10. November 2012 · 3 comments · Categories: Tak Berkategori

Buatku yang menghabiskan masa remaja hingga selesai kuliah di kota Medan, kalimat “Jangan kayak menunggu tahi hanyut” membuat kenangan masa kecil terbayang lagi. Kalau bermain sepakbola, kalimat tersebut akan diucapkan pada siapa saja yang alih alih “mengejar” bola yang sedang dikuasai lawan, namun hanya menunggu di depan gawang lawan menunggu operan bola dari teman satu tim, untuk kemudian berusaha menggolkannya. Kalimat yang pantas diucapkan kepada mereka yang tidak mau bersusah payah.

Kalimat itulah yang dipakai KI (demikian tokoh yang kisah hidupnya ditulis dalam buku ini biasa disapa) sebagai kalimat pembuka pengantar biografi bertajuk “40 Tahun Jadi Wartawan, Karni Ilyas Lahir Untuk Berita” ini. Kalimat yang pasti memiliki arti sendiri buat wartawan yang pernah bekerjasama dengannya atau pernah menjadi bawahannya. Konon kalimat tersebut akan diungkapkan kepada wartawan yang hasil kerjanya tidak memuaskan tokoh yang tahun ini genap empat puluh tahun berkarir sebagai wartawan.

Bukan tanpa alasan Karni Ilyas mengucapkan kalimat tersebut kepada wartawannya. Pengalaman panjang sebagai wartawanlah yang mendorongnya untuk mengucapkan kalimat tersebut. Berlatar pendidikan Sekolah Menengah Ekonomi Atas, Karni yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di Sumatera Barat, mengadu nasib di Ibukota Jakarta. Mewujudkan cita-citanya untuk menjadi orang terkenal dengan menjadi seorang wartawan.

Awalnya Karni bersekolah di Sekolah Tinggi Publisistik. Kuliah dijalani sambil bekerja apa saja, termasuk menulis untuk harian Abadi. Kegiatan terakhir ini dijalani setelah Karni dihadapkan pada pertanyaan, “mau sekolah atau mau kerja?”. Namun, meski dibebaskan menulis soal apa saja di Abadi, Karni merasa belum cukup puas. Akhirnya, berbekal “surat sakti” dari Novyan Kaman, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kebetulan adalah sahabat ayahnya, Karni mendatangi Rahman Tolleng yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi harian Suara Karya.

Karni yang sedari kecil sudah ditinggal mati oleh ibunya, tetap menunggu Rahman Tolleng di kantornya meskipun kepadanya diminta untuk meninggalkan saja surat sakti yang dibawanya. Disuruh menunggu sampai seharian, tidak menyurutkan langkahnya untuk bertemu langsung dengan Rahman Tolleng. Meski sudah menunggu hampir seharian, kegigihan seorang Karni Ilyas masih harus diuji. Surat sakti yang dianggap bisa memudahkan langkahnya menjadi wartawan Suara Karya, dibuang begitu saja ke tong sampah. Rupanya kegigihannya masih harus diuji. Karni tidak langsung berbalik ketika Rahman Tolleng menyampaikan bahwa tidak ada lowongan di Suara Karya.

“Kalau saya kalah mental waktu itu dan pilih pulang, habislah. Enggak jadi apa apa” Katanya. Ternyata kegigihannya mendapat sambutan baik dari Rahman Tolleng. Dia langsung disuruh kerja hari berikutnya. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat adalah sumber pertama berita yang dituju. Hal itu karena kepada Rahman Tolleng, Karni menyebut bahwa soal hukum belum masuk di harian Suara Karya. Namun ternyata, diterima bekerja di Suara Karya, tidak serta merta memudahkan semuanya. Rahman Tolleng, sepertinya lupa untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan rekrutmen karyawan baru. Seperti ruang dan peralatan kerja bahkan urusan penggajian. Rahman Tolleng sampai harus mengeluarkan uang pribadinya sebagai gaji pertama Karni. Karena ternyata namanya belum tercatat sebagai karyawan di bagian personalia.

Menjadi wartawan, membuat pergaulan Karni sangat luas. Dia berteman dengan siapa saja. Dari menteri, jaksa, polisi, hakim, pengacara sampai preman. Satu hal yang kemudian hari ternyata banyak manfaatnya karena bukan hanya banyak membantunya dalam pekerjaannya sebagai wartawan, namun juga membantunya dalam membantu sesama. Beberapa kali dia mendapat berita berdasarkan informasi yang didengar dari sahabatnya. Bahkan keluwesan dalam bergaul juga yang membuatnya berhasil meyakinkan pejabat hukum untuk membebaskan terdakwa yang salah vonis.

Keluwesan dalam pertemanan pulalah yang kemudian “menyelamatkan” Karni Ilyas. Ketika didepak keluar dari majalah Forum Keadilan yang dibesarkannya, seorang sahabat yang kebetulan pengusaha menawarkannya jabatan komisaris di perusahaannya. Namun jiwa dan cita-cita sebagai wartawan tetap dipertahankannya. Jabatan tersebut tidak lama didudukinya. Seorang sahabat lain memintanya untuk membenahi SCTV yang sedang kesusahan. Diapun kembali ke habitatnya sebagai wartawan dengan menjadi pemimpin redaksi Program Liputan 6.

Pengalaman puluhan tahun sebagai wartawan media cetak, dimulai dari harian Suara Karya, majalah Tempo hingga majalah Forum Keadilan, tidak membuat seorang KI gagap dalam menjalani peran barunya. Di tangannya, Liputan 6 yang sebenarnya sudah ada sebelum dia masuk SCTV semakin dikenal. Bahkan, memperoleh beberapa kali penghargaan sebagai program berita terbaik. Di Liputan 6 pula lah, Karni dianggap berjasa mengantarkan SBY terpilih sebagai Presiden. Bahkan mengantarkan SCTV sebagai stasiun televisi nomor satu.

Didorong oleh solidaritas kepada teman yang mengajaknya ke SCTV, Karni memilih keluar dari SCTV ketika sang teman tidak lagi menjadi pemilik SCTV. Pertemanan pulalah yang kembali mengantarkannya masuk ke ANteve. Selesai membenahi ANteve, Karni pindah TVOne, televisi lain yang masih merupakan satu group. Karni berhasil memoles berita yang bukan merupakan program unggulan menjadi unggulan. Boleh dibilang, di televisi inilah Karni semakin dikenal orang. Melalui program Indonesia Lawyers Club, yang cikal bakalnya berasal dari organisasi Jakarta Lawyers Club, yang didirikannya bersama beberapa pengacara sahatanya.

Sebagai sebuah biografi, buku yang ditulis oleh Fenty Effendy ini cukup lengkap menggambarkan perjalanan hidup seorang Karni Ilyas. Dimulai dari kisah orang tua dan kelahirannya, masa kecil di tengah berkecamuknya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, keluar masuk gang sempit dengan sepeda motor inventaris kantor, menerapkan prinsip ekonomi ketika berjualan rokok, hingga menjadi direktur dan pemimpin redaksi berita di tiga televisi. Melalui buku ini pulalah, pembaca mengetahui mengenai berdirinya Jakarta Lawyers Club atau sejarah diaktifkannya kembali upaya hukum Peninjauan Kembali.

Buku ini juga menceritakan, ternyata Karni Ilyas pernah dinominasikan untuk memperoleh Bintang Mahaputra dari Presiden, hingga pernah hendak ditawari menjadi Jaksa Agung pada masa pemerintahan Megawati. Buku ini, juga bercerita bagaimana seni mencari berita yang diajarkannya kepada wartawannya, membuat seorang anak buahnya lebih memilih untuk mengejar narasumber berita, daripada mengikuti ujian dalam rangka memperoleh beasiswa.

Untuk menguatkan karakter sang tokoh yang biografinya ditulis, penulis juga menyertakan beberapa potongan berita koran atau majalah ‘karya’ sang tokoh. Termasuk beberapa Catatan Hukum, yang merupakan kolom tetap Karni Ilyas ketika menjadi wartawan di Forum Keadilan. Untuk menggambarkan beberapa peristiwa yang terjadi pada masa lampau, penulis juga melengkapi tulisannya dengan melakukan riset. Entah pada buku atau media yang dianggap dapat menggambarkan suasana pada saat itu. Bahkan pada buku yang merupakan biografi beberapa tokoh lain.

Sebagai sebuah kisah mengenai perjalanan karir seorang wartawan, buku ini sangat layak untuk dibaca bukan saja oleh mereka yang bercita-cita menjadi atau merupakan seorang wartawan. Juga mereka yang percaya bagaimana niat yang kuat, kerja keras, sikap pantang menyerah serta sikap konsisten bisa menjadi bekal untuk menjadi terkenal…eh berhasil…:-)

3 Komentar

  1. Yes! Finally someone writes about berita bola.

  2. I am regular reader, how are you everybody? This paragraph posted
    at this web page is genuinely nice.

  3. It’s difficult to find well-informed people for this topic, but you seem like you
    know what you’re talking about! Thanks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *