10. Februari 2011 · 1 comment · Categories: Tak Berkategori

Segera setelah teman-teman yang shalat Jumat selesai,kami kembali berkumpul di parkiran pasar di ujung Malioboro. Beberapa teman yang telah selesai mengambil motor masing-masing dari tempat penyewaan yang tak jauh dari situ,telah bertengger diatas motor masing.

Segera setelah semua peserta mendapat motor untuk dikendarai atau untuk ditumpangi,kami akan berangkat touring. Kegiatan konvoi motor yang selalu kami lakukan disela gathering karyawan. Sejak beberapa tahun lalu saat masih ke Denpasar. Dan kini saat ke Jogjakarta. Tujuan sudah ditetapkan sejak dari Jakarta. Lereng Merapi. Selain karena rutenya yang menantang untuk dilalui dengan motor, juga kami ingin berkunjung ke gunung yang tenar itu sekaligus ingin mengunjungi Mbah Maridjan. Petugas istana Kesultanan Jogja yang bertugas memimpin upacara pemberian sesaji kepada gunung yang dianggap keramat oleh warga Mataram itu.

Setiba di kompleks kediaman Mbah Maridjan,terlihat bahwa kompleks itu ditata dengan baik. Jalan menuju rumah Juru Kunci itu sudah dilapis dengan paving block. Sesuatu yang mewah untuk ukuran dusun kecil di lereng merapi. Tiba di depan rumah,kami tak melihat ada tanda kegiatan di rumah itu. Kami menduga bahwa si Mbah sedang keluar rumah, kalau tidak keluar kota. Semua puntu dan jendela terkunci.

Dari tetangga yang mengaku sebagai adiknya, kami tahu bahwa si Mbah berada di rumah. Lama menunggu ketukan tak berbalas,kami menyempatkan diri berfoto di depan pintu rumah. Dibawah papan nama yang menunjukkan siapa pemilik rumah. Beberapa teman menyempatkan diri mengunjungi masjid yang terletak di kompleks perumahan itu dan sepertinya bangunannya lebih baru dari rumah sekitarnya. Karena terbuat dari bata dibanding rumah sekitar yang masih dari papan. Paling banter semi permanen dengan setengah bata. Belakangan kami ketahui,masjid itu dibangun dari hasil si Mbah membintangi iklan.

Penantian kami berakhir, karena ternyata si Mbah berada di rumah belakang, tepat di belakang rumah yang kami gunakan berfoto. Si Mbah mempersilahkan kami masuk. Ruang tamunya khas daerah. Masih terasa lega dengan kursi yang cukup menampung kami yang berjumlah belasan orang. Di meja, selain terhidang penganan kampung juga terdapat beberapa buku tulis ukuran folio yang ternyata berfungsi sebagai buktu tamu.

Setelah kami duduk,si Mbah tidak langsung duduk. Dia pergi ke ruangan dalam untuk kemudian membawa sekardus air minum dalam kemasan ukuran segelas. Kami yang melihatnya menggotong kardus seberat itu serempak berdiri membantu. Untuk kemudian kami ngobrol bersama si Mbah. Aku yang sempat duduk di kursi di dekat pintu masuk sempat diajak bicara oleh si Mbah. Dari teman yang menerjemahkan perkataan si Mbah,aku tau kalau si Mbah minta aku tidak duduk disitu karena katanya tidak pantas. Setelah aku pindah,justru si Mbah yang duduk menggantikanku disitu.

Layaknya penggemar ketemu idola, melalui teman yang orang Jogja, kami minta ijin untuk mengabadikan kedatangan kami ke rumah si Mbah. Namun dengan halus dan lewat candaan si Mbah bilang [dalam bahasa Jawa tentu saja] ”Lihat itu”,katanya sambil menunjuk karikaturnya yang ditempel di dinding. ”Kalau berfoto dengan si Mbah nanti si Mbah akan seperti itu.Kepalanya akan besar,seperti simelekete” katanya.

Kami tau kalau si Mbah tidak nyaman difoto. Dia tidak mau difoto bersama kami. Tentu saja kami menghormati orangtua ini. Kami tidak jadi berfoto bersamanya. Sebagai gantinya,kami hanya berfoto dengan latar belakang ruangan,foto di dinding dan beberapa benda termasuk papan nama besar yang ada di ruangan itu. Kami lakukan saat si Mbah sedang masuk ke dalam. Entah mengambil apa.

Asyik berfoto foto,kami tak menyadari kalau si Mbah kembali ke ruang tamu, mendadak kembali lagi dan menutup pintu. Sempat terlihat olehku kalau beliau mengintip kami yang sedang berfoto ria. Kilatan blitz kamera ternyata membuatnya berfikir bahwa akan difoto. Antara kaget dan iba, aku berfikir, begitu tegas dan konsistennya si Mbah terhadap aturan yang dibuatnya sendiri.

Akhirnya kami menyimpan kamera masing-masing dan memanggil si Mbah agar keluar. Seraya megatakan kalau kamera telah kami simpan. Sambil meminta maaf karena membuatnya kaget,kami pun pamitan kepada si Mbah.

Minggu lalu, wajah ‘ketakutan’ melihat kamera dari balik pintu itulah yang terbayang saat mengetahui kepergian si Mbah menghadap penciptanya. Kesetiaannya menjaga Merapi untuk rajanya,meski oleh beberapa orang dicemooh, mengajarkan banyak hal kepadaku.

Bagaimana kesederhanaan, kesetiaan, konsistensi, serta ketidakpeduliannya pada pupularitas bisa merebut perhatian jutaan orang. Selamat jalan Mbah. Sampai ketemu lagi kelak.

1 Komentar

  1. To be sure with your main points, but a pair of end up being discussed further, I’ll hold somewhat talk to my partners and maybe I’ll seek out you some suggestion soon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *