29. Oktober 2006 · 1 comment · Categories: Tak Berkategori

Selesai sudah libur panjang karena Hari Raya Idul Fitri. Yang kemarin keluar kota karena mudik dalam rangka Lebaran atau sekadar menghabiskan libur panjang, mulai kembali ke Jakarta untuk kemudian besok hari bekerja kembali seperti biasa. Bersama-sama dengan mereka yang selama ini kebagian jatah ‘menunggui’ Jakarta :-).

Untuk yang terakhir ini, banyak yang bilang mereka ‘jadi Oshin’. Kemungkinan besar sebutan ini muncul karena mereka selama liburan harus mengurus rumah. Sebagai konsekuensi dari pekerja yang selama ini mengurus rumah ikut dalam rombongan mudik. Mau tidak mau, urusan rumah dikerjakan sendiri. Mulai dari menyapu, mencuci serta menyeterika pakaian, memasak makanan hingga mengasuh anak.

Sekedar mengingatkan Oshin adalah judul sekaligus tokoh utama sebuah film seri [dulu masih disiarkan oleh TVRI dan sangat digemari di sini] Jepang yang bercerita tentang kisah seorang wanita [tentu saja] Jepang, yang memulai hidupnya sebagai seorang pembantu rumah tangga hingga akhirnya menjadi pemilik beberapa toko swalayan di hari tuanya.

Kalo aku bilang menyebut diri sendiri ‘menjadi Oshin’ koq ya kurang pas. Karena ternyata ada perbedaan. Mereka yang menyabut dirinya Oshin itu, aku yakin hanya melihat awal dari kisah. Entah berapa orang yang mengingat atau memiliki cita-cita sebagaimana akhir kisah hidup Oshin :-p. Selain itu, Oshin mengerjakan semua dengan ketulusan. ‘Sedikit’ berbeda dengan mereka yang tidak mudik, konon ada juga yang merasa terpaksa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Padahal mereka bekerja di dan demi rumah sendiri, bukan di rumah orang lain sebagaimana Oshin.

Kalau mau jujur, sebenarnya peran Oshin itu baru akan kita jalankan mulai besok pagi. Mereka yang menyandang predikat pekerja atau karyawan, yang nota bene masih bekerja untuk orang lain untuk kemudian diberi imbalan atas apa yang dikerjakannya sama saja dengan awal perjalanan hidup Oshin. Bila bekerja mengikut apa yang dikatakan Gibran [kerja adalah perwujudan cinta] ditambah ketulusan seperti Oshin dan yang lebih penting lagi tak lupa berinvestasi kepada hal-hal yang kelak dikemudian hari ‘berbuah’, niscaya jalan hidup kita serupa dengan Oshin. Semoga!.

1 Komentar

  1. mohon maaf lahir batin :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *