02. Maret 2015 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

“Apakah kekerasan sudah menjadi budaya bangsa ini?”

Pertanyaan itu terngiang sejak malam minggu kemarin. Sejak Om Didi Petet menanyakannya saat melakukan analisa atas film pendek yang dihasilkan oleh Sineas Dadakan. Disebut Sineas Dadakan, karena mereka yang sehari harinya terbiasa menangani transaksi bursa, dalam waktu kurang dari 24 jam harus memproduksi film pendek.

Mereka yang terbiasa dengan istilah margin trading, indeks harga saham, kliring penjaminan, kustodian, tindakan korporasi, mendadak harus paham dengan istilah scene, take, action, camera roll, dan seterusnya. Mereka yang terbiasa menghadapi komputer, investment bank, transaksi perbankan, harus memahami sudut pengambilan gambar, wajah belepotan tata rias, hingga berguling guling di tanah.

Dilihat dari proses pengerjaan tugas yang dibebankan, sbenarnya tidak ada yang salah. Tugas membuat film pendek, dimulai dari tema Menaklukkan Dunia. Dihubungkan dengan perlengkapan yang yang disediakan dalam mengerjakan tugas, mau tidak mau mewakili kekerasan. Benda semacam pedang, pisau, toya, double stick, hingga pistol dan senapan (meski dalam bentuk mainan).

Mungkin Om Didi Petet bisa memberi argumen dengan dibantu kisah pedasnya cinta yang dibacakannya ketika memberi ulasan. Namun para penerima tugas pun bisa membalas argumen tersebut bahwa waktu yang disediakan serba terbatas untuk mencari makna lain selain kekerasan, untuk menggambarkan proses penaklukan.

Mereka yang menerima tugas, tidak bisa dikatakan akrab dengan kekerasan dalam kehidupan kesehariannya. Mungkin kata ‘tegas’ lebih pas untuk menggambarkannya. Karena mereka semua berasal dari institusi yang bertugas mengatur. Ketegasan dibutuhkan. Apabila kekerasan yang akrab dengan mereka, terbayang bagaimana proses pengaturan yang mereka jalani sehari hari. Pasti akan rame.

Jika dikatakan ketegasan yang dilakoni sehari hari yang menjadi semata dasar pengerjaan tugas, ternyata juga tak terlalu terlihat. Karena ternyata, beberapa hasil kerja memunculkan selain ketegasan. Ada beberapa humor di sana. Yang kalau dihubungkan dengan ketegasan pasti tidak nyambung.

Aku lebih cenderung melihat dari proses yang dijalani oleh penerima tugas. Bagaimana Teamwork, Integrity, Profesionalisme dan Service Excelence (dengan segala hormat kepada dua institusi lain) dijalani dan diamalkan dalam pengerjaan tugas. Bagaimana seluruh anggota kelompok terlibat proses. Sekecil apapun itu. Bagaimana mereka bekerja sungguh sungguh menyelesaikan tugas yang dibebankan (mungkin termasuk mempermalukan diri sendiri…yeah..you know who..ya..gw salah satunya mungkin). Dan seterusnya.

Bukan. Tulisan ini bukan dalam rangka menggugat hasil analisa om Didi Petet. Karena menurutku, tanggapan itu wajar jika hanya melihat hasil akhir. Tulisan ini hanya mencoba mengapresiasi apa yang sudah dilakukan penerima tugas. Dalam waktu kurang dari 24 jam, menghasilkan film tak lebih dari 5 menit. Untuk dinikmati/ditonton bersama. Untuk ditertawakan bersama mungkin. Untuk dijadikan kenangan satu saat kelak. Bahwa mereka yang menjadi bagian dari industri pasar modal, merasakan suasana yang dialami mereka yang menjadi bagian indsustri perfilman.

Bahwa apa yang sering disebut sebagai outbond, ternyata bukan sekadar aktivitas luar ruang semacam arung jeram, menyeberang tali, folding karpet, time bomb dan seterusnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *