“Pa, kenapa papi gak marah waktu Gabriel bilang pernah ambil duit papi, diam-diam?” tanya anak bungsuku kepadaku ketika kami berdua sedang membersihkan soliter cupang pada sebuah Sabtu. Aku menjawab, “Untuk apa papi marah? Yang penting Gabriel sudah mengakui dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi kan? Kataku padanya. “Iya, sih” jawabnya. “Selain itu, juga mungkin Gabriel perlu uang itu untuk jajan dan papi lupa memberinya kepada Gabriel. Selanjutnya kalau butuh uang untuk jajan, Gabriel bisa minta kepada papi. Papi pasti kasih kepada Gabriel” “Apakah dulu Ompung Jansen begitu juga kepada papi?” tanyanya melanjutkan diskusi kami. Ompung Jansen adalah sebutannya untuk almarhum Bapak. “Betul! Sahutku. Ompungmu mengajarkan seperti itu dan itu yang papi ajarkan kepada kalian anak-anak papi. Kepada Gabriel, kepada Abang” sahutku sambil kami terus membersihkan dan mengganti air di soliter cupang kami yang tidak seberapa itu.


Memang dua malam sebelumnya ketika hendak tidur, aku dikagetkan ketika dia mendadak terisak dan meminta maaf padaku. Ketika aku tanya kenapa, dia mengaku ketika kelas empat, beberapa kali mengambil uangku yang suka aku letakkan di meja di dalam kamar kami. Biasanya lembaran dua puluh ribuan atau kurang. Karena aku punya kebiasaan, uang yang masuk dompet hanyalah pecahan lima puluh ribuan dan seratus ribuan.


Selasa malam, giliran abangnya yang teman-teman (dan aku) kagum. Bergabung sebagai pembicara (speaker) pada sebuah ruang bicara di Clubhouse yang membahas anak sulung, si Abang bercerita bagaimana dia melihat posisinya sebagai anak sulung di keluarga. Atas pertanyaan apakah anak sulung merupakan previlese atau beban buatnya, dengan lancar dia bercerita kalau buat dia itu fifty-fifty. Bisa sebagai beban bisa sebagai previlese. Dia bercerita kalau sebagai anak sulung dia punya beban untuk selalu menjadi panutan buat adik satu-satunya. Menjadi tempat bertanya. Menjadi tempat bercerita. Dia juga bilang kadang merasa bangga sebagai abang ketika teman-temannya kagum melihat adiknya pintar berbahasa Inggris sejak dini. Berbeda dengan dia. Sikap-sikap sebagai anak sulung yang baik diceritakan dengan runut di ‘hadapan’ mereka yang jauh lebih dewasa. Padahal dia baru mau masuk kuliah tahun ini.


Ketika moderataor ruang bicara bertanya, apakah hal tersebut dia dapatkan karena diajarkan oleh orang tuanya, si Abang bercerita jarang sekali papinya memberi arahan ini dan itu terkait hubungan abang adik. Memang beberapa kali papi bercerita bagaimana dia dengan adik-adiknya, kata si Abang. Namun selebihnya papi (ayah saya dia manyebutnya) lebih banyak mengajarkan lewat gesture saja kepada kami anak-anaknya, katanya.
Seperti itulah yang aku ajarkan (atau tunjukkan) kepada anak-anak. Kebetulan keduanya lelaki. Hal sama yang aku terima dari almarhum Bapak. Sebagai Bapak dan anak, kami memang tidak pernah bercerita secara khusus membahas sesuatu sebagaimana biasa aku lakukan kepada kedua jagoanku. Namun Bapak memberi contoh dengan perbuatan. Tanpa bermaksud menggurui. Itu yang aku tiru. Termasuk belajar dan mencintai budaya Batak sebagaimana aku lakukan aktif di ruang bicara Mandok Hata di cluhouse itu.


Seingatkau Bapak juga jarang sekali marah kepada kami anak-anaknya. Kalau Gabriel mengejek bahasa Inggrisku yaang berantakan, yang beberapa kali didengarkannya ketika aku meeting dengan orang asing, selama satu setengah tahun lebih karena aku work from home, aku cuma bilang, “Mungkin itulah kesalahan papimu ini. Ketika dulu masih kecil papi disuruh untuk les bahasa Inggris, papi tidak menuruti permintaan Ompung Jansen”, kataku. “Ompung Jansen juga dari awal menyarankan papi kuliah jurusan Akuntansi, tapi papi ambil manajemen”, kataku. “Terbukti sekarang Ompung kalian itu visioner. Karena dua yang disarankannya masih relevan sampai sekarang”, tambahku kepada dua jagoan itu.


Memang begitulah Bapak yang kukenal. Tidak pernah memaksakan kami anak-anaknya untuk melakukan ini dan itu. Beliau hanya mengarahkan. Selanjutnya pilihan kembali pada kami anak-anaknya. Selama pilihan itu dapat dipertanggung-jawabkan. Itu saja pesannya. Pesan yang sama yang juga aku sampaikan kepada sulungku ketika memilih jurusan kuliah. Aku tidak mengarahkan apalagi memaksakan dia untuk ambil jurusan yang aku maui.


Terima kasih atas ajaranmu pak. Anak si Jujung Baringin mu ini sampai sekarang masih terus belajar bagaimana menjadi anak siangkangan. Menjadi bapak bagi adik-adik. Semoga membanggakanmu. Sebagaimana aku bangga pada dua cucumu yang tidak sempat kau kenal ini.
Tenang di sana dan selamat ulang tahun, ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *