tentang warung makan bertajuk Tuan Rumah

warung

Warung itu bernama Tuan Rumah. Letaknya di gedung bernama Tebet Green. Berkunjung kesana, mungkin hanya karena si bungsu tertarik dengan interior warungnya. Menunya biasa. Ada nasi, mie dan penganan rebus bernama keren dim sum.

Memesan dua jenis nasi goreng, karena si bungsu belum memakan nasi sejak pagi. Yang dipesan pun hanya dua porsi. Namun selesainya lumayan lama. Entah apa yang dikerjakan koki di belakang sana. Nasi goreng sea food dan nasi goreng ayam mungkin tak perlu seperempat jam menyiapkannya.

Yang lebih mengagetkan lagi adalah penyajiannya. Nasi goreng ala Tuan Rumah, hanya nasi goreng biasa tanpa bumbu kecap. Dicampur dengan tauge dan sedikit sayuran. Benar benar sedikit. Sampai tak kelihatan ketika dihidangkan.

Untuk nasi goreng sea food, ditambah dengan potongan kecil udang. Nasi goreng ayam, ditambah potongan daging ayam dan sepertinya ada telur sedikit. Tidak ada tambahan bahan makanan lain. Jangankan acar. Sambel saja, jika tidak diminta kepada pelayan, mungkin tidak akan diberikan ke mejaku.

Soal pelayan, jadi catatan sendiri. Karena dua kali melintas di sebelah meja kami, dua kali pula dia menyenggol kursi dan menimbulkan suara yang cukup keras. Mungkin kalau bukan karena malam agak larut, kursi di sebelah kami sudah berteriak disenggol terus olehnya.

Kembali ke soal menghidangkan, lihatlah tampilan nasi gorengnya. Bukan perkara kuantitas, yang jadi perhatian. Tapi mungkin lebih soal estetika. Kepantasan. Piring untuk menghidang nasi goreng, lebih kecil dari piring biasa. Terlalu besar untuk disebut tapak atau piring kecil. Ah, mungkin karena itulah makanya tidak perlu materi tambahan lagi. Dengan wilayah hidang nasi di piring itu yang sudah pas pasan, pasti tidak ada ruang untuk meletakkan sekadar beberapa potong timun dan wortel.