07. Oktober 2004 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Anak Medan Pulang Kampung

Akhir minggu lalu [Jumat, 1 Oktober 2004] aku berkesempatan untuk mengunjungi Medan, kota tumpah darahku. Terakhir kali aku berkunjung ke sana adalah desember 2001. Saat itu aku ke sana bersama istri yang ketika itu masih berstatus sebagai calon istri. Sementara, Jumat kemarin kami datang bertiga dengan jagoanku yang [kata orang] ganteng dan iseng [kataku]

Meski hanya berkunjung selama dua malam, aku merasa tidak banyak yang berubah dari kota ini kalau dibandingkan dengan saat terakhir pulang. Tetap semarak oleh lampu. Tapi kalau dibandingkan dengan saat terakhir aku tinggalkan tahun 1996, kota ini mengalami kemajuan yang cukup pesat. Salah satunya adalah tiap sudut kota semarak oleh lampu. Selain itu banyak jalan yang sepertinya baru diperlebar. Trus ada beberapa jalan yang dahulu bisa dilalui oleh kendaraan dari dua arah sekarang berubah menjadi jalan satu arah. Ini membuatku seperti kehilangan nyali untuk mengendarai kendaraan sendiri. Kalau harus berkendaraan, aku lebih memilih untuk disopiri oleh salah satu dari dua orang adik ku. Selain itu di beberapa titik di kota Medan dibangun pusat perbelanjaan yang isinya departement store yang selama ini hanya ada di Jakarta. Seperti SOGO atau Metro. Juga Carrefour yang mengambil lokasi di bekas area Pekan Raya Sumatera Utara [Medan Fair]

Saat disopiri oleh adik bungsuku aku menyatakan kekagumanku akan apa yang telah dicapai oleh Walikota Medan sekarang ini. Menurutku, beliau telah berhasil mengajak investor untuk berinvestasi di Kota Medan. Dari apa yang pernah aku baca di Majalah Tempo, Pemerintah Kota Medan ingin setara dengan kota metropolitan lain di Indonesia. Bahkan ada keinginan untuk sejajar dengan Singapura dan Penang, dua kota yang selama ini menjadi tujuan wisata warga Medan. Tapi entah kenapa, adikku sepertinya kurang setuju dengan kekagumanku. Entah karena semangat mahasiswanya yang masih kental atau karena dia lebih tau kota Medan dari aku. Tapi buatku sejauh ini apa yang telah dicapai cukup membuat orang seperti aku ini [yang lama meninggalkan kota ini] merindukan kota itu.

Sambil berharap bisa pulang lagi di akhir tahun nanti, aku merasa semangat untuk pelan-pelan merubah salam ‘Ini Medan Bung‘ menjadi ‘This is Medan, Sir !‘ mesti mendapat dukungan dari semua pihak yang mencintai kota Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *