulakukan bisa menyelesaikan kesulitan yang dialami.

Kami mengobrolkan apa saja. Tentu saja soal keluarga. Keluarga dari pihak mama. Soal adik adikku. Adik dan kakaknya termasuk mamaku. Mungkin tak banyak yang kami obrolkan. Namun mengingat bahwa pertemuan kami jarang terjadi (karena beliau bertugas di offshore), pertemuan sebentar itu terasa berharga. Dan dalam peretmuan singkat itu, kenangan akan apa yang aku alami, melintas seperti flash back film.

Merasa tak enak karena sudah mencuri waktu kerjaku, beliau mohon pamit. “Mari dulu uangmu seratus buat ongkos” katanya. Aku tertawa menjawabnya sambil membari lebih dari jumlah yang dimintanya. Mungkin tak terlalu banyak. Namun aku gembira bisa bernuat sesuatu padanya selama kurang dari dua jam kami berbincang.

Sehat terus ya Tulang Bos! We love you!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *