18. September 2016 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Sampai lulus Sekolah Menengah Pertama, harus kuakui aku bukanlah orang yang memiliki percaya diri tinggi. Entah karena sampai kelas tiga Sekolah Dasar aku bersekolah di ibukota kabupaten, untuk kemudian melanjutkan hingga lulus kuliah di ibukota Propinsi. Atau karena sebab lain.

Soal percaya diri atau malu untuk tampil (di depan orang banyak) berpengaruh pada nilai di raport. Ketika kelas satu sampai kelas tiga SD nilai kesenian di raportku selalu merah. Karena waktu itu penilaian hanya didasarkan pada penampilan bernyanyi di depan kelas. Barulah kelas empat sampai kelas enam ada pelajaran lain. Mengenal not angka maupun not balok. Ujian pun seputar itu. Bukan melulu soal kemampuan bernyanyi di depan kelas. Yeah. Beberapa diantara kalian yang mungkin mengenalku sekarang pasti tidak percaya soal ini ☺️

Ketika memasuki sekolah menengah pertama, bersama tiga orang teman (almarhum Mardut Pakpahan, Guluan Gultom dan Marsius Silaen) aku selalu kebagian duduk di kursi paling depan setiap tahun ajaran baru. Karena tinggi kami hampir sama. Diantara teman sekelas, kami berempat adalah orang yang kepalanya yang paling dekat dengan bumi ☺️. Mau mengambil tempat duduk di belakang sudah pasti bukan jatah kami. Karena pasti pandangan ke papan tulis akan terhalang oleh mereka yang lebih tinggi dari kami :-).

Namun jangan dikira rasa malu itu berlaku untuk semua hal. Sejak masuk SMP aku sudah terbiasa mendaftarkan diri sendiri ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Aku ingat waktu setelah lulus SD, kedua orang tuaku harus melakukan perjalanan ke luar kota. Menghadiri undangan kerabat di pulau Jawa. Mau tidak mau aku harus mendaftar sendiri ke SMP. Kebetulan memang masih satu yayasan dengan Sekolah Dasar. Sejak itulah aku melakukan pendaftaran sendiri. Ketika masuk SMA maupun masuk Perguruan Tinggi. Mulai urusan kelengkapan surat hingga soal bayar membayar aku lakukan sendiri. Mungkin faktor lain yang mendorongnya adalah, aku anak sulung. Terbiasa melakukan sendiri. Dan aku pikir harus menjadi contoh buat adik adikku.

Memasuki SMA aku belum seberani teman teman lain. Apalagi urusan perempuan. Katanya masa SMA adalah masa paling indah. Mungkin termasuk urusan cinta monyet. Suka pada lawan jenis. Meminjam istilah seorang teman, aku mengandalkan ilmu kebatinan. Cuma bisa membatin ketika suka pada teman wanita 😜. Sampai lulus SMA belum pernah dekat apalagi pacaran dengan wanita. Masa SMA juga mulai mengenal kegiatan berorganisasi. Wasahnya OSIS. Organisasi Siswa Intra Sekolah. Aku cuma mendengar si A adalah ketua OSIS. Si B yang ketua kelas kami dan si C yang sekretaris kelas kami dipercaya menjadi pengurus OSIS. Tanpa aku pernah terpilih menjadi ketua kelas, wakil atau jabatan lain. Bahkan sejak SD, aku hanya ‘warga’ biasa di kelas.

Rasa percaya diriku mulai muncul ketika sudah mulai kuliah. Seolah ‘dipaksa’ keadaan. Yang sampai saat ini pemaksaan itu tak pernah aku sesali, bahkan aku syukuri. Karena buatku pribadi memberi banyak manfaat dan bekal hingga menjalani dunia kerja.

Ceritanya organisasi kepemudaan gerejaku (kami menyebutnya NHKBP, Naposo Bulung Huria Kristen Batak Protestan) sedang mengadakan Pesta Parheheon. Semacam festival beberapa cabang olah raga dan seni. Acara rutin tahunan di gereja. Namun kali ini berbeda. Karena ada upaya untuk menggerakkan lebih banyak lagi pemuda gereja kami. Menggerakkan beberapa sektor yang menjadi wilayah layanan gereja. Kami menyebutnya wijk. Ada 17 wijk saat itu. Keluarga kami bertempat tinggal di Wijk Belakang Stadion. Stadion merujuk pada Stadion Teladan. Di wilayah belakang stadion yang pertama kali digunakan pada saat Pekan Olahraga Nasional ketiga (tahun 1953) itulah kami tinggal.

Oleh pengurus dan panitia pesta beberapa pemuda di wilayah kami diundang untuk membentuk kepengurusan wilayah. Dengan harapan pengurus wilayah inilah nantinya yang akan menggerakkan pemuda di wilayahnya masing masing untuk ikut pesta. Dan hasil pertemuan itu, aku didapuk sebagai sekretaris. Jabatan yang tak pernah aku duga. Mengingat statusku yang hanya sebagai warga biasa sejak SD.

Jabatan sekretaris itulah pembuka segalanya. Yang aku pahami dari yang aku baca, sekretaris adalah motor organisasi. Dialah yang menata sebagian besar organisasi. Kecuali bidang keuangan ditangani oleh bendahara. Ketua selain sebagai pemimpin organisasi, juga sebagai panutan. Tempat dimana semua akhirnya diputuskan. Untuk dijalankan oleh perangkat organisasi. Termasuk sekretaris, bendahara dan seksi seksi. Jabatan itu aku pegang selama dua periode. Satu periode berlangsung selama dua tahun. Sejak itu aku ikut juga di kepengurusan pusat. Disebut demikian untuk membedakan dengan kami yang ada di wilayah. Juga di beberapa kepanitiaan yang sifatnya temporer. Seturut kegiatan yang membutuhkan kepanitiaan.

Lewat mekanisme itulah aku belajar berbicara di depan orang banyak. Awalnya hanya di depan teman teman satu wilayah. Di depan teman teman antar wilayah, ketika misalnya kami melakukan rapat bersama. Bahkan berbicara di depan jemaat ketika kebaktian khusus pemuda. Atau di depan orang tua kami di wilayah, ketika kami harus menyampaikan program dan rencana kerja kami (pemuda wilayah). Masalah tampil dan berbicara di depan publik teratasi dengan sendirinya. Namun belum untuk bernyanyi, masalah terbesarku ketika SD. Beberapa kali memang aku tampil bernyanyi di depan publik. Namun secara beramai ramai. Dalam bentuk koor (choir) karena itulah kegiatan utama pemuda gereja waktu itu. Bukan sendiri, puluhan. Beberapa orang Sopran, Alto, Tenor dan Bas (pembagian suara di koor). Mulai dari tampil di gereja ketika kebaktian. Kegiatan ini bukan tampil di depan publik secara harafiah. Karena kami duduk membaur bersama jemaat lain. Yang benar benar tampil (bernyanyi) di depan publik adalah ketika kami ikut festival paduan suara. Pernah juga aku bernyanyi bukan bersama puluhan orang. Hanya berdelapan. Karena kami tampil dalam bentuk vocal group.

Kisah bagaimana perjalanan tumbuhnya rasa percaya diri itu mengalir lagi ketika sore ini harus mengantar sulungku ke gereja. Dia menyampaikan bahwa dia diajak sebagai salah satu seksi di kepanitiaan Natal kelasnya. Mengingat pengalamanku, tentu saja ini sebuah kebanggan. Tanpa bermaksud anak harus selalu mengikuti patron orang tuanya. Karena buatku inilah jalan buatnya untuk mulai melatih diri. Usia masih 13 tahun. Dia memulai lebih dulu daripada ketika bapaknya memulai. Tentu saja aku mendukung dan mendorongnya.

Apalagi mengingat keadaan ketika peringatan tujuh belasan terakhir di sekolahnya. Ada satu kejadian yang sepertinya membuatnya patah semangat. Tidak terpilih menjadi pasukan pengibar bendera. Aku menyemangatinya. Dalam beberapa hal ada kemiripanku dengannya. Kami sama sulung. Tanpa bermaksud membandingkan, sedikit berbeda dengan adiknya. Namun aku percaya masing masing anak punya talenta sendiri. Sulung suka menggambar. Bercita cita menjadi youtuber. Beberapa hasil karyanya di instagram aku rasa adalah keistimewaannya. Itu aku sampaikan padanya. Bahwa bahkan seusia sekarang, aku sebagai orang tuanya mungkin tidak. Isa menghasilkan karya sama.

Selain itu aku pun menceritakan beberapa kisah di atas. Bahwa bapaknya ini pun tak pernah terpilih sebagai pasukan pengibar bendera ketika bersekolah dulu. Bahkan tidak pernah terpilih menjadi ketua kelas. Sesuatu yang sudah dijalani oleh si bungsu bahkan ketika kelas satu SD.

Sebagai orang tua, aku sampaikan bahwa keberhasilan tidak semata dihasilkan oleh hal seperti itu. Keberhasilan bisa juga diperolehnya ketika dia giat belajar. Mungkin aku bukanlah contoh yang ideal. Namun aku ada di depannya. Kondisi yang dia bisa lihat langsung. Dan aku menyampaikan kepada si sulung bahwa bapaknya ini pun dulu hanya bersekolah di daerah. Anak daerah yang bisa sampai ke pulau Jawa. Bekerja di Jakarta dan bisa menyekolahkan mereka berdua. Aku hanya berharap apa yang aku sampaikan dan apa yang dilihatnya ditambah pengalaman yang sedang dijalani saat ini membuat rasa percaya dirinya bangkit. Buat bekalnya kelak. Amen!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *