11. April 2004 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Hari ini Paskah. Selamat Paskah buat kalian yang merayakannya hari ini. Tahun ini, Hari Raya Paskah berbeda dari biasanya. Itu lantaran, tahun ini Mel Gibson meluncurkan film yang bercerita tentang 12 jam terakhir kehidupan Yesus dalam The Passion of The Chist. Begitu filem ini rilis, langsung menjadi filem box office. Malah mengalahkan Lord of the Ring yang beberapa waktu sebelumnya berjaya di ajang Oscar.

Di Amerika sendiri, filem ini memancing pro dan kontra. Yang pertama adalah karena filem ini ‘berisi darah’ yang sebenar-benarnya. Maksudnya, lebih setengah dari dua jam filem ini diputar secara terus menerus mempertontonkan bagaimana penyiksaan yang diterima oleh tokoh utamanya. Yang kedua adalah, masalah klasik buat bangsa Amerika. Apalagi kalo bukan soal Bangsa Yahudi.

Dalam skala lebih kecil, aku juga menemukan pro dan kontra. Ini terjadi dalam satu milis yang aku ikuti. Tergoda dengan kesuksesan filem ini di luar negeri, banyak yang ingin menontonnya. Sayangnya filem ini secara resmi belum masuk negeri ini. Yang ada hanyalah VCD dan DVD bajakannya. Inilah yang mengundang Pro-Kon. Miliser [peserta milis] yang kepengen menonton, taku berdosa kalau menonton bajakan. Sebagian lagi menyarankan, kalau memang kepengen banget nonton, ya tonton saja apa yang ada.

Sampai satu saat salah satu miliser mengutip ucapan tokoh utama filem itu. Sebagaimana ditulis dalam Alkitab, konon ada seorang pelacur bernama Maria Magdalena yang akan dihukum dengan dirajam [dilempari batu hingga mati] dan diketahui oleh Yesus. Kepada para perajam itu Yesus hanya berkata, “Barang siapa yang tidak berdosa hendaklah dia yang melempar batu pertama kali“. Mendengar ucapan ini, semua yang telah bersiap dengan batu di tangan, berbalik meninggalkan sang pelacur.

Selain soal Pro-Kon itu, ada yang bikin aku penasaran seminggu ini. Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir di Majalah Tempo minggu lalu mengangkat soal filem ini. Aku gak tau secara persis tujuan dari kolom tersebut. Aku gak bisa sepenuhnya memahaminya meski berkali-kali berusaha membaca kalimat penutupnya. Aku juga gak tau apakah ini disebabkan kurangnya pemahaman aku soal sastra. Mudah-mudahan GM [demikian penulisnya biasa disapa] memang bersikap netral. Atau ada yang bisa menerangkan maksud sebenarnya dari kalimat-kalimat yang aku kutip ini ?.

“Hiperbol memang diperlukan, tetapi jika efek yang diharapkan terjadi. Di sekitar kesengsaraan yang luar biasa itu, tak terasa oleh saya sesuatu bergetar-ada orang ramai, ada beberapa sosok orang yang jatuh hati, tapi The Passion of the Christ sedikit sekali mengantar kita kepada cerita lain dari Yesus : bagaimana laku yang begitu menggugah, yang dirumuskan dengan satu kata, “Cinta”, lebih besar ketimbang “Sakit”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *