25. November 2015 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Meskipun aku dapat berbicara dengan berbagai bahasa manusia, bahkan dengan bahasa malaikat sekalipun, tetapi aku tidak mengasihi orang lain, maka ucapan-ucapanku itu hanya bunyi yang nyaring tanpa arti

Kalimat di atas adalah pembuka perikop yang dibacakan ketika menghantar Lady Di ke peristirahatan terakhir. Tanpa melihat sumbernya yang dari kitab suci, menurutku konteksnya masih nyambung dengan soal penampil di panggung.

Apa artinya jika aku bisa menyanyi layaknya Josh Groban tapi penonton tidak paham. Apa jadinya jika aku bisa memainkan gitar layaknya Steve Vai, jika penonton tidak suka? Apa artinya jika Houdini diikat dalam air, dikubur terikat dalam tanah namun penonton tidak terhibur?

Tantangan selanjutnya adalah benar bahwa penonton bisa memilih untuk meninggalkan kita ketika mereka tidak suka. Namun dari sisi penampil, yang kita harusnya bisa lakukan adalah menampilkan sesuatu yang kita yakini sebagian besar penonton akan menyukainya. Agar penampilan kita tidak sia sia.

Sebab, apalah artinya mulut berbusa menyanyi, jari memar memetik gitar, nafas habis ketika berada dalam air jika semua penonton meninggalkan panggung di mana kita tampil?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *