01. Februari 2007 · 1 comment · Categories: Tak Berkategori

Hajatan lima tahunan itu datang lagi. Konon kali ini lebih bahkan lebih besar. Setelah diselenggarakan di daerah Elite Menteng dan jalan Thamrin pada Kamis siang, malamnya mendatangi kawasan jalan Jenderal Sudirman dan Gatot Subroto.

Sebagaimana sudah diperkirakan oleh Badan Meterologi dan Geofisika, hujan mengguyur daerah Jakarta dan sekitarnya. Sejak pertengahan Januari kemarin, aku rasa hujan siang dan malam ini adalah yang paling dahsyat. Daerah Jatibening, tempat dimana aku tinggal lima tahun terakhir bahkan sudah diguyur hujan sejak pagi hari. Berhenti siang dan sore hari, malam datang lagi. Tingginya curah hujan membuat Kalimalang meluap dan konon [dari berita yang terpantau di radio dan informasi tetangga yang baru saja melintas disana] ketinggian air telah sama dengan jalan raya Kalimalang.

Cikarang di Timur hingga Tangerang di Barat terendam air. Jakarta terkepung! Portal berita detik bahkan segera memasang banner dengan judul provokatif. Indonesia Tergenang !. Tujuannya untuk menggugah solidaritas warga membantu sesama yang terkena bencana banjir ini.

Kamis siang sempat bercanda soal banjir dengan teman sekantor. Ternyata memang benar hujan kali ini terlalu dahsyat. Rumah yang aku tinggali selama lima tahun terakhir tidak pernah ‘tersentuh’ air, Kamis sekitar jam 11 malam mulai menunjukkan tanda-tanda tidak wajar. Air menggenani jalan depan rumah dan hujan yang masih turun dengan derasnya segera akan menyentuh lantai teras. Segera saja aku ambil jas hujan dan mengisi karung plastik dengan pasir sisa renovasi rumah beberapa waktu lalu. Ternyata pasir kurang mencukupi. Terpaksa tanah jadi korban. Sepuluhan karung plus kantong belanja berisi pasir dan tanah jadi tanggul darurat di pintu depan dan belakang.

Benar saja. Air akhirnya menyentuh halaman teras. Dan pelan-pelan merembes masuk ke seluruh ruangan. Yeremia harus segera diungsikan. Bukan saja karena takut dia tergenang. Justru agar tidak ‘mengganggu’ bapaknya yang sedang giat bekerja :-D. Soalnya melihat bapaknya berhujan-hujan, dia langsung semangat pengen ikutan. Dari pengalaman yang sudah-sudah, kalau air setinggi ini, rumah di ujung jalan pasti terendam. Benar saja. Dari mengobrol dengan tetangga ketahuan kalau perabotan di rumah mereka sudah terendam air. Seorang tetangga sempat nyeletuk saat lewat depan rumah, “Situ enak mas….ubin masih kelihatan….”. Aku cuman tersenyum pahit menjawab, “Sama capeknya mas….”.

Sekitar jam setengah satu tengah malam, hujan mereda. Tinggallah rumah yang berantakan karena barang-barang yang rendah sudah diangkut ke tempat yang lebih tinggi. Kotor karena air yang menggenang 5 cm meninggalkan jejak lumpur. Mau gak mau, malam ini harus erja bakti. Kuras air, ngepel lantai. Capek juga. Pinggang rasanya mau copot. Gak kebayang tetangga dan ribuan orang di seputaran Jabodetabek yang mengalami banjir yang lebih dahsyat. Sudahlah capek, pasti banyak perabotan dan barang elektronik yang rusak. Mudah-mudahan kejadian ini membuat kita semua semakin kuat. Semoga !

1 Komentar

  1. Jadi ingat masa kecil.. aku semangat kalo rumah kena banjir.. he..he..he..he…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *