28. Agustus 2015 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Hari Kamis Hari Selasa
Kangkung di Tumis Sudah Biasa
Kalau dicium Orang Berkumis
Lah Tiga Bulan Masih Terasa

Mereka yang bekerja di gedung Bursa, atau mereka yang di gedungnya dipasangi televisi berisi iklan oleh alternative media group, pasti mungkin tidak asing dengan lirik lagu bertajuk kumis tersebut. Lirik jenaka dengan musik dangdut sederhana. Penciptanya pensiunan jenderal, mantan kepala Badan Intelijen Negara.

Beberapa saat lalu, dunia maya [sosial media tepatnya] juga sempat heboh dengan iklan suplemen makanan bertajuk mastin. Iklan yang potongannya ditampilkan dengan mengulang dua atau tiga kali, menyedot perhatian publik. Entah sebelumnya atau setelahnya, kata kata ekstrak kulit manggis pun populer.

Menurutku, kedua iklan tersebut merupakan contoh sederhana bagaimana satu hal yang diperdengarkan secara terus menerus, meski hanya dalam bentuk sederhana berhasil menyedot perhatian pemirsa (publik). Terlepas dari rasa kesal yang muncul sebagai akibatnya. Mau tidak mau suka tidak suka kedua pesan ‘sampai’ kepada publik.

Sampai kelas tiga sekolah dasar, aku tinggal di kota Kabanjahe, ibukota kabupaten Karo. Kota sejuk yang berjarak 75km sebelah Selatan kota Medan. Meski dibanding kota Medan, letak Kabanjahe lebih jauh dari semenanjung Malaya, hiburan televisi yang dapat kami saksikan di kota kecil itu hanyalah siaran dari Radio Televisyen Malaysia, entah RTM1 atau RTM2. Dua stasiun penyiaran yang dimiliki oleh Pemerintah Malaysia. Siaran televisi Republik Indonesia hanya bisa kami saksikan pada hari Minggu. itupun hanya setengah hari. karena memang waktu itu siaran Minggu hanya setengah hari. Satu iklan yang ditayangkan pada RTM kala itu, yang masih aku ingat sampai sekarang adalah iklan melabur. Melabur, pelaburan adalah istilah Melayu untuk berinvestasi. Bayangkan, puluhan tahun lalu, mungkin hampir bersamaan waktunya dengan di Indonesia diaktifkannya kembali pasar modal, pemerintah setempat [asumsi hanya didasarkan pada ditayangkannya iklan tersebut di media pemerintah] sudah memberi dukungan pada gerakan investasi.

Pada era yang hampir sama, aku juga mengingat pemerintah Republik Indonesia sedang giat melakukan gerakan gemar menabung. Masyarakat diminta membantu menggerakkan pembangunan dengan menyimpan uang di bank lewat program TABANAS dan TASKA. Tabungan Pembangunan Nasional dan Tabungan Asuransi Berjangka. Gerakan sama diulang lagi sekarang ini lewat gerakan AYO MENABUNG.

  
Kisah gerakan investasi di negara tetangga serta gerakan menabung di negara sendiri, mencuatkan rasa cemburuku. Puluhan tahun bekerja di industri pasar modal membuatku bertanya. Sejauh apa perhatian pemerintah terhadap pasar modal. Pasar dimana mereka yang butuh modal bertemu dengan mereka yang  memiliki modal lebih. Selama ini perhatian hanya dalam bentuk pembukaan atau penutupan pasar. Seremoni biasa yang hanya berlangsung beberapa jam membutuhkan persiapan beberapa hari. Seremoni yang gaungnya hanya terdengar sebentar, sesudah itu lenyap ditelan angin.

Aku merindukan pemerintah Indonesia menginisiasi gerakan nasional berinbestasi seperti gerakan menabung. Aku memimpikan semua Badan Usaha Milik Negara didorong untuk go public. Pemerintah berbagi kepemilikan dengan publik. Mungkin tidak serta merta semuanya. Satu per satu. Ada ratusan BUMN.

Aku memimpikan legislatif tidak menghalangi niat privatisasi BUMN. Karena untuk berkembang dunia usaha butuh modal. Meminta tambahan modal kepada pemerintah tidak semudah meminta uang kepada orang tua. Ada proses yanh harus dilalui. Belum lagi jika pemerintah sebagai pemilik sedang memprioritaskan hal lain sehingga penambahan modal tidak dapat dipenuhi.

Jika jargon liberalisasi kapitalisasi atau menjadi antek asing jadi penghalang legislatif memberi kemudahan untuk go public, atau jika ketakutan bahwa kepemilikan BUMN akan dikuasai oleh asing jika dilakukan privatisasi, buatlah aturan yang membatasi. Dengan go public pemerintah dan legislatif akan dibantu oleh pemegang saham dalam mengawasi BUMN. Diharapkan dengan demikian jalannya usaha tetap dalam rel yang diinginkan.

Gerakan Nasional yang dicanangkan pemerintah diperlukan untuk menambah jumlah investor pasar modal yang selama ini belum menyentuh angka 1 persen dari jumlah penduduk. Dengan banyaknya jumlah investor yang melek akan pasar modal, menjual BUMN kepada rakyat sendiri bukanlah keniscayaan. Perusahaan dapat dana, pemerintah dibantu mendanai usahanya, pemerintah bersama rakyat [sebagai pemegang saham BUMN] mendapat keuntungan dari dividen yang dibagikan. 

Apakah BUMN go public pasti untung? Aku tidak sempat mengumpulkan datanya. Namun dari yang ada, rata rata bidang usaha BUMN berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Berhubungan dengan sumber daya alam yang berdasarkan undang undang dasar, dikuasai oleh negara dan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat sebagai pemilik sumber daya tersebut. Beberapa bahkan monopoli. Tinggal bagaimana dalam pengawasannya, harapan agar memberi keuntungan kepada pemegang saham disampaikan dengan jelas kepada manajemen yang dipilih untuk mengelola BUMN.
Ada yang mengatakan untuk menambah jumlah investor haruslah dimulai dengan menambah barang berkualitas yang didagangkan. Semacam ayam dan telur memang. Namun aku berpendapat gerakan nasional harus dimulai lebih dahulu. Jumlah peminat harus ditambah dahulu baru setelahnya supply ditambah.

Kenapa pemerintah? Alasan sederhana, sudah ada preseden saat gemar menabung. Apakah industri tidak mampu? Mampu! namun ada prioritas lain yang harus dikerjakan lebih. Jika mengacu pada kasus Mastin, dibutuhkan dana ratusan milar. Yang selama ini dilakukan industri belum menunjukkan hasil.

Aku bermimpi jika itu terjadi, pasar modal akan lebih menggairahkan. Namun sepeetinya masih butuh waktu hingga pemerintah turun tangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *