05. Februari 2014 · 2 comments · Categories: Tak Berkategori

Dia duduk di sebelahku. Di Kursi 44C penerbangan Garuda GA323 dari Juanda menuju Soekarno Hatta. Kalau dilihat dari cara makannya, harusnya beliau seorang terpelajar. Setidaknya menurutku.

Bagaimana tidak. Dalam penerbangan berjarak pendek ini, yang dibagikan hanya snack. Bapak berkemeja batik ini merasa perlu untuk melebarkan tissue kertas yang ada di kotak snack untuk kemudian diletakkan di pangkuannya. Barulah beliau menyantap dua roti dan meminum air putih yang disediakan.

Berbeda dengan aku yang langsung makan aja snack tersebut. Tanpa peduli ada tata cara makan terhormat (table manner) :-D. Sikap santun si bapak masih dilanjutkan dengan mengantar sendiri kotak snack yang kosong ke belakang. Ke stasiun kru pesawat. Mungkin bukan sengaja mengantar. Bisa jadi sekalian ke kamar kecil. Tapi kalau dilihat sekilas, amboi sekali sikap itu.

Namun jangan langsung percaya dengan adegan yang aku gambarkan tersebut. Meski menumpang maskapai mahal, kelakuannya tetap minus. Pesawat baru berhenti, beliau dengan gagahnya langsung berdiri. Mengambil dua tas di kabin. Kemudian dengan sikap sempurna, bengong menunggu dalam antrian. Di belakang penumpang lain yang akhirnya bersikap sama. Karena memang belum bisa keluar. Garbarata baru akan dilekatkan ke pintu depan.

Oke. Itu belum seberapa. Yang paling norak adalah blackberrynya yang menggunakan casing tambahan dari karet berwarna kuning ala abege, tidak dimatikan sepanjang perjalanan. Aku tahu, mungkin sinyalnya tidak terlalu mengganggu penerbangan sebenarnya. Namun sikap noraknya telah membuyarkan segala sikap (termasuk table manner yang mungkin untuk memelajarinya di sekolah sekolah pengembangan kepribadian butuh biaya yang tidak sedikit. KAMPUNGAN

2 Komentar

  1. Kontras sekali, ya: antara cara makannya dengan perilakunya. Untung saya belum pernah menemukan jenis makhluk seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *