21. September 2009 · 1 comment · Categories: Tak Berkategori

Setelah sempat membuat umat bertanya tanya, akhirnya pemerintah menetapkan 1 Syawal 1430H jatuh pada hari Minggu, 20 September 2009.

Pertanyaan umat, boleh dibilang masuk akal, juga boleh dikatakan kurang tepat.

Masuk akal, karena berdasarkan kalender yang beredar dan digunakan secara ‘resmi’, hari raya Lebaran jatuh pada tanggal 21 dan 22 September 2009. Kenapa resmi aku pakaikan tanda petik, karena penanggalan ini lazim disebut tahun Masehi. Berbeda dengan penanggalan Islam, yang mengacu pada masa edar bulan, kalender Masehi mengacu pada masa edar matahari.

Dengan perbedaan ‘sudut pandang’ penghitungannya, harusnya Lebaran yang jatuh pada tanggal 21 September sebagaimana dicantumkan pada penanggalan Masehi, harusnya memang belum menjadi patokan. Karena penentuan bulan baru dalam penanggalan Islam, memerlukan proses yang sering disebut hisab dan rukyat. Hasil proses inilah [di Indonesia dilaksanakan oleh Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama] yang diumumkan oleh Menteri Agama [bersama sama perwakilan organisasi Islam dan beberapa duta besar negara Islam] pada sehari sebelum hari raya Lebaran.

Namun celakanya, Menteri Agama pulalah yang bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Tenaga Kerja, dalam beberapa tahun terakhir mengeluarkan Surat Keputusan Bersama yang menetapkan beberapa hari dalam setahun [yang beberapa diantaranya berdekatan dengan hari libur karena hari besar agama] yang ditetapkan sebagai hari cuti bersama. Disinilah awal kebingungan terjadi. Karena disatu sisi Menteri Agama seolah melegitimasi penanggalan Masehi, sementara disisi lain seharusnya beliau menunggu hasil sidang Badan Hisab tadi.

Sepanjang yang aku ingat, Lebaran kali ini pertamakalinya ada perbedaan antara penanggalan Masehi dan penanggalan Islam dalam hal penentuan Idul Fitri. Selain ini, tentu saja kita ketahui, beberapa kali terjadi perbedaan hari raya antara dua organisasi massa Islam terbesar di tanah air. Mungkin karena diluar kebiasaan itu, ditambah tanggal Masehi 1 Syawal kali ini yang unik [20-09-2009] memunculkan pertanyaan seorang sahabat. Apakah disengaja untuk jatuh pada tanggal ‘angka cantik’? Entahlah.

Disadari atau tidak, [mudah mudahan hanya pikiran nakalku saja] perbedaan ini menimbulkan efek yang mungkin secara ekonomis harus dihitung lagi. Karena ada beberapa teman yang terpaksa pontang panting melakukan perubahan atas reservasi hotel yang telah dilakukan jauh hari sebelumnya, akibat Lebaran yang dimajukan. Belum lagi rencana mudik yang sudah jauh hari direncanakan, harus dirubah. Yang semalam terpikir olehku juga adalah, efek perbedaan ini terhadap ritual keagamaan. Apakah pergeseran mendadak ini berakibat pada Takbiran yang biasanya menandai berakhirnya bulan Ramadhan.

Apapun itu, melalui postingan ini, aku juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H kepada semua sahabat yang merayakan. Semoga kembali ke fitrah sebagai manusia. Amin.

1 Komentar

  1. Ironis memang,karena ummat islam masih meributkan masalah yang kecil..sementara masalah yang besar ummat islam diam seribu bahasa.dimana saat ini Zionis Israel laknatullah telah bertindak semena-mena terhadap saudara-saudara ummat islam di palestina,bahkan sebentar lagi mungkin mereka akan menghancurkan masjidil Aqsa dan Al Quds…mana tindakan ummat islam,bahkan negara-negara arab hanya diam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *