04. November 2004 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Jumat, 29 Oktober

Seperti biasa diluar Senin, Selasa, Rabu aku pulang lebih larut dari jam pulang kantor. Karena musti ngeringkas buku Filsafat Ilmu yang terjemahan [aneh gak siy kuliah Magister masih disuruh meringkas buku ?]. Hampir jam tujuh siap-siap untuk pulang. Beres-beres meja yang tak bisa rapi seratus persen. Pakai jaket kulit, menyandang ransel baru aku sadar kalau kunci motor gak ada di kantong seperti biasa. Mencoba mengingat pelan-pelan sambil membongkar ransel item yang berat karena buku dan potokopian. Maklum Senin mo ujian. Ternyata di tas, jaket maupun saku celana tak ada. Pasrah ke parkiran, berharap kunci itu ada di sana.

Ternyata kunci yang dicari tidak ada, sodara-sodara ! Bertanya pada petugas diajak ke pos depan. Sempet gembira karena katanya ada kunci yang tertinggal di motor. Sampe di pos, …..”anda belum beruntung !”. bukan kunci SMASH tapi kunci Honda. Kembali ke ruangan lagi, masih dengan ransel yang lumayan berat. Bongkar-bongkar meja lagi. Intip-intip laci lagi. Hasilnya, masih !. Akhirnya bertanya ke Lae di rumah apakah punya kunci duplikat. Malangnya nasib. Terpaksa pulang naek taksi dengan rencana besok pagi kembali dengan tukang kunci.

Selewat Slipi Plasa menjelang masuk tol Kebon Jeruk, istri menelpon. Bilangin kalo kunci duplikatnya dah ketemu. Turun dari taksi, bayar duapuluh ribu karena tak ada kembalian dua ribuan. Berarti sejauh ini sudah duapuluh lima ribu rupiah menguap karena kunci kecil itu. Untungnya kembali ke kantor dianterin istri dengan Ceria Merah.

Dengan kunci duplikat di tangan berjalan ke arah motor biru itu. Buka jok, ambil helm. Ting ! Serangkaian kunci motor jatuh dari dalam helm. HAH !! Kenapa tadi tidak memeriksa helm ini ya ? Trus kenapa ada di sini ? Terima kasih kepada yang sudah menitipkannya disana. Itu kalau memang dititipkan. Kalau tidak, berarti aku gak sadar kalau kunci itu meluncur dari tanganku tadi pagi !

Sabtu 30 Nopember
Pagi-pagi main sebentar dengan jagoan kecilku. Sempet ngasih sarapan dan mandiin sebentar. Tiga ember besar berisi air, termasuk ember berisi air bekas membilas pakaian, habis dijelajah sama dia. Yang kalau tidak dituruti, pasti bakal berkelahi !.

Abis itu sarapan dan mandi karena mo ke SAMSAT di Daan Mogot. Tapi satu hal yang aku mo bilang, siapapun yang membaca blog ini harus bisa menjaga rahasia ini dan jangan bilang siapa-siapa. Aku mo ngurus SIM A dan SIM C. Karena SIM A-ku ditahan polisi untuk kemudian lenyap begitu saja bulan Februari 2002 [ssstttt….diam-diam aja, yah…]. Trus SIM C, dulu aku pernah punya. Tapi bikinnya di Medan. Sudah lama almarhum itu SIM. Jadi ceritanya sekalian. Lagipula sekarang aku seringan naik motor. Kalo enggak, keluar kantor jam empat sore bakal terlambat sekali kuliah setengah lima.

Sampe di sana suasananya kelihatan tertib. Tidak banyak orang berlalu lalang kaya dua tahun lalu. Mungkin benar seperti kata di koran. Calo SIM sudah bersih dari Daan Mogot. Di pintu masuk, musti nunjukin KTP. Kalo bukan penduduk Jabotabek, jangan harap bisa masuk. Sampe di dalam clingak-clinguk sebentar belajar alur pembuatan SIM. Tapi tetep saja bingung. Bertanya kepada seorang petugas, langsung ditawari ‘bantuan’. ‘Bantuan’ seharta tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Aku pikir okelah. Karena dari beberapa kabar aku dengar dua kepin SIM biasanya ‘dihargai’ tiga ratus. Aku dimintai potokopi KTP aku serahkan. Kitapun mojok berdua di satu lorong. Sambil si Bapak menulis di KTP aku coba tawar. “Bisa gak pak, tigaratus dua ?” Si Bapak langsung mbalikin KTP,”Gak kurang lagi bos ! Boleh tanya ke yang laen deh” kata beliau sinis. Mati aku ! duit di kantong cuman lima ratus ribu !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *