04. Januari 2008 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Ada kejadian menarik yang aku lihat dalam perjalanan menuju rumah malam ini. Terjadi di ‘perempatan’ jalan D.I.Panjaitan dengan jalan Inspeksi Saluran Kalimalang [sepertinya ini nama resmi, jalan yang sering disebut dengan Kalimalang saja]. Kalau datang dari arah UKI hendak ke Bekasi tanpa lewat tol, setelah gedung WIKA. Tepatnya di lampu merah, di bawah jalan layang Cawang-Tanjung Priok.

Aku sempat memperhatikan karena lalu lintas berhenti, saat lampu merah menyala. Seorang pengendara motor sedang ‘ditangkap’ polisi. Entah apa kesalahannya, aku tak sempat lihat. Mungkin saja dia melanggar marka jalan atau menabrak lampu lalu lintas. Jadi pak polisi menangkap dan pengendara harus dihukum dan diberi surat bukti pelanggaran [tilang]. Yup! Setuju pak polisi! Karena, meski juga sebagai pengendara motor, sering aku kesal dengan pengendara motor yang seenaknya saja menabrak aturan lalu lintas.

Si pengendara digiring ke pos polisi yang berada 2 meter dari lampu lalu lintas. Sebuah pos kecil yang juga terletak di bawah jalan layang. Sebagimana juga di beberapa tempat lain di jakarta, ada beberapa pos polisi yang ditempatkan di perempatan, di bawah jalan layang. Aku rasa, pasti disanalah kepada si pengendara motor akan dibacakan kesalahannya untuk kemudian pak polisi akan menuliskan kesalahan itu di surat tilang. Bagus, aku pikir. Dengan ditulisnya surat tilang, kelak hakim punya alasan untuk menjatuhkan hukuman kepada si pelanggar lalu lintas. Hal yang positip menurutku. Hukum harus ditegakkan, pak! Aku dukung!

Tidak lama dukunganku yang di dalam hati, berganti menjadi rasa iba kepada pak polisi. Karena aku membayangkan betapa sulitnya pak polisi menulis surat tilang di pos kecil yang tak terawat itu.

Kacanya kotor berdebu tak terawat. Bahkan ada bagian yang pecah. Dan yang membuat aku semakin kasihan kepada pak polisi yang baik itu adalah, aku gak bisa membayangkan bagaimana beliau terpaksa menulis surat tilang, dalam suasana malam hari, di bawah jalan layang, tanpa satu lampu pun yang menyala di dalam pos polisi kecil itu. Ah, kasihan sekali engkau pak polisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *