08. Januari 2003 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Manajemen Qolbu di BEJ

Tanggal 2 Januari 2003, Aa Gym memberi ceramahnya kepada Karyawan PT BEJ. Inilah inti dari ceramahnya sebagaimana disarikan oleh seorang Teman [Thanks to mBak Kandi yang udah share]

Ketidak bahagiaan di dunia ini umumnya disebabkan oleh terlalu mencintai dunia, yang pada gilirannya dapat ditelusur ke 3 hal yaitu:
1. Selalu disiksa oleh keinginan – keinginan dijadikan goal dari hidup (ingin ini, ingin itu, ingin ini, ingin itu, dsb)
2. Selalu diliputi rasa takut / serba takut – terutama yang berkaitan dengan urusan dunia (takut lepas jabatan, takut tersaingi, takut kalah cantik, takut kalah pintar dsb).
3. Lupa akhirat –> lupa bahwa kematian itu adalah suatu kepastian, dimana pada saatnya itu, tidak ada satupun harta dunia ini yang akan kita bawa.

Sebagai obatnya, kebahagiaan di dunia ini, menurut Aa Gym, dapat diraih melalui 4 hal yaitu:

1. Tidak pernah merasa memiliki, tetapi merasa tertitipi. Semua milik Allah SWT. Harta, anak, keluarga, ilmu dsb. Kita hanya tertitipi. Dengan demikian tidak perlu disiksa oleh keinginan ataupun ketakutan.

2. Semua milik Allah SWT, sehingga kiat hidup mestinya adalah: “Jika punya/ jika ada tidak sombong, dan jika tidak ada/ tidak punya jangan merasa minder”. Menurut Aa, kedua-duanya, yaitu rasa sombong atau minder, sama-sama merupakan penyakit hati

3. Tidak merasa iri ataupun dengki melihat orang lain yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan diri kita.

4. Tidak mencari rezeki dengan cara yang licik. Aa mengatakan bahwa “Demi Allah, untuk semua orang dimuka bumi ini sudah ada rezeki yang thoyyibah dan barokah bagi masing-masing orang ini”. Hal ini karena, sesuai dengan ketentuan hukum Islam, pada saat usia kita 4 bulan dikandungan Ibu, semua rezeki yang diperuntukkan bagi kita sudah digariskan. Dengan demikian,
hakekatnya, dalam agama Islam, mencari nafkah adalah menjemput rezeki – bukan mencari. Tugas kita adalah menjaga ibadah. Menurut Aa Gym, pengertian rezeki adalah apa yang dihasilkan oleh kita (atas izin Allah SWT) dan dipergunakan untuk tujuan
bermanfaat.

Pada intinya, menurut Aa, hidup didunia adalah ‘mampir’, semua orang pasti akan mati. Tugas kita didunia adalah melakukan yang terbaik dan mempersembahkan yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan bakat yang sudah diberikan oleh Allah SWT kepada kita masing-masing, dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik lagi diakhirat nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *