14. Januari 2008 · 1 comment · Categories: Tak Berkategori

Presiden pertama RI, konon pernah berkata “Jangan pernah sekali-kalipun kita sebagai bangsa mempunyai watak bermental ‘tempe’!” Meski gak tahu persis, dalam konteks apa Pak Karno meneriakkan hal tersebut, namun aku teringat lagi dengan kalimat beliau tersebut saat hari ini diberitakan bahwa para perajin tahu-tempe melakukan aksi demonstrasi menyikapi kenaikan harga kedelai yang merupakan bahan utama pembuat tempe.

Hal lain yang terpikir adalah, seringkali untuk menggambarkan kemiskinan sebuah keluarga di Indonesia, dikatakan bahwa sehari-harinya mereka hanya makan dengan lauk tempe dan/atau kecap. Dalam konteks ini, sepertinya tempe [dan kecap, yang juga berbahanbaku kedelai] adalah lauk paling murah di Indonesia.

Kembali ke masalah unjuk rasa, para perajin ini merasa perlu melakukan unjuk rasa karena [sebagaimana dikutip Kompas], “pada awal Januari 2007, harga eceran kedelai tertinggi Rp 3.450 per kilogram. Sejak November 2007, harga jual kedelai per kilogram berangsur naik cepat mulai Rp 5.450 menjadi Rp 6.950 pada akhir Desember 2007. Pada awal Januari 2008 harga kedelai eceran sudah mencapai Rp 7.250 per kilogram atau naik 110 persen dibandingkan awal Januari 2007” Dan yang lebih mencengangkan lagi, ternyata harga kedelai yang naik itu adalah kedelali impor.

Terbayang, gak sih? Negara kita yang konon negara agraris dan memiliki banyak petani ini, harus mengimpor kedelai yang menjadi bahan baku dari penganan ‘orang tak mampu?’ Kalau sudah begini, aku rasa tidak perlu lagi merasa rendah diri kalau seandainya sehari-harinya kita hanya makan ditemani dengan tempe, kecap, tahu dan tauco. Karena bagaimanapun ternyata makanan yang kita anggap tak bermutu itu, bahan bakunya impor. Tidak ada di sini. Mungkin setara dengan makanan kelas mall seperti donat, burger atau segala macam ayam goreng [bermerek] impor.

Kembali ke soal Pak Karno di atas, setelah googling aku ketemu satu penjelasan kenapa beliau menyerukan kalimat itu. Bukan untuk merendahkan. Tapi lebih kepada permintaan agar sebagai bangsa, kita memiliki harga diri. Dan tidak boleh diinjak-injak oleh bangsa lain. Sebagaimana kedelai yang dalam proses pembuatan tahu, selalu diinjak-injak.

1 Komentar

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetahui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *