10. Januari 2003 · 3 comments · Categories: Tak Berkategori

Kalau ada orang yang bertanya di mana kampung halamanku, aku akan menjawab Medan !. Kenapa ? Karena di sanalah aku menghabiskan sebagian besar masa kecil [sejak kelas 4 SD sampai lulus dari perguruan tinggi]. Tapi ikatan emosional dengan daerah Tapanuli Utara tidak bisa aku hilangkan. Karena, leluhurku berasal dari sana.

Ada satu artikel di kompas yang bercerita soal daerah ini. Yang -hampir mirip dengan kejadian di bagian lain Indonesia- ternyata ada keinginan dari beberapa bagian darinya untuk memekarkan wilayahnya.

Perpecahan lagi…:-(


Tapanuli Utara, antara Perpecahan dan Penyatuan

KALAU ada yang mengatakan dirinya orang Tapanuli, sebenarnya ia mau berkata bahwa ia beretnis Batak. Namun, Tapanuli dan Batak banyaklah bedanya.

Selama ini secara antropologis orang Batak dikenal dalam enam sub-etnis, yaitu Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Batak Angkola, dan Batak Pakpak. Namun dalam kenyataannya, orang Karo dan Mandailing menolak disebut Batak. Mereka mengaku sebagai orang Karo dan orang Mandailing, dan sama sekali bukan Batak.

Orang Karo menolak disebut Batak sebab bahasa mereka memang berbeda dengan bahasa orang-orang yang menghuni kawasan Danau Toba ke arah selatan. Bahasa dan budaya Karo lebih dekat dengan bahasa dan budaya Pakpak yang sama-sama mendiami wilayah di utara Danau Toba.

Sementara, bahasa Simalungun, Toba, Angkola, dan Mandailing masih sangat mi-rip. Yang membedakan secara nyata Toba dan Mandailing adalah agama. Mayoritas orang Mandailing adalah Muslim, sementara mayoritas orang Toba adalah Kristen.

Demikianlah, istilah Batak kini mengacu kepada Batak Toba. Jadi, dalam pembica-raan awam, orang Batak adalah orang Batak Toba, bukan Batak yang lain.

Dalam bahasa kewilayahan, warga Tapanuli Utara (Kabupaten Tapanuli Utara) adalah orang Batak Toba, sedangkan warga Tapanuli Selatan (Kabupaten Tapanuli Selatan) adalah orang Ang-kola dan Mandailing.

***
NAMUN, sejak tahun 1998 Kabupaten Tapanuli Utara yang menjadi “domain” orang Batak ini terbagi dua menjadi Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Tapanuli Utara. Dalam istilah positif, itu disebut pemekaran, namun dalam kacamata pesimistis, itu adalah perpecahan.

“Perpecahan” ini belumlah berhenti. Awal Juni lalu ada gerakan untuk pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan, lewat dari Kabupaten Tapanuli Utara. Selain itu, pada bulan Mei 2002 lalu, satu rombongan masyarakat Pulau Samosir mendatangi berbagai instansi termasuk kantor DPRD Sumut menuntut pembentukan Kabupaten Samosir yang terpisah dari Kabupaten Toba Samosir.

Dua kali perpecahan yang terjadi di atas dipicu oleh perasaan daerah yang merasa plus dan keberatan kalau harus menyubsidi daerah yang minus dalam satu “rumahnya”. Tuntutan masyarakat Samosir beberapa waktu lalu itu dengan jelas mengatakan, mereka akan lebih maju bila bisa berdiri sendiri sebab punya potensi wisata yang baik di seluruh Pulau Samosir.

Tapanuli masih terlibat da-lam perpecahan lain, bahkan yang lebih besar, yaitu pembentukan Provinsi Tapanuli yang terpisah dari Provinsi Sumatera Utara.

Di satu sisi ini lucu. Dalam kancah perkabupatenan mereka saling ingin memecahkan diri, tapi sepakat ingin bersatu dalam sebuah provinsi baru.

Banyak pihak, termasuk Parbato (Partungkoan Batak Toba, organisasi musyawarah Batak Toba), menolak gagas-an Provinsi Tapanuli ini. Menurut Ketua Parbato, Ompu Monang Napitupulu, langkah pembentukan Provinsi Tapanuli adalah kemunduran.

Pembentukan Provinsi Tapanuli ini adalah untuk “mengimbangi” usulan pembentukan Provinsi Sumatera Timur yang juga memisahkan diri dari Provinsi Sumatera Utara.

***
SEJAK kehilangan sebagian daerahnya yang menjadi Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara memang kehilangan banyak potensi wisata. Salah satu danau air tawar terbesar di du-nia, Danau Toba, yang sangat terkenal secara internasional, sebagian besar menjadi “milik” Kabupaten Toba Samo-sir.

Kini, Kabupaten Tapanuli Utara hanya “menyentuh” Danau Toba di kota kecil Muara, plus Hutaginjang yang melihat Danau Toba dari ketinggian. Bisa dikatakan Tapanuli Utara sudah kehilangan Danau Toba karena Muara cukup sulit dicapai akibat kondisi jalan yang buruk. Hutaginjang pun hanya melihat Danau Toba dari kejauhan, semata kalau cuaca cerah.

Untuk berbicara wisata, andalan Tapanuli Utara ba-rangkali menjual Tarutung sebagai kota peristirahatan yang indah dan sejuk. Tarutung pun bisa menjadi kota transit sebelum orang ke Sibolga untuk menyeberang ke Pulau Nias dalam penyeberangan yang hanya sekali sehari di waktu malam.

Di sekitar Tarutung pun masih ada beberapa obyek wisata menarik. Salib Kasih misalnya. Bagi orang Kristen, tempat ini sangat layak dikunjungi karena merupakan tempat retret di atas bukit yang hijau dan sejuk. Sebuah salib berwarna putih yang sangat besar menjadi latar belakang sebuah panggung yang biasa dipakai untuk kebaktian-kebaktian. Di situlah Nommensen, orang Jerman pembawa agama Kristen ke Tapanuli, pernah singgah dan memandang Tarutung di lembah indah di bawahnya. (arbain rambey)

3 Komentar

  1. Pingback: terpikir langkah kecil untuk bona pasogit | [menulis apa yang terpikir]

  2. tetaplah konsisten utk memajukan tanah kelhiran kita Tapanuli utara.memberdayakan hasil bumi dll.

  3. Waspadalah ikhwan-ikhwan fillah, Kalam Allah : “Walantardzo ankal yahudu walan nashoro hatta tattabia millatahum”
    Pembentukan Protap merupakan misi Kristen Internasional untuk membangun kekuatan Kristen di Indonesia. Peran surat kabar Indonesia Baru yang merupakan mulut orang-orang Nasrani dan Univ Sisingamangaraja merupakan pencetakan Kader Nasrani Militan. Waspada waspada waspada

  4. Pemekaran wilayah bukan perpecahan. Ruang di sini tidak cukup membahas itu. Bahkan, saya termasuk pendukung berat untuk pembentukan Provinsi Tapanuli. Sekali lagi tak ada waktu menjelaskan beribu alasan. Tapi wahai seluruh orang Batak, pikirkanlah hal-hal ini: Bank Tapanuli, Universitas Tapanuli, Bandara Tapanuli, Televisi Tapanuli, Tapanuli Air…….! Pikir dan Bertindak! Jangan berdebat!

    Kalau saudara-saudara kita dari karo, mandailing, dll kurang ‘sreg’ dgn kata TAPNULI, maka silahkan ganti dengan Provinsi Batakia…..Sah saja! Horas!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *