28. April 2011 · 3 comments · Categories: politik

Mas Ibas akan menikah dengan mbak Aliya. Sebenarnya sebuah peristiwa biasa. Bukankah selayaknya lelaki dewasa,seumuran dia sudah pantas menikah? Jodohnya sudah ada. Ya,mbak Aliya itu. Namun pikiran isengku sedang menganalisa ini menjadi, peristiwa biasa yang bisa berakibat luar biasa. Dasar analisanya adalah konsep Dalihan Na Tolu (DNT) yang sedikit aku pahami.

Terus terang, aku tidak terlalu tahu apakah pak Beye sudah resmi diangkat menjadi warga DNT sewaktu diberi marga ketika mengunjungi proyek pak Tebe kemarin. Jadi analisa ini berangkat dari asumsi bahwa pak Beye sudah merupakan warga DNT yang taat pada hukum DNT. Kalau bahasa Bataknya,”Ruhut Dalihan Na Tolu” (ah…jadi ingat abang satu itu :-p)

Ada tiga hal yang menjadi dasar hukum DNT yang dirangkai menjadi satu kalimat. Somba marhula hula,manat mardongan tubu,elek marboru. Hula hula,Dongan Tubu dan Boru adalah tiga (tolu) unsur dari DNT.

Supaya lebih mudah memahami, salah satu (atau dua) pengertian hula hula adalah keluarga dari istri kita, atau keluarga dari ibu kita. Dongan tubu adalah mereka yang semarga dengan kita, atau serumpun marga dengan kita. Sekadar memberi contoh, untukku Sianipar adalah hula hula, karena aku memperistri wanita bermarga Sianipar. Siahaan juga kusebut hula hula, karena ibuku bermarga Siahaan.

Selanjutnya, masih pada posisiku, semua yang bermarga Tambunan adalah dongan tubuku. Mereka yang bermarga Silalahi, Sihaloho, Sinurat atau Tambun (ingat,bukan Tambunan) juga dongan tubuku. Karena jika ditarik beberapa generasi keatas, kami masih merupakan satu rumpun marga yang disebut Silahisabungan. Unsur ketiga dari DNT, adalah boru. Gampangnya, boru itu kebalikan dari hula hula. Sianipar dan Siahaan akan menganggap aku borunya. Atau agak sedikit rumit, suami dari saudara perempuanku, dalam hal ini marga Sidabutar, merupakan boruku. Sidabutar ini menyapa aku dengan sebutan hula hula.

Sedikit njelimet? Mudah mudahan enggak. Karena aku sudah berusaha menerangkan dengan bahasa yang paling gampang. Tidak rumit jika sudah membuka hati dan menjalaninya ;-)

Elek marboru berarti, sikap ngemong pada boru kita. Manat mardongan tubu kurang lebih berarti bersikap hati hati kepada teman semarga. Sementara somba marhula hula berarti, menaruh hormat pada hula hula. Yang terakhir dikarenakan, posisi sebagai hula hula merupakan ‘posisi tertinggi’ dalam konsep DNT. Namun bukan berarti harga mati. Artinya, Sianipar atau Siahaan tidak serta merta dan selalu berada dalam posisi tertinggi. Benar kalau melihatnya dari sisi aku. Namun kalau melihat dari sisi Sianipar atau Siahaan, selalu ada saat dimana kedua marga hula hulaku ini, berada pada posisi Dongan Tubu atau bahkan Boru (posisi ‘terendah’).

Demikian juga denganku. Bila di keluarga Sianipar atau Siahaan, aku di posisi boru, jika dibandingkan dengan Sidabutar misalnya, aku berada pada posisi ‘tertinggi’ karena aku hula hula dari Sidabutar. Demikian seterusnya. Tentu tidak segampang itu analoginya. Ada ikatan kekerabatan lain yang menyebabkan seseorang berada pada posisi hula hula, dongan tubu, maupun boru.

Kembali pada ‘peristiwa biasa’ di atas, dihubungkan dengan konsep DNT, bila pernikahan itu kelak terlaksana, maka posisi mas Ibas (juga papanya,pak Beye itu) akan menjadi boru di keluarga pak Rajasa. Sementara posisi pak Rajasa akan menjadi hula hula di keluarga pak Beye. Mirip dengan posisi pak Pohan di keluarga pak Beye. Pak Pohan sebagai hula hulanya. Karena mas Agus menikahi puteri pak Pohan, mbak Anissa yang cantik itu ;-).

Apa yang akan terjadi selanjutnya jika kelak pernikahan ini berlangsung, keluarga pak Beye pasti senantiasa menaruh hormat pada pak Rajasa. Bisa jadi, pak Beye akan selalu menyokong kegiatan pak Rajasa. Lihatlah perbedaannya. Dalam pemerintahan, pak Rajasa adalah pembantu pak Beye. Kalau mengambil analogi DNT, dalam struktur kabinet, pak Rajasa adalah boru pak Beye. Sementara pak Beye adalah hula hula dari pak Rajasa.

Hal itu terbalik bila dilihat pada tatanan berkeluarga dalam konsep DNT. Pak Beye menjadi boru, pak Rajasa menjadi hula hula. Apakah bila sudah tak menjabat kelak, pak Beye sebagai boru akan tetap menyokong pak Rajasa, sebagaimana yang digunjingkan selama ini? Biarlah pak Beye,pak Rajasa atau mas Ibas yang menjawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *