26. Desember 2012 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

balintang

Kotamadya Bekasi sedang persiapan menghadapi pemilihan Walikota dan Wakilnya. Walikota sekarang, yang meneruskan jabatan pejabat sebelumnya yang tersangkut kasus korupsi, akan bertarung lagi. Berpasangan dengan rivalnya pada pemilihan untuk periode sekarang ini. Pepen (sapaan sang calon Walikota) berpasangan dengan Ahmad Saikhu. Dan mereka memilih PAS sebagai tagline.

Pendukung pasangan yang mendapat nomor urut 4 menggunakan media serupa tabloid untuk kampanye. Media itu, diberi judul Kabar4, sesuai dengan nomor urut pasangan. Media itulah yang mampir di teras rumah minggu kemarin. Jika melihat isi tabloid tersebut, ternyata tidak sepenuhnya sama dengan judulnya. Karena ternyata hanya berisi profil sang wakil. Mulai dari profil umum (seperti tanggal lahor, riwayat pendidikan, istri dan enam orang anak,dll), tulisan atau pendapat beberapa orang mengenai sang calon wakil walikota, hingga foto sang calon bersama beberapa komunitas yang ada di Bekasi.

Yang menarik adalah, terdapat tulisan sang calon wakil walikota menghadiri pelantikan Praeses (pada tabloid, disebut Prises) di Bekasi. Praeses merupakan salah satu unsur pimpinan gereja HKBP. Gereja Batak yang konon, paling besar (paling tidak dari jumlah jemaat) di Indonesia. Menurutku, hal ini sengaja ditampilkan, mengingat latar belakang sang calon wakil walikota yang berasal dari partai yang dekat dengan Islam.

Pada halaman yang sama dengan ‘liputan’ mengenai acara HKBP itu, terdapat umpasa (pantun Batak) yang menurutku diartikan dengan sesuka hati. Bahkan (dengan segala hormat) terkesan dipaksakan mendekati situasi sang calon. Pantun tersebut, “Balintang ma pagabe, tumandangkon sitodoan. Arinta ma gabe molo masi paolo-oloan”

Meski berdarah Batak, pengguna aktif Bahasa Batak dan sering mendengar umpasa tersebut, terus terang aku kesulitan menerangkan baris sampiran. Dan lazimnya pantun, pesan yang akan disampaikan lewat umpasa tersebut, terdapat pada kalimat setelah sampiran. Justru disinilah mulai kesalahan penerjemahan muncul.

Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon merupakan tiga “cita-cita” orang Batak. Hamoraon berarti kekayaan, Hasangapon kurang lebih kehormatan. Manakala kata Hagabeon, berasal dari kata dasar ‘gabe’. Mengacu pada “Kamus Budaya Batak Toba” karangan M.A.Marbun dan I.M.T.Hutapea, kata gabe berarti : mempunyai banyak keturunan putra dan putri. Masih kamus yang sama menuliskan, “istilah gabe bukan hanya dipakai mengenai manusia melainkan juga mengenai mata pencaharian yang berhasil baik”.

Terus terang, agak sulit buatku untuk mencari padanan yang pas untuk istilah hagabeon. Memang pada masanya dahulu soal keturunan merupakan sebuah ‘syarat’ yang harus dipenuhi sebagai sebuah bentuk ‘kesempurnaan’ di keluarga Batak. Dan atas dasar itulah (untuk sementata) aku merasa lebih pas untuk menggunakan istilah diberkati untuk kata gabe atau hagabeon.

Menurutku, penerjemahan haruslah per kalimat, dan tidak dipenggal. Sehingga jika aku bisa menerjemahkan kalimat umpasa setelah sampiran akan menjadi “Hari kita akan diberkati, jika saling seia sekata. Bukan malah ajakan untuk memiliki banyak anak, sebagaimana disebutkan pada tabloid itu :-D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *