16. Januari 2009 · 4 comments · Categories: Tak Berkategori

Seperti biasa hari Jumat, setelah menyantap jatah makan siang yang disediakan di kantin oleh perusahaan, aku nongkrong di sebuah kedai kopi yang terletak di lantai satu gedung dimana kantorku berada. Tujuannya, selain untuk bisa merokok sambil menyesap kopi, juga sekadar bersosialisasi dengan kolega sekantor sambil ngomong ngalor ngidul tentang apa saja. Tentu saja diselingi canda dan tawa.

Begitu juga siang ini. Saat pesananku datang, melintas di hadapanku tiga orang pengunjung. Seorang perempuan ditemani dua orang laki laki yang menenteng minuman dari kedai kopi lain. Kedai kopi yang terkenal dengan logo lingkaran hijaunya. Dan sepertinya sudah menjadi lebih dari gaya hidup daripada menjual produk dasarnya. Kenapa aku katakan seperti itu, karena akhir akhir ini sepertinya semakin banyak warga Jakarta, terutama di daerah perkantoran atau kawasan bisnis yang percaya diri kalau berjalan sambil menenteng cangkir kertas berlogo kedai kopi tersebut.

Kenapa aku bilang gaya hidup, begitulah kenyataannya. Orang tidak akan sepercaya diri itu menenteng minuman sambil jalan bila di cangkirnya tidak ada logo lingkaran hijau tersebut. Bahkan apabila cangkirnya terbuat dari bahan bukan kertas, sebagaimana layaknya tempat minum. Mungkin atas nama gaya hidup pulalah kedua lelaki yang melintas barusan masuk kedai kopi ini, bukan menenteng minuman dari kedai kopi yang dimasukinya.

Aku bukan sedang iri atau cemburu dengan mereka yang nyaman masuk kedai kopi ini dengan menenteng produk kedai lain. Jadi bukan karena sirik tanda tak mampu. Ibarat kata anak Medan, ”Berapalah kopi logo hijau itu. Aku bayar pakai selembar foto I Gusti Ngurah Rai, uangku masih ada kembalian” :-). Dan yang terpenting, buatku belum ada kopi yang bisa mengalahkan nikmatnya kopi dari Simpang Limun di Medan sana dalam hal rasa. Makanya hingga saat sepuluh tahun lebih keberadaanku di ibukota ini, aku masih ‘mengimport’ langsung persediaan dirumah.

Buatku, masalahnya adalah soal etika. Sudah jamak diingatkan oleh pemilik tempat makan atau kedai kopi seperti ini, bahwa pengunjung diharapkan tidak membawa makanan dan/atau minuman dari luar. Sebuah himbauan yang wajar. Pemilik tempat makan atau minum tentu saja ingin penjualannya banyak. Itu sebabnya, mungkin di ruang kedai kopi ini merokok masih diperbolehkan. Sebab, sebagaimana aku dan teman temanku yang biasa ngumpul disini, kesempatan itulah yang kami cari yang tidak didapat oleh dua laki laki tadi apabila mereka belanja dan minum di kedai kopi logo hijau tersebut.

Kalau sudah begini, apa yang terpikir olehku adalah, dua orang laki laki tadi, bisa jadi bukan orang biasa di gedung ini. Mungkin mereka pekerja di perusahaan asing. Atau memiliki pendidikan, jabatan atau penghasilan lumayan tinggi. Meski begitu, mereka telah melupakan etika atas nama gaya hidup.

4 Komentar

  1. If you desire to grow your familiarity simply keep visiting this
    site and be updated with the newest news update posted here.

  2. I think this is among the most significant information for me.
    And i am glad reading your article. But should remark on some general things, The website style is great, the articles is really excellent :
    D. Good job, cheers

  3. Yesterday, while I was at work, my cousin stole my apple ipad and tested to see if it can survive a thirty foot drop, just so
    she can be a youtube sensation. My iPad is now destroyed and she has 83 views.
    I know this is totally off topic but I had to share it
    with someone!

  4. Hey there! This is kind of off topic but I need some advice
    from an established blog. Is it tough to set up your own blog?
    I’m not very techincal but I can figure things out pretty
    fast. I’m thinking about creating my own but I’m not sure where to start.
    Do you have any ideas or suggestions? Thank you

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *