Jagat politik Indonesia sedang hangat. Di tengah penanganan pandemi Covid-19 yang masih terengah-engah. Diantara angka statistik yang naik dan turun mirip Indeks Harga Saham Gabungan. Mungkin pemanasan menuju 2024. Sebentar. Bisanya pemanasan (entah dalam rangka olah raga atau memanaskan mesin) dilakukan sesaat sebelumnya ya. Bukan jauh hari.

Negara memang sedang mengalami kondisi pandemi. Namun bukan alasan untuk partai dan tokoh politik untuk berhenti saling mengkritik. Sisa pemilu dan pilkada (DKI Jakarta) terakhir masih terasa. Mereka yang menyebut dirinya oposisi akan menelanjangi kinerja pemerintah yang sedang bekerja. Yang sedang bekerja menunjukkan hasil kerja lewat fluktuasi angka korban terpapar maupun penurunan jumlah korban. Terakhir angka pertumbuhan ekonomi seolah menjadi melegitimasi.

Prestasi ganda putri kita meraih medali emas bulu tangkis pada Olimpiade Tokyo 2020 digunakan sebagai tunggangan. Tidak butuh waktu lama, wajah politisi, entah anggota DPR, pejabat pemerintah, maupun pengurus partai berseliweran di linimasa media sosial. Kenapa tunggangan, karena ternyata lebih banyak yang menonjolkan wajah pemberi selamat. Bukan sang peraih medali. Hal sama sebelumnya juga terjadi di Filipina.

Pengusaha papan reklame juga sedang kebanjiran pesanan. Datang silih berganti dari tokoh (partai) berbeda. Baliho wajah ketua umum bertebaran di sudut jalan. Sekadar mempertontonkan wajah atau memberitahu kinerja kepada masyarakat. Entahlah. Bahkan ada yang terang-terangan menulis angka ‘keramat’ 2024 pada balihonya. Sudah pasti arah yang dituju. Minimal pengusaha papan reklame punya kerjaan. Pemerintah memperoleh pendapatan dari pajak reklame yang dibayarkan. Bayar gak ya? Hmm..

Bisa dimaklumi. Mesin memang harus dipanaskan untuk bertarung pada pemilihan umum mendatang. Petahana, sudah menjabat dua periode. Sesuai batas waktu sebagaimana diatur konstitusi, sudah tidak memiliki kesempatan maju lagi. Meski sempat beredar wacana untuk memberi perpanjangan waktu, ide itu kemudian perlahan menghilang. Entah karena petahana sudah menyampaikan tiada niat dan tidak tertarik atau karena oleh sang pemilik ide sedang dimatangkan kembali.

Diluar angka statistik dan baliho, ada hal baru lagi yang didiskusikan. Soal warna pesawat kepresidenan. Dahulu didominasi warna biru, berubah menjadi warna merah. Ada yang bilang ini terkait dengan partai penguasa. Sebagaimana diketahui, pesawat kepresidenan dibeli ketika partai mercy sedang berkuasa. Pesawat dibeli menjelang berakhirnya dua periode jabatan. Konon katanya hanya pernah dipakai sekali sebelum akhirnya pengganti yang menggunakannya. Sekarang partai banteng sedang berkuasa. Dan warna diubah menjadi merah sesuai warna partai.

Kenapa baru dilakukan sekarang? Apakah tidak bisa ditunda? Saat ini pandemi dan butuh biaya banyak. Konon katanya, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp2 miliar. Untuk ukuran angka memang terlihat besar. Namun jika dilihat dari tujuan biaya sebesar itu untuk satu pesawat, mungkin memang tidak terlalu besar. Coba dibandingkan dengan biaya untuk mobil kelas sultan. Selain itu, pemerintah menyampaikan tidak ada hubungan dengan hal lain selain soal perawatan rutin. Pembaruan dan perawatan pesawat kepresidenan sudah dianggarkan sejak tahun 2019. Pandemi yang menyerang tahun lalu, membuat rencana perawatan dan perubahan warna itu baru direalisasikan tahun ini.

Karena yang banyak menghebohkan soal cat baru pesawat ini (setidaknya pantauan di linimasa) berasal partay mercy yang dulu membeli, ada hal menarik di tengah itu semua. Mendadak (?) saat riuh soal warna cat pesawat, beredar kabar kalau sang ketua dewan pembina mereka yang hanya sempat menggunakan satu kali pesawat kepresidenan, ternyata sedang bermain dengan cat. Sedang belajar melukis. Berita itu dilengkapi dengan sang ketua dewan pembina di samping lukisannya.
Aku tidak tahu apakah ini berhubungan atau tidak. Pikiran nakalku sedang bertanya. Apakah ini merupakan pertontonan cara politik Jawa yang katanya kuat bermain dengan simbol? Entahlah.

Aku membayangkan, dari arah Cibubur sedang menyampaikan pesan, “Mbok ya kalau sedang suka bermain cat, mending bikin lukisan yang indah gitu lho, bukan mengecat ulang pesawat”

Wallahuallam….namanya juga pikiran nakal, yekan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *