28. Januari 2009 · 3 comments · Categories: Tak Berkategori

Membaca dan berdiskusi pada status teman di facebook, membaca bahwa majelis ulama memberi fatwa haram untuk mereka yang memilih untuk tidak memilih pada Pemilihan Umum [Pemilu], membuat aku berpikir.

Berpikir bahwa sebenarnya banyak yang mau ikut Pemilu. Masalahnya belum ada pilihan yang dianggap layak untuk dipilih. Berpikir bahwa ternyata label Haram bisa dilekatkan pada sesuatu yang tidak nyata atau tidak terlihat, atau untuk tidak melakukan sesuatu.

Karena aku termasuk kelompok yang belum bisa menentukan pilihan, maka aku pikir aku harus membuat semacam daftar yang harus dipenuhi oleh siapapun yang akan aku pilih kelak di Pemilu.

Daftar dari apa yang aku harapkan bisa diberikan oleh seorang calon anggota Badan Legislatif [calon] yang akan aku pilih pada Pemilihan Umum [Pemilu] nanti. Daftar mana yang kalau ada yang bisa memenuhinya akan aku pertimbangkan untuk mencontreng namanya pada kertas suara kelak. Kalau tidak ada yang bisa memenuhinya, mungkin memang lebih baik memanfaatkan hari libur Pemilunya saja untuk nonton tivi kabel, berkebun atau tidur seharian di rumah.

Sang calon, paling lama seminggu sebelum Pemilu harus mengumumkan daftar ini. Caranya, silahkan dipilih. Melalui koran berperedaran nasional, diselipkan diantara siaran sinetron yang memiliki rating paling tinggi saat ini, reality show paling digemari saat ini, atau melalui media lain yang dalam sekali tayang disaksikan sekaligus oleh jutaan orang. Syarat pengumuman ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari syarat yang aku tuntut. Jadi kalau daftarnya dibuat, terus kemudian hanya untuk konsumsi beberapa gelintir orang saja, aku lebih memilih untuk nonton tivi kabel, berkebun atau tidur seharian di rumah.

Calon harus mengumumkan :
Target Pekerjaan Seratus Hari
Pengumuman harus mencakup apa yang akan dikerjakan selama seratus hari pertama si calon, bila telah menjadi anggota Badan Legislatif [Baleg]. Tentu saja, pekerjaan yang diumumkan harus bisa terukur. Pekerjaan tidak termasuk, pindah ke rumah dinas, menjahit jas dan/atau safari baru, mencari mobil dinas baru, apalagi membeli mesin cuci baru. Meski terukur, pekerjaan pekerjaan tersebut hanya berakibat pada si calon dan keluarganya. Bukan pada pemilihnya.

Nilai Kekayaan
Yang harus diumumkan adalah berapa kekayaannya sekarang saat belum terpilih, serta kekayaannya kelak setelah berakhir masa jabatannya. Tidak peduli, masa jabatannya berakhir setelah lima tahun, atau kurang dari lima tahun karena dipecat dari keanggotaan Baleg. Idealnya, pengumuman ‘kekayaan kelak’ dilakukan setelah yang bersangkutan tidak menjabat lagi. Namun bila ada yang bisa melakukannya seminggu sebelum Pemilu, tentu akan lebih bagus buat calon pemilih untuk menilai kinerja si calon. Minimal kinerja dalam mengumpulkan kekayaan.

Berbadan Sehat
Berbadan sehat bisa dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter atau rumah sakit yang biasa menjadi rujukan pemerintah. Berbadan sehat juga termasuk terbiasa hidup sehat. Terbiasa hidup sehat, bisa dengan tidur teratur misalnya. Jangan sampai, bila telah terpilih nanti, ruang sidang dipakai buat tidur. Atau juga sebaliknya, kamar tidur dipakai untuk rapat. Rapat dengan wanita lain yang bukan istrinya,misalnya.

Berbadan sehat juga termasuk pada apakah si calon memiliki ilmu olah kanuragan. Ini penting, agar petugas keamanan bisa mengantisipasi apabila saat sedang sidang, ada anggota Baleg yang mendadak mendatangi meja pimpinan lalu main jotos seenaknya kepada pimpinan sidang.

Berbadan sehat juga termasuk tidak ada kecenderungan jiwanya terganggu bila kelak tidak terpilih. Cukuplah sekali mengetahui ada calon pemimpin daerah yang berlari telanjang karena gagal dalam pilkada. Tentu saja kita tidak mau melihat ada ribuan orang yang melakukan aksi yang sama. Bisa masuk buku rekor dunia, negara ini.

Tidak Paham Teknologi
Secara tidak langsung masih terkait dengan alih fungsi kamar tidur sebagaimana disebutkan pada poin sebelumnya. Bukan apa-apa, capek-capek nyari gambar adegan mesum anggota Baleg, eh malah cuman setengah badan. Itupun masih dibantah dengan mengatakan bahwa saat itu difoto di kolam renang. Atau jangan sampai, niatnya bikin kenang-kenangan saat sedang bersama ‘artis’, malah mempertontonkan aurat yang ‘ukurannya gak seberapa’. Jadi lebih baik kalau mau menjadi anggota Baleg, gak perlu henpon berkamera atau memiliki kamera digital. Dengan demikian tidak banyak pemilih yang dikecewakan.

Memiliki Pengalaman Berorganisasi
Tujuannya adalah agar sang anggota, pada saat mengikuti sidang dan ditayangkan oleh televisi, beliau dapat berbahasa dengan baik. Dapat menyampaikan gagasan dengan terstruktur dan rapi. Hal ini penting, agar para pemilih tidak kecewa dan bingung. Apakah dulu memilih untuk anggota Baleg atau memilih untuk menjadi preman pasar.

Selain mengumumkan hal-hal tersebut, aku juga mensyaratkan sang calon anggota Baleg harus menandatangani surat pernyataan. Tidak perlulah diatas kertas bersegel atau bermeterai. Karena toh akan diumumkan sekaligus kepada jutaan orang. Juga, cukup diketik rapi atau tulisan tangan yang bisa dibaca. Pernyataan ini menyangkut :

Bersedia Mundur
Si calon harus bersedia mundur, apabila setelah diadakan evaluasi oleh pemilihnya, entah itu atas kinerja atau hal lain, ternyata sang calon dinilai dianggap tidak mampu oleh setengah plus satu dari suara yang dulu diperoleh si calon untuk lolos ke Senayan. Hal ini penting agar kelak tidak ada dalih, bahwa di negara ini tidak ada budaya mengundurkan diri.

Bersedia Tidak Punya Paspor
Bila saat ini si calon sudah memiliki paspor, silahkan dibatalkan. Bila belum, si calon tidak perlu membuat paspor selama menjadi anggota Baleg. Tujuannya adalah agar kelak,tidak bisa melakukan studi banding keluar negeri. Karena, daripada melakukan studi banding, lebih baik melakukan kunjungan kerja di daerah pemilihannya dan melakukan pertemuan dengan mereka yang telah memilih.

Biasa Makan di Warteg dan Ngopi di Warkop
Dengan demikian, lobi politik tidak harus dilakukan di hotel berbintang atau di cafe ternama. Tujuannya tentu saja agar ada penghematan. Agar gaji sang anggota Baleg, dapat lebih berguna. Berguna buat partai, karena ada setoran khusus buat partai asalnya. Dan tentu saja berguna buat keluarga. Karena dengan jadwal rapat dan materi bahasan yang luar biasa banyak, gaji yang diterima saat ini pastilah tidak cukup. Apalagi bila harus dipotong biaya lobi lobi politik mahal.

Bersedia Melakukan Reboisasi dan Membersihkan Lingkungan
Pernyataan ini penting kepada calon Baleg yang selama kampanye telah melukai pepohonan saat menempel poster atau gambar kampanye di pohon. Menempel stiker di tembok atau tiang listrik atau memasang spanduk besar-besar di persimpangan jalan. Karena setelah kampanye berakhir, maka poster,stiker atau baliho akan segera menjadi sampah.

Sementara itu dulu syarat dari aku. Kalau nanti terpikir yang baru, aku janji akan update. Demikian juga, jika kalian yang membaca punya syarat lain, monggo ditambah. Jadi kalau ada calon yang bisa memenuhi syarat seperti ini, aku akan mempertimbangkan membatalkan nonton tivi kabel, berkebun atau tidur seharian di rumah pada saat Pemilu nanti.

3 Komentar

  1. r.h. sibuea

    hua..ha..
    Lihat CALEG searang lucu, poster-poster “mengotori” kota jadi kelihatan seperti sampah dan murahan. Terus terang jaman Suharto jika ada saudara CALEG, hebohnya luar biasa tapi sekarang jika ada CALEG kita malah berujar..”ha..asi roha mamereng i, CALEG alai pogos?”
    CALEG..rata-rata secara ekonomi cukuplah…punya rumah, mobil AVANZA/KIJANG dan job dibawah manajer…tapi masih juga “tertawanhatinya” seperti pasien PONARI…ingin lebih hebat”ANGGOTA DPR”…(berminpi) mobilnya jadi Alphard, rumahnya di PI dan jika diacara adat dia akan terus dibicarakan, dan tempat duduknya dipesta didepan terus dan datangnya terlambat karena selalu ditunggu-tunggu? Itukah yang kita cari?
    Akh..jika pemilu nanti aku mending “memuji dan memuliakan ALLAH di GEREJA serta merefleksikan hidupku sudahkah berguna bagi diriku dan keluargaku? “BOLO AU DOHOT SAJABUKKU INGKON JAHOBA DO…PEMILU NANTI SAJA DI COBLOS PRESIDEN..KE GEREJA AKH!

  2. hahahaha…aku gini gini ajalah. gak perlu sampe jadi anggota panwaslu segala :-D

  3. Laé,
    dirimu jadi KPU + Panwaslu saja.. dijamin tokcer..!!!

    Memilih untuk tidak memilih adalah suatu pilihan..
    [choose not to select is an option]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *