02. Maret 2004 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Setelah lama mencari, akhirnya aku memiliki buku kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu terbaru. Judulnya ‘serem’ : “Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)“. Setauku ini kumpulan cerpen keduanya setelah “Mereka Bilang, Saya Monyet“. Sama seperti buku pertamanya, Djenar masih bermain-main dengan topik yang membuat orang terpaksa berkomentar. Atau lebih tepatnya mengambil sikap pro dan kontra. Karena sama seperti buku pertamanya itu, Djenar masih ‘bermain’ kata-kata di sekitar selangkangan ! Djenar bahkan secara terang-terangan menyebut alat kelamin perempuan sebagai judul cerpen sekaligus nama tokohnya di buku pertama.

Sudut pandang penulisan yang ‘sedikit aneh; itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa dia bersama Ayu Utami dikecam orang. Ayu Utami sendiri lebih dikenal sebagai penulis dwilogi Saman dan Larung. Sementara buku terbarunya yang merupakan kumpulan essay berjudul Si Parasit Lajang : Seks, Sketsa dan Cerita. Untuk dua buku pertamanya yang merupakan bagian dari novel Laila Tak Mampir di New York, Ayu sering ditanggap jadi pembicara di beberapa seminar, utamanya terkait dengan penulisan dan ada urusan sex-nya.

Kedua penulis wanita di atas sempat mendapat ‘teguran’ dari seniornya di bidang sastra dan disebut bagian dari generasi sastra wangi atau sastra mesum. Padahal menurut Djenar, apa yang ditampilkannya biasa-biasa saja. Bahkan merupakan upaya untuk terus menghasilkan tema segar dalam khasanah sastra tanah air. Yang lebih nyelenyeh dari Djenar adalah pernyataannya yang menyatakan kalau dia siap telanjang ke DPR apabila RUU tentang pornografi jadi disahkan.

Tapi diluar dari masalah sastra, dan problem kedua penulis di atas ada yang menarik di sini. Dalam satu atau dua tahun terakhir, sepertinya urusan sex menjadi bahan yang laku untuk ‘dijual’. Lihat saja sejak meledaknya Jakarta Undercover dari Moammar Emka, mendadak banyak buku yang terbit dengan mengambil sisi penulisan sejenis. Bahkan Moammar Emka merasa perlu untuk menulis jilid kedua dari buku laris dan fenomenal tersebut. Bahkan terakhir sudah dibikin seri komiknya.

Dari buku, di televisi juga muncul acara senada. Mulai dari Fenomena di Trans TV, Jakarta Undeground di Lativi, X Magazine di TPI dan mungkin ada beberapa yang lain. Hampir mirip dengan fenomena acara teve yang mengupas soal alam gaib dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hantu dan kerabatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *