26. Desember 2011 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Sore ini harus menjemput Yeremia yang selesai liburan di rumah Oma di Kebon Jeruk. Demi menghemat waktu, oleh Tulang Bona, Yeremia akan didrop di supermarket Prancis yang dimiliki konglomerat Batak di MT Haryono. Sambil menunggu, aku pikir tidak salah belanja sebentar ke dalam. Karena ada beberapa barang yang harus dibeli. Tidak banyak. Mungkin hanya dua jenis.

Selesai belanja yang hanya dua jenis barang, aku menuju kasir. Sudah menjadi pemandangan biasa di supermarket ini, antrian yang ramai di kasir. Sebagaimana di lokasi lain supermarket ini, mesin kasir yang disediakan lumayan panjang. Namun yang beroperasi tidaklah seluruhnya. Tak mengapa, pikirku. Aku berharap bisa melakukan transaksi di kasir keranjang. Karena setahuku, mereka memiliki kasir yang biasanya disediakan hanya untuk mereka yang berbelanja beberapa jenis barang yang tidak terlalu banyak. Sehingga hanya dibutuhkan sebuah keranjang untuk mengangkatnya.

Namun, dua kali mondar mandir dari kasir ujung kanan ke kasir ujung kiri, antrian pembelanja di depan kasir sama semua. Semua menggunakan troli. Agak males mengantri di belakang mereka. Karena pasti prosesnya lama. Entah karena kukurangsigapan sang kasir, juga karena pengguna trolly pasti belanja banyak barang.

Akhirnya bertanya pada petugas. “Di sebelah sana,pak” katanya menunjukkan kasir di tengah. Akupun menuju kasir yang ditunjuknya. Sang petugas bahkan sampai menguntitku menuju kasir yang sebenarnya sudah kulewati tadi, tapi tak terlihat aktifitas yang aku cari. Benar saja. Kasir yang dia maksud tidak beroperasi. Entah karena malu, ternyata yang dia maksud tidak beroperasi, sepertinya dia langsung meninggalkan aku. Karena ketika menoleh ke belakang, sang petugas yang tadi menguntit, tak terlihat lagi.

Adalah pemandangan biasa di supermarket ini, antrian yang memanjang di akhir bulan. Mungkin bukan hanya di akhir bulan saat banyak yang baru terima gaji, atau sekadar berbelanja kebutuhan bulan berikutnya. Juga di tanggal lain, yang kebetulan hari libur. Panjangnya antrian, mungkin juga disebabkan karena belanja di supermarket besar seperti ini sudah dianggap sebagai sebuah kegiatan rekreasi.

Merasa kecewa, sekaligus tidak mau berlama lama antri di belakang pengguna trolly, keranjang belanjaan yang berisi dua jenis barang tadi, aku letakkan begitu saja di meja kasir yang tidak dioperasikan. Aku memilih keluar tanpa jadi belanja. Ingin rasanya mengirim sms ke nomor hotline mereka. Namun males rasanya. Karena pernah dulu melakukan hal sama.

Waktu itu aku mengirim sms, atas kejadian mirip. Antrian panjang namun mesin kasir yang dioperasikan tidaklah semua yang ada. Waktu itu, respon yang diberikan tidak terlalu lama sejak pengiriman sms. Saat itu,petugas yang menelepon berterima kasih atas ‘pengaduan’ yang aku kirim. Namun kenyataannya, bolehlah dikata masih berulang. Mungkin mereka bisa beralasan bahwa petugas yang siap untuk melayani di mesin kasir, tidaklah sebanyak mesin yang ada. Namun menurutku, hal itu tak bisa dijadikan alasan. Bukankah di seharusnya penyediaan mesin kasir, telah memperhitungkan kesiapan petugas? Kalau tidak siap dengan petugas untuk kasir sebanyak duapuluh mesin, tak perlulah membuat mesin kasir hingga sebanyak itu. Hanya akan membuat pengunjung bertanya, untuk apa membuat mesin kasir, namun tidak dioperasikan.

Batal berbelanja, aku menuju sebuah kedai kopi yang berada di lantai dasar. Sebuah kedai kopi bermerek lokal, yang namanya mengingatkan akan sebuah lagu tentang sungai di Solo. Niatnya menunggu sampil mengikuti kicauan para pekicau di twitter. Memesan secangkir kopi hitam, aku mengambil tempat di pojok. Sepertinya baru ditinggal oleh tamu. Karena di mejanya masih tersisa piring,asbak dan cangkir kertas.

Pesanan tiba, sang pelayan meletakkan di meja. Mengambil piring, cangkir kertas, dan asbak yang berisi puntung rokok. “Akan diganti baru,pak” katanya. Mungkin karena melihat aku hendak menyalakan rokok. Asbak memang diganti baru. Namun si mbak meninggalkan meja yang kursinya aku duduki begitu saja. Acuh pada keadaan meja itu masih berserakan remah roti dan abu rokok, sisa pengunjung sebelumnya.

Mungkin aku salah, lebih memilih duduk di pojokan itu daripada meja lain yang nyata nyata lebih bersih. Namun aku pikir si mbak atau siapapun yang bertugas saat itu, lebih salah. Karena membiarkan meja yang kotor, ketika tamu sudah beranjak. Iseng aku membersihkan sendiri meja yang kursinya aku duduki. Yeah, akhirnya aku mengambil tisu dari meja depan kedai kopi itu untuk membersihkannya. Bukan apa apa. Sekadar memberitahu pelayan disini bahwa ada yang luput dari perhatian mereka dan menimbulkan ketidaknyamanan pengunjung.

Pelajaran yang sore ini aku dapat dari dua kejadian beruntun sore ini adalah soal layanan. Untuk kasus supermarket, jangan pernah menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati. Membangun banyak mesin kasir, namun mengoperasikan beberapa adalah bentuk tidak menepati janji. Konsumen terlanjur mengharap.

Untuk kasus kedai kopi, jangan pernah tanggung memberi layanan kepada konsumen. Buatku pribadi, tidak masalah bila harus mempergunakan asbak bekas. Karena toh isinya pun hanya ‘sampah’. Daripada mengganti asbak dengan yang sama sekali bersih, lebih baik si mbak membersihkan meja yang baru ditinggal pengunjung sebelumnya. Agar pengunjung setelahnya tidak terganggu pandangannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *