02. Juni 2004 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Curhat Ibu Mega soal Media

Kasihan sekali melihat Bayu Setiono semalam. Pukul 22.00 WIB di SCTV, dia tampil dalam acara Wawancara dengan Megawati. Mungkin materi yang telah dipersiapkan matang, kembali mentah saat berhadapan dengan Megawati Sukarnoputri [MS] yang calon Presiden dari partai dengan perolehan suara di peringkat kedua Pemilu legislatif kemarin.

Wawancara dibuka dengan pertanyaan soal prestasi pemerintahan MS. Dan dengan gagah, MS mengatakan BPPN !. Bagaimana di masa pemerintahannya, BPPN [yang didirikan semasa era Suharto] bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ketika Bayu mencoba ‘mengorek’ prestasi lain, MS hanya menjawab, “Apa perlu saya menyebutkan satu persatu ?”. Sebagai penonton aku merasa suasana sudah tidak enak. Aku berpikir, mungkin ini yang membuat pers kurang meliput beliau.

Selanjutnya Bayu bertanya, kenapa sepertinya selama ini banyak kebijakan pemerintahan MS yang tidak ‘sampai’ ke bawah. Menjawab inilah akhirnya terbuka pertanyaanku tadi. Ternyata MS kurang suka dengan media karena sering main plintir dalam menyajikan berita. Belaiu bahkan mencontohkan berita yang menyamakan dia dengan Sumanto [MS tidak menyebut nama, Sumanto disebutkan oleh Bayu]. Menurutnya apa yang dilakukan sekarang adalah cara terbaik. Beliau tidak merasa patah arang meski media mengambil sikap seperti itu padanya. Menurut MS, pilihan sikap hanya ada dua. Meladeni pers atau bekerja keras. Waktu Bayu bertanya apakah kapok berhadapan dengan media, MS menjawab, “tentu saja tidak, buktinya saya menerima anda”.

Curhat soal media ini berlanjut waktu ngomongin soal TKI. Waktu ditanya kenapa sepertinya perhatian MS kurang kepada TKI. Meski mengunjungi keluarga Nirmala Bonat, namun tidak melakukan apa-apa kepada pengungsi di Nunukan. Sementara Presiden Aroyo memberi perhatian besar. Menjawab ini, MS berkata kalau beliau menghargai upaya Aroyo. Bahkan sampai menelpon Presiden Filipina itu. Bayu langsung menimpali, “Ibu menelpon ?. Kenapa tidak diberitakan ?”. Langsung dijawab, “kalau media selalu menyalahkan saya, buat apa dikomunikasikan ?

Ada satu hal yang lucu waktu bicara soal penggusuran. Bayu bertanya mengenai satu pernyataan MS di Media. Dengan tajam MS bertanya, “apa saya menyatakan seperti itu ?. Saya tidak pernah menyatakan seperti itu. Dari siapa anda mendapat informasinya. Siapa wartawannya ?” Sepertinya si ibu marah. Tapi pas ditanya oleh Bayu apakah beliau pemarah, jawaban yang diterima Bayu adalah, “apakah menurut anda saya pemarah?”. “Tidak, bu” jawabnya. Si ibu langsung berkata, “Kalau begitu, buat apa hal itu kita dialog kan?”. BAH !

Secara keseluruhan apa yang tersaji dalam wawancara semalam sangat membosankan [kalau tidak bisa dibilang memuakkan]. Aku merasa apa yang dikatakan sipil bergaya militer, tercermin dalam sikap ibu MS ini. Wawancara semalam berbeda sekali dengan wawancara dengan calon Presiden lain. Seorang Hamzah Haz saja bisa menyikapi dengan baik pertanyaan mengenai jumlah istri di Trans TV. Mudah-mudahan aku salah. Mudah-mudahan saja itu merupakan pengejawantahan dari satu kalimat di iklan Mega-Hasyim yang menyatakan, “mulai bekerja tanpa banyak bicara“. Dan semoga kalimat lain dari iklan itu tidak terwujud, “rakyat menuntut perubahan dan keadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *