Iwan Fals for Presiden !

Iwan Fals for Presiden !

Andai saja Iwan Fals mencalonkan diri menjadi Presiden, mungkin aku akan memilih dia di tanggal 5 Juli 2004 besok. Alasan pertama, tentu saja karena suka dengan lagunya ! Gak perlu tau visi, misi dan program kerjanya ? Aku pikir gak terlalu pentinglah itu. Toh gak ada bedanya dengan iklan salah seorang calon Presiden yang bilang, “kapan lagi kita punya Presiden keren ?” he…he…he…

Alasan kedua adalah konsistennya dia dalam berkeseinan. Dari sejak mulai rekaman di awal 80-an hingga tahun ini, kejelian memotret keadaan sehari-hari ke dalam lagu tetap tidak berubah. Ini terutama keseharian orang-orang yang terpinggirkan. Orang-orang yang pernah akrab bersamanya selama menjadi pengamen di daerah Blok M. Mulai dari guru, pelacur, preman, pengangguran, korban PHK bahkan pengungsi Ethiopia.

Tapi bukan itu saja. Bang Iwan [begitu dia sering disapa] pernah juga membuat lagu tentang urusan kenegaraan yang mungkin berhubungan dengan dunia politik. Meski demikian terasa ringan dan enak saja disenandungkan. Dengan ringan dia melagukan lagu tentang Wakil Rakyat. Kesempatan lain, membicarakan korupsi [dia pake istilah Tikus tikus Kantor]. Atau kita ikut merasa sedih kala dia melagukan Bung Hatta. Di album terbarunya “Manusia 1/2 Dewa” melagukan cita-citanya tentang Presiden mendatang.

Nah, hal terakhir yang membuatku semakin kagum kepada pahlawan Asia ini adalah, kasus di album terakhirnya. Kebetulan sampul album itu memuat gambar Dewa Wisnu [Dewa dalam agama Hindu]. Hal ini mendapat protes dari seorang anak muda yang mengklaim diri mewakili Forum Intelektual Muda Hindu Dharma. Arya nama akan muda itu, mengemukakan di media bahwa apa yang telah dilakukan oleh Iwan telah melecehkan agama Hindu. Oleh sebab itu, sampul kaset harus diganti.

Mungkin karena tidak mau repot, pihak label rekaman sepakat meneken nota perdamaian dengan si anak muda. Namun Iwan Fals menyampaikan kalau dia keberatan dengan perdamaian itu. Menurutnya, kalaupun sampul kaset itu harus diganti, harus ada surat resmi yang menyatakan unsur pelecehan terpenuhi. Namun kalau tidak, si anak muda harus mengakui salah tafsir dan meminta maaf. Gimana gak hebat ? Mendengar berita ini, aku cuman berpikir, kenapa ya, capres dan cawapres yang gusar dengan kampanye negatif itu, tidak mengambil sikap seperti si Oemar Bakri ini ?

Satu hal lagi. Selengkapnya mimpi Iwan soal negara ini ada di sini.