29. Agustus 2015 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Pembicaraan sedang berlangsung seru serunya*) di lantai dua lapo Marpadotbe Kalimalang, ketika sepasang [sepertinya] suami istri memasuki ruangan. Sang suami mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna cokelat, sementara istrinya dengan rambut digelung, mengenakan brokat oranye dengan kain panjang. Rapi terkesan resmi. Berbeda dengan kami yang sebagian besar berpakaian santai. Kami yang sedang berbincang menoleh sebentar kepada mereka berdua menerima salam. Sambil bersalaman kemudian -sebagaimana biasa menyikapi anggota kumpulan yang terlambat bergabung setelah semua peserta telah selesai makan- mempersilahkan suami istri itu langsung makan.

Mereka pun mengambil makanan tanpa menyelesaikan proses bersalaman dengan seluruh kami yang hadir. Toh kami sudah mempersilahkan mereka langsung makan. Pembicaraan seru kami lanjutkan. Sambil tak butuh waktu lama kami saling melirik dan bertanya satu sama lain. Sambil berbisik, siapa gerangan yang baru datang. Karena yang berkumpul adalah panitia pesta yang kebetulan berdomisili di Bekasi. Kami mengenal satu sama lain anggota panitia. Kalaupun mereka bukan panitia, sebagian besar diantara kami yang berkumpul, cukup rajin datang ke pesta. Dan tak ada satupun yang hadir ternyata mengenal suami istri yang sedang menikmati makan siang ala Marpadotbe.

Sampai akhirnya ada satu ibu peserta pertemuan kami, bertanya kepada mereka. Sambil berbisik. Yang lain mencoba curi pandang kepada pasangan tersebut. Sebagian lagi mungkin masih bertanya dalam hati. Pembicaraan seru masih berlangsung. Suara masih menggelegar. Aku merasa iba pada pasangan itu.

Bukan hanya satu ibu yang bertanya pada pasangan tersebut. Ada dua atau tiga ibu yang berusaha merapat kepada pasangan tersebut sambil berbisik. Ketika makan siang mereka telah tandas. Bahkan satu orang bapak yang kami tuakan di kumpulan, menyempatkan diri bertanya kepada mereka. Di pojokan ruangan.

Ternyata mereka bukan bagian dari marga kami. Hanya tamu salah kamar yang katanya akan hadir pada satu acara adat Batak. Namun sepertinya bukan di Marpadotbe. Karena ruangan lantai dua kami booking sampai jam empat. Dan sore hari tidak ada acara setelah kami.

Perbincangan seru mulai menurun ketika beberapa peaerta pamit. Yang lain pun sepertinya bersiap beranjak. Pertemuan segera kami akhiri. Ketika itulah aku sadar, pasangan tersebut sudah tidak berada lagi di ruangan. Mungkin mereka sudah turun.

Dalam perjalanan pulang bersama mama, kami membahas pasangan ajaib nan nekat tadi. Dan komentar Ompung Yeremia dengan wajah lempeng, “banyak pulak itu makannya…

————
*)Untuk membayangkan keseruannya silahkan bayangkan suasana Indonesia Lawyers Club ketika Hotman Paris Hutapea dan Ruhut Sitompul mempermalukan diri berdebat di layar kaca. Tidak sepenuhnya mirip. Anggaplah setengahnya. Bedanya untuk situasi kami, bukan hanya dua yang beradu mulut argumen. Minimal ada enam orang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *