Apa yang ditunggu investor Indonesia akhirnya terwujud. Satu unicorn lokal akhirnya melakukan penawaran umum saham. Menjual sebagian saham mereka kepada publik dan kemudian tercatat di Bursa. Euphoria pun terjadi.


Jauh sebelum tercatat di Bursa, banyak yang menanyakan kabar kapan akhirnya perusahaan ini (dan perusahaan sejenis) akan tercatat di Bursa. Entah terbawa suasana tercatatanya perusahaan sejenis di Bursa luar atau mungkin mereka tidak sabar untuk membeli dan kemudian menjadi pemilik perusahaan rintisan bernilai satu miliar dollar amerika. Ketika beberapa hari sebelum perusahaan itu tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan turun yang mengindikasikan banyak aksi jual di pasar, banyak yang bilang investor sedang butuh uang tunai untuk belanja (membeli saham) perusahaan itu.


Ketika akhirnya mereka siap untuk memulai proses initial public offering, permintaan melonjak. Dengan kondisi over subscribe (kelebihan permintaan) 8 kali. Konon terdapat 100 ribuan investor yang memesan meskipun akhirnya hanya 90 ribuan yang mendapat penjatahan. Tidak sedikit yang mengeluh karena tidak kebagian di pasar perdana. Mereka berjanji akan membeli di pasar sekunder. Mungkin sambil mambayangkan keuntungan yang sudah di depan mata.


Pada hari pertama tercatat, sebagaimana biasa perusahaan yang baru tercatat, harga sahamnya melejit. Ditutup pada harga Rp1.060,00 yang jika dibandingkan dengan harga penawaran perdana yang Rp850,00 naik sekitar 24,71%. Tidak ada investor yang mau menjual sahamnya. Tidak ada antrian di sisi kanan (menjual). Semua antrian ada di sebelah kiri (membeli). Demikian juga kondisi pada hari kedua. Sepertinya euphoria masih ada. Harga tertinggi sempat menyentuh level Rp1.325,00. Jika pada hari pertama tercatat nilai transaksinya hanya sekitar 500 an miliar, tidak demikan pada hari kedua. Nilai transaksi mencapai 4,4 triliun rupiah! Mungkin ini disebabkan, mereka yang tidak kebagaian di pasar perdana, sedang belanja. Perburuan harus dilanjutkan.


Tidak demikian dengan hari ketiga. Keadaan berbalik. Antrian berada di sebelah kanan. Investor ramai-ramai menjual. Dampaknya harga saham turun. Ditutup pada harga Rp1.035,00 meskipun sempat mencapai harga tertinggi Rp1.160,00 dengan nilai transaksi yang hanya berkisar 1 triliun rupiah. Sebagian mengatakan, harganya diselamatkan oleh batas bawah auto rejection yang lebih kecil dibanding batas atasnya. Kalau tidak harga saham perusahaan itu akan kembali pada harga perdana, kata mereka. Yang kalau diteruskan bisa jagi bahkan lebih rendah. Ternyata keriuhan hanya bertahan dua hari. Apa yang terjadi. Entahlah. Biar investor dan analis yang menilai.


Dari sisi aplikasi yang menjadi andalan mereka, investor memberi ‘hukuman’ terhadap perusahaan tersebut. Dengan beramai-ramai memberi rating satu. Bisa jadi ini ulah mereka yang merasa dirugikan oleh pergerakan harga saham dalam tiga hari perdagangan. Kasihan.
Entah apa yang ada di benak investor kita. Saat belum tercatat, saban hari bertanya kapan tercatat. Ketika sudah tercatat, malah dilepeh. Dibuang di pasar sehingga harga turun. Ketika harganya turun, mungkin yang kadung membeli di harga 1.300an dan tersadar aset mereka hilang dalam hitungan hari (jam?). Karena ternyata harganya longsor.


Padahal ketika menawarkan saham kepada publik, perusahaan sudah buka-bukaan soal kondisi mereka. Bentuk bisnisnya seperti apa, ke depannya akan seperti apa, kondisi keuangannya seperti apa. Bukankah membeli perusahaan adalah membeli masa depan? Beli sekarang dengan harapan pada masa mendatang perusahaan akan berkembang dan membesar. Dengan demikian nilai perusahaan juga ikut membesar. Hal tersebut akan tercermin pada harga saham yang naik. Idealnya begitu. Kalau tidak yakin dengan masa depan perusahaan, ada pilihan untuk tidak membeli. Karena tidak ada paksaan dalam membeli (saham) perusahaan. Semua kembali pada keputusan sendiri. Kapan hendak membeli dan kapan akan menjual.
Selain itu penting juga memahami kalau uang yang digunakan untuk berinvestasi haruslah uang dingin. Bukan uang belanja dapur. Sehingga ketika berharap untuk meraih untung ketika membeli pada harga tinggi dengan harapan harga akan naik lebih tinggi, malah amsyong karena kenyataan berkata sebaliknya, tidak ada penyesalan.


Semoga meningkatnya ketertarikan untuk mulai berinvestasi melalui pasar modal (saham), juga diiringi dengan peningkatan pemahaman akan itu semua. Sejatinya hasil investasi tidaklah diperoleh dalam waktu semalam. Paham, Punya, Pantau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *