23. September 2016 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Si Doel sedang meradang. Berdiskusi dengan Babe seolah percuma. Kini dia dihadapkan pada pilihan apakah meneruskan cita citanya untuk menjadi “Tukang Insinyur” atau meneruskan tradisi keluarga. Menarik Opelet.

Manjadi insinyur sudah merupakan cita citanya sejak lama. Kuliah (baca : perjalanan) yang dilalui sudah hampir tiba di ujung jalan. Tinggal menyelesaikan tugas akhir. Namun sepertinya Babe tidak sabar. Mungkin karena ketidaktahuan Babe akan proses yang harus dilalui atau karena Babe sudah tua, sehingga tidak memiliki tenaga untuk tetap meneruskan pekerjaan sebagai supir opelet. Meski sudah tua, opelet tidak boleh dibiarkan menganggur. Dapur harus ngebul. Memang ada warung enyak yang bisa menopang. Mungkin ada salon Atun yang bisa membantu. Tapi Babe sepertinya tidak mau tahu. Doel disuruh memilih. Kisah akhirnya (mungkin) happy ending. Doel akhirnya menyelesaikan sekolahnya. Menjadi Tukang Insinyur. Kuliah diselesaikan sambil sesekali menarik opelet bersama pamannya Mandra. Meski setelahnya persoalan lain muncul. Ternyata bekal gelar insinyur tidak cukup untuk mencari kerja.

Teringat Gibran pernah berkata kurang lebih,

Anakmu bukanlah anakmu. Dia datang dari padamu, tetapi dia bukan milikmu. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Pertama kali membaca sajak itu, mau tidak mau aku mengamini. Berkaca pada pengalaman sendiri, aku pernah menjalani prosesnya. Tidak lulus Ujian Masuk Pergirian Tinggi Negeri (UMPTN), mau tidak mau pilihan adalah kuliah di perguruan tinggi swasta. Pilihan jurusan di UMPTN adalah pilihanku sendiri. Tanpa campur tangan orang tua. Semangat menggebu membuatku mendaftar di Institut Pertanian Bogor. Mungkin pilihan gegabah. Karena persaingan ternyata cukup tinggi. Tidak satupun dari tiga pilihan yang aku ambil aku lulus. Berbicara melalui sambungan interlokal (karena waktu itu orang tua bertugas di luar kota) dengan bapak, malam (menjelang subuh tepatnya) setelah pengumuman UMPTN, beliau menghibur. “Sudah, jangan terlalu bersedih” katanya. “Kau daftar di Universitas Nommensen. Ambil jurusan akuntansi. Agar nanti gampang mencari kerja”.

Nasihat dan ucapan yang menyemangati. Tidak lama larut dalam kesedihan, aku menuruti sarannya. Tapi hanya untuk mendaftar di Nommensen. Bukan jurusan sesuai saran beliau. Aku mengambil jurusan manajemen. Karena waktu itu aku merasa akuntansi ilmu banci. Bukan ilmu pasti sebagaimana jurusanku yang fisika di SMA, Juga bukan ilmu sosial. Aku mantap memilih manajemen. Yang lebih pasti non eksaktanya. Bapak tidak pernah mempersoalkan. Entah kalau dalam hatinya ada penyesalan kenapa aku tidak menuruti keinginannya. Dan inilah aku sekarang. Mungkin tidak menjalani sarannya waktu itu. Namun apa yang aku jalani saat ini, melampaui capaiannya dalam beberapa hal. Aku yakin seandainya beliau masih ada, beliau sudah tidak ingat lagi soal beda saran dan jalan yang aku pilih. Semoga dia bangga.

Bapak seorang demokrat. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak kepada kami anaknya. Kepada kami, beliau hanya ulang satu janji. Sebagaimana janji orang tua Batak lain sebagaimana lagu “Anakkonki Do Hamoraon di Ahu”. Kepada kami anak anaknya beliau berjanji akan menyekolahkan kami setinggi kami mau. Beliau akan membiayai. Meski untuk dua adikku, janji itu diteruskan oleh Mama. Sebegitu demokratnya, beliau juga tidak mempermasalahkan ketika adik nomer dua memilih untuk berhenti kuliah pada tahun kedua. Beliau mencarikan pekerjaan buatnya. Adik ini juga yang turut serta ‘memberi sangu’ padaku ketika memutuskan untuk merantau ke Pulau Jawa. Karena saat itu dia sudah memiliki penghasilan sendiri. Sikap demokratis yang [mungkin] paling tidak masuk akal buat orang tua lain adalah beliau menantang adik bungsu. “Kalau merokok membuatmu menjadi lebih berprestasi di sekolah, sebut merek rokokmu, aku yang akan membelikan buatmu” tantangnya ketika mengetahui adik bungsu telah berkenalan dengan rokok bahkan ketika masih sekolah menengah atas. Selintas seperti tindakan gila. Alih alih melarang, Bapak malah mendukung. Tapi itulah Bapak yang kami kenal.

Sepenggalan kisah si Doel, dan kisahku teringat kembali ketika pagi ini mendengar bahwa pak Beye akhirnya mendorong putra sulungnya untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Sebagai orang luar aku merasa pilihan yang sangat disayangkan. Mas Agus bukanlah tentara sembarangan. Beliau lulusan terbaik dalam angkatannya. Beragam pendidikan telah dijalani, baik dalam kemiliteran atau akademis. Metro TV lewat acara Mata Najwa pernah menyematkan ‘Pemimpin Masa Depan’ kepadanya. Bersama Anis Baswedan [mantan Menteri Pendidikan] dan Denny Indrayana [mantan wakil Menteri Kehakiman]. Saat ini pangkatnya Mayor. Perwira Menengah tentara. Dalam beberapa kesempatan, aku membaca bahwa cita cita setiap prajurit adalah mencapai bintang empat. Jika dalam urusan kepangkatan, mungkin menjadi Kepala Staf Angkatan atau bahkan Panglima. Mas Agus meneruskan tradisi keluarga berkarir di militer. Siapa yang tidak kenal kakeknya, Sarwo Edhie Wibowo yang berperan besar dalam penumpasan Gerakan 30 September. Meski tidak pernah menjadi menteri di Pemerintahan Orde Baru yang ikut dia bangun, Letjend Sarwo merupakan tokoh berpengaruh pada masanya. Putra Sarwo Edhie juga meniti karier militer. Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Bahkan pak Beye ayahnya, berpangkat Letjend [terakhir naik pangkat menjadi Jenderal setelah menjadi Presiden] dan mennjabat sebagai Kepala Staf Sosial Politik sebelum akhirnya terjun ke dunia politik dan menjadi Menteri Pertambangan dan Energi pada masa pemerintahan Presiden Abdul Rahman Wahid dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

Dengan tradisi dan ‘darah biru’ militer begitu, agak sulit memahami pilihan mas Agus. Dengan mengikuti Pemilihan Kepala Daerah, beliau harus melupakan karir militernya yang [konon dipuji banyak pihak sebagai] cemerlang. Berpangkat Mayor, masih beberapa tahap lagi yang harus dilalui untuk menyamai pangkat Eyang, Ayah atau jabatan Pamannya. Dan sekarang impian itu harus dikubur. Semoga pilihan yang diambil sudah dipikir matang. Semoga pilihan yang diambil adalah pilihan sendiri. Semoga pilihan yang diambil membawa kebaikan buat mas Agus dan keluarga kecilnya. Juga buat keluarga besarnya. Dan yang pasti terbaik buat Negara Kesatuan Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *