14. Juni 2016 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

“Udah keras itu ikan terinya. Masih tetap kau bawa nasi? tanya Ompung Yeremia pagi ini. “Masih” jawabku. “Gak Masalah” lanjutku. Akupun bergegas mandi. “Perlu dibuatkan telur ceplok?” tanyanya lagi ketika aku telah selesai berpakaian, meski tadi sudah menjawab tidak masalah.

Iya sih. Semalam makan malam menggunakan lauk ikan perang itu. Ikan perang adalah sebutan ngasal kami dahulu. Ada ragam istilah yang kami buat dahulu. Ikan paku atau ikan labang [labang adalah bahasa Batak paku] karena bentuknya yang “lucu” seperti paku. Terutama ikan teri yang besar itu :-) Semalam sebelum makan malam, Ompung Yeremia seperti mengingatkan, “Adanya ikan teri tawar” katanya ketika aku membuka tudung saji. Buatku tak ada masalah.

Jarang aku mempermasalahkan makanan. Satu-satunya masalah buatku soal makanan adalah jika nasi dan lauknya masih panas. Selalu ketika hendak makan, aku akan mendahulukan mengambil nasi yang bukan berasal langsung dari penanak nasi listrik (rice coocker). Karena jika langsung dari penanak nasi, pasti masih mengepulkan asap. Dan memakannya aku akan merasa tersiksa karena tidak bisa langsung menikmati. Selain tangan panas, karena aku jarang menggunakan sendok kalau makan, aku juga harus meniup nasinya terlebih dahulu supaya dingin dan nyaman di mulut. Jika tidak ada lagi nasi dingin, aku akan mendinginkan sebentar, nasi yang aku ambil dari penanak nasi. Sering perilaku itu terganggu [terutama malam jika pulang dari kantor, misalnya] karena berdasar kebiasaan, Ompung Yeremia akan memanasi lauk terlebih dahulu. Ya sama saja bohong! :-(

Kenapa aku bawa nasi ke kantor? Kembali lagi soal kebiasaan. Aku tak terbiasa ribet dengan urusan makanan. Saat makan siang tiba, aku tidak suka berpikir lama untuk memutuskan siang ini makan siapa, bersama siapa, atau di mana. Karena kebetulan kantor sudah menyiapkan makan siang. Aku tinggal masuk ruang makan, isi absen, ambil makanan. Semudah itu. Nah selama bulan Ramadhan, kalau tidak salah dua tahun terakhir, fasilitas itu ditiadakan. Barulah aku bingung. Di gedung kantor ini ada beberapa tempat makan. Di mall seberang kantor apalagi. Tapi kembali, aku gak mau ribet dengan sekadar urusan makan. Jalan paling mudah adalah membawa bekal dari rumah. Dengan segala konsekuensi, sebagaimana ikan paku di atas :-)

Pembicaraan singkat soal ikan paku tadi pagi juga mengingatkan aku pada masa kecil. Teringat termos cokelat Bapak yang selalu dibawa ke kantor. Juga berisi makan siang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *