10. Agustus 2016 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Ternyata ada juga gunanya tidak perlu ngoyo dan terburu buru naik ke pesawat. Setidaknya kali ini menjadi berkah tersendiri.

Setelah kemarin penerbangan ditunda selama kurang lebih tiga jam. Hari ini penerbangan kembali ke Jakarta pun memgalami penundaan. Menurut jadwal, penerbangan GA247 yang akan membawaku pulang, terbang pada pukul 19.25 WIB. Mendatangi meja pendaftaran sambil menyerahkan tiket elekteonik, aku bertanya apakah pesawat sesuai jadwal. “Terlambat kurang lebih dua puluh menit pak” jawab mbak petugas. “Penerbangan sebelumnya?” tanyaku. “Juga terlambat. Mungkin nanti keberangkatannya tidak akan berbeda jauh”. Aku mengasumsikan ini akibat dari belum beriperasinya Terminal 3 Ultimate yang resmi digunakan sejak kemarin. Hal itu dikuatkan dengan obrolan dengan penumpang lain yang menunggu di ruang tunggu.

Boarding Pass yang telah dicetak, langsung aku lipat bersama dengan kartu tanda penduduk. Persiapan untuk pemeriksaan di pintu masuk ruang tunggu dan pintu menuju pesawat. Akupun menunggu dan berbaur dengan beberapa penumpang lain yang ternyata menghadiri acara yang sama dengan yang aku hadiri hari ini. Bahkan juga manajemen perusahaan pengundang.

Panggilan yang ditunggu ratusan penumpang pun terdengar. Wajah muram dan malas karena menunggu meski telah diberikan sekotak makanan ringan, langsung sumringah. Kami bergegas menuju pintu dua. Seperti biasa aku mempersilahkan penumpang lain untuk berbaris di depan. “Ayo bang” ajak seorang teman yang sudah kukenal lama dan baru bertemu sore ini meski tadi siang berada di acara yang sama. “Silahkan duluan” jawabku. Nanti aku menyusul. Kita bertemu di Cengkareng” tambahku.

Ketika tersisa dua orang sebelum meja pemeriksaan terakhir, baru aku sadari bahwa nama yang tertera di Boarding Pass ternyata bukan namaku. Nama akhir sama Tambunan. Bedanya di nama depan, tertulis Junjungan. “Mungkin si mbak salah baca” pikirku dalam hati. Aku sodorkan boarding pass dan KTP. Aku melangkah keluar gedung. Sayangnya tentengam oleh oleh ditahan petugas dengan alasan penumpang penuh. Kata mereka, akan dimasukkan bagasi. Meski berusaha menawar dengan mengatakan akan meletakkannya di bawah kursi, petugas tetap meminta. Akhirnya aku mengalah. Melangkah santai ke tangga pesawat. Terlihat dari bawah sebagian besar kursi telah terisi.

Melangkah masuk pesawat, aku memperhatikan dan menduga posisi kursi 28C sebagaimana tertulis di boarding pass. “Lho! Kenapa sudah terisi?” Batinku. Sesampai di kursi yang dituju aku menunjukkan boarding pas kepada pramugari yang kebetulan menjaga di baris 29. Dan meminta boarding pas penumpang yang duduk di 28C. Sekilas terlihat namanya sama. “Gawat” batinku. Namun tetap tenang. Mbak pramugari membawa boarding pass ku ke depan. Aku mengikuti karena tidak nyaman berada di kursi kosong sebelah 28C sementara ada satu dua orang penumpang yang sedang menuju kursi belakang. Aku menuju pintu masuk di depan. Dekat pintu kokpit. Sambil memperhatikan petugas darat saling berkomunikasi. Seorang pramugari bertanya. Aku menerangkan singkat masalahnya. “Tenang saja pak tunggu di sini” katanya seolah memberi harapan. “Sepanjang aku tidak diminta terbang dengan penerbangan berikut” jawabku getir. Membayangkan semakin malamnya perjalanan pulang.

Kemudian salah seorang petugas darat mendatangiku. Sepertinya masalah selesai. “Silahkan bapak duduk di kursi 8C” kata si petugas. “Heh!?” Akhirnya solusi itu yang dipilih. Akhirnya aku duduk di satu satu satunya kursi kelas bisnis yang tersisa. Sambil kagok ini bagaimana mengoperasikannya? Sudah sepuluh tahun lebih tidak duduk di kelas bisnis. Pertama kalinya ketika almarhum bapak ‘pergi’. Karena mendadak memesan tiket, akhirnya aku membeli kursi penerbangan Garuda yang tersisa.

Minum ditawarkan. Biasanya pakai cangkir plastik, kali ini pakai gelas. Handuk panas ditawarkan. Biasanya pakai tisu basah penyegar. Makanan ringan ditawarkan. Dalam nampan dengan serbet. Biasanya kotakan saja. Perasaan kagok semakin menjadi ketika aku tidak bisa melipat meja dengan sempurna. Dua tiga kali mencoba hampir keringat dingin dan malu kepada bapak yang duduk di kursi 8H sebelahku. “Ya…maaf. Saya biasa naik omprengan pak. Itu juga di posisi kasta terendah. Yang ongkosnya lima belas ribu, dan kadang kaki kesemutan karena menahan posisi duduk yang tak nyaman” batinku dalam hati.

Mendadak aku teringat. Dua direktur dari perusahaan yang mengundang untuk acara hari ini, justru duduk di kelas ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *