20. Januari 2014 · 3 comments · Categories: Tak Berkategori

20140120-084000.jpg

Beginilah suasana Senin pagi di gerbang masuk Vila Jatibening Tol. Tempat yang entah sudah berapa lama menjadi ‘terminal bayangan’ bagi pekerja yang bermukim di sekitar Jatibening, hendak berangkat ke Jakarta. Aku pakai istilah ‘Terminal Bayangan’ karena yang mangkal di sana bukanlah angkutan umum resmi.

Disebut angkutan umum, karena mengangkut banyak orang. Kenapa tidak resmi, karena memang bukan angkutan umum sebagaimana diatur oleh ketentuan. Biasanya angkutan umum berplat nomor polisi kuning. Kalau yang mangkal di sini, plat nomor polisi hitam. Ya. Sepertinya memang kendaraan pribadi yang dijadikan kendaraan umum. Mereka ini biasa disebut omprengan. Entah bagaimana asal mulanya. Sejak 15 tahun lalu aku bermukim di Bekasi dan bekerja di kawasan Sudirman Jakarta, sudah demikian adanya.

Mungkin dulu diawali oleh satu dua kendaraan saja. Mungkin juga diawali oleh kendaraan antar jemput anak sekolah yang ingin mendapat penghasilan tambahan. Karena dulu ada beberapa kendaraan tempat duduknya sudah direnovasi layaknya angkot. Sekarang, kendaraan seperti itu sudah tak ada. Digantikan jenis kendaraan minibus seperti Luxio atau GrandMax.

Tujuannya beragam. Setidaknya ada yang ke Blok M, Kuningan, atau Thamrin. Dulu ada yang ke arah Grogol. Sekarang tak terdengar lagi. Yang ke arah Blok M pun, sepertinya tujuannya sudah dikurangi. Kalau dulu mencapai Blok M. Sekarang hanya sampai Ratu Plaza. Biasanya kendaraan rute inilah yang aku tumpangi. Silahkan naik yang arah Komdak Ratu dengan tarif 13 ribu. Daripada berkendara sendiri, sepertinya pilihan yang logis.

Penumpang berasal dari sekitar Jatibening. Biasanya moda pemadunya adalah ojek atau diantar oleh keluarga. Turun dari ojek, calon penumpang langsung menuju mobil yang sudah ditempatkan sesuai dengan tujuan masing masing. Setidaknya terdapat dua petugas yang mengatur mobil mobil itu. Mirip seperti ‘timer’ di terminal resmi. Setiap satu mobil penuh dan siap jalan, kepada dua timer ini, pengemudi menyerahkan sejumlah uang. Kurang tahu persis jumlahnya. Kalau dulu, ketika dengan Daihatsu Ceria yang kecil itu, aku pernah berpartisipasi, aku menyerahkan 3 ribu kalau tidak salah. Untuk empat penumpang yang aku bawa.

Soal kenyamanan, jangan ditanya. Sama seperti di kendaraan umum Jakarta pada umumnya. Bedanya dengan berkendara bis, omprengan tak mengenal penumpang berdiri. Namun setidaknya ada beberapa kasta dalam omprengan ini. Paling depan yang biasa diisi dua penumpang, boleh diisi sendiri. Dengan catatan bayar dua. Di tengah yang biasanya bisa diisi dengan empat orang, boleh diisi dengan tiga orang saja. Dengan catatan, ketiga orang ini sepakat bahwa bayaran mereka bertiga sudah menutup satu orang penumpang. Jadi jika biasanya seorang bayar 13 ribu, demi nyaman mereka bolehlah membayar masing masing 17-18 ribu.

Paling belakang adalah ‘kasta’ terendah. Biasanya diisi dengan enam orang. Tidak peduli Luxio, Kijang atau Panther (dengan tempat duduk miring berhadapan). Mungkin jika penumpang sedang sepi dan ada penumpang yang sedang buru buru, di sini juga bisa diakali. Seorang akan bayar dua seat, agar mobil segera jalan.

Itulah yang tidak terjadi Senin pagi ini. Tiba di lokasi sekitar jam setengah tujuh, tidak ada mobil yang sedang ngetem. Suatu yang tak biasa. Jadilah aku mengantri. Bersama penumpang lainnya. Jika sudah begini, perjuangan dimulai. Setiap ada kendaraan yang masuk (biasanya jenis mobil sebagaimana aku sebut di atas) para penumpang ini akan berebutan untuk masuk. Kadang, bahkan ketika mobil belum berhenti sempurna. Perjuangan menunggu mobil ini, diganggu dengan turunnya hujan. Beruntung ada rimbunan bambu yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh.

Sama seperti terminal bayangan yang ada setelah pintu bayar tol Jatibening arah Jakarta, menurutku ini salah satu problem mereka yang tinggal di sekitar Jatibening. Sulitnya kendaraan umum. Mau menggunakan KRL, jaraknya terlalu jauh mencapai stasiun. Mau menggunakan bis pun sama saja. Mereka harus ke Bekasi dulu untuk mecapai terminal bis. Menggunakan angkot ke melalui Kalimalang, tidak cukup akses kesana. Pun butuh kesabaran sendiri melintasi kalimalang. Menggunakan kendaraan sendiri, sudah macet, masih juga dikatain sebagai penyebab kemacetan :p.

Mau gak mau dinikmati saja. Sementara dari informasi yang terkumpul sambil menulis tulisan ini, tol Cikampek/Bekasi menuju Jakarta katanya stuck. Ada yang menepuh dua jam dari Bekasi hingga tol Halim. Yang mungkin ketika hari biasa ditempuh paling lama dalam satu jam.

Mau menyalahkan Jokowi? Menyalahkan Aher? Enggaklah. Ini selalu salah yang kena macet. Kenapa gak berangkat lebih pagi? Hahahaha

3 Komentar

  1. D cari penumpank arah tangerang-jakarta dan sekitarnya tarif 20.000@org minat add bbm:54d2b370

  2. Howdy! Do you know if they make any plugins to help with SEO?
    I’m trying to get my blog to rank for some targeted
    keywords but I’m not seeing very good success. If
    you know of any please share. Many thanks!

  3. Thanks in favor of sharing such a nice thought,
    article is good, thats why i have read it completely

    Here is my web blog how to potty train your child

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *