19. Juni 2006 · 106 comments · Categories: Tak Berkategori

Sekarang musimnya bola. Meminjam slogan lama dari satu sabun kecantikan, mungkin 9 dari 10 televisi yang menyala mulai pukul 20.00 WIB, menayangkan pertandingan-pertandingan yang dilaksanakan di Jerman tersebut. Dimana-mana pembicaraan yang ada hanya seputar pertandingan Piala Dunia. Demikian juga dengan pemberitaan. Hampir semua media berlomba-lomba memberitakannya. Kalau perlu mengirim wartawan langsung ke negerinya Hitler itu untuk meliput kegiatan (yang kadang juga disebut pesta) empat tahunan ini.

Bahkan tayangan infotainmet yang biasanya meliput berita seputar para pesohor, tak ketinggalan. Biasanya liputanya tentang artis ini yang menjagokan tim negara itu. Disatukan dengan berita artis ini sedang pacaran dengan artis itu, artis itu kabarnya mau menikah dengan si ini, atau konon kabarnya si Anu mau cerai dengan si Ani.

Di sini (Indonesia) perhelatan ini sempat ‘hampir’ memicu perselisihan diantara pengelola media. Pasalnya sebuah media yang menjadi penyiar resmi tayangan itu di Indonesia memuat pengumuman yang menyatakan kalau hanya mereka lah yang memiliki hak siar atas semua pernak-pernik Piala Dunia. Konon, merka bahkan sempat ‘menegur’ media lain untuk urusan ini.

Entah sekarang. Karena sepertinya gembar gembor mereka soal hak siar ekslusif ini sedikit melunak. Mungkin ada kaitanya dengan kenyataan soal ‘ketidakmampuan’ mereka untuk menyiarkan secara langsung prosesi pembukaan pesta itu. Yang ternyata masih terkait dengan hitung-hitungan bisnis. Selain itu, pilihan mereka untuk memajang putri seorang mantan penguasa di masa lalu sebagai pembawa acara, juga mendapat kecaman dari mana-mana.

Seorang Gubernur juga merasa perlu untuk mengungkapkan di media bahwa beliau akan memberi sanksi buat pegawai di lingkungannya yang ketahuan membolos atau terlambat masuk kerja karena alasan menonton bola (memanya aga,gitu?bukankah di negara ini ada 1001 alasan yang bisa diciptakan? hehehehe). Buatku ini aneh karena bertolak belakang dengan salah satu alasan cuti bersama di harpitnas (hari kejepit nasional).

Kalau tidak salah, dulu salah satu alasan meliburkan karyawan di harpitnas adalah untuk mengakomdir mereka-mereka yang liburnya (entah sengaja atau tidak) ‘kebablasan’. Sehingga pemerintah melalui tiga Menteri merasa perlu untuk membuat Surat Keputusan Bersama yang memaksa sebagian orang (diluar mereka yang males masuk tadi) untuk cuti. Mestinya, bukankah dengan alasan yang hampir sama, tiga Menteri bisa saja membuat SKB baru untuk menggeser jam kerja?. Bolehlah Menteri Agama diganti dengan Menteri Pemuda dan Olah Raga. Bikin saja alasannya demi memajukan persepakbolaan nasional, gitu lho… Masuk kerja jam 10.00 WIB pulangnya jam 19.00 WIB. Jumlah jam kerja tidak berubah, toh ?.

Kembali ke slogan diatas, aku cuman mau bilang kalau satu televisi yang tidak menayangkannya, mungkin televisi di rumahku. Bukan apa-apa. Aku tidak merasa wajib menontonnya. Itu saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *