16. April 2007 · 1 comment · Categories: Tak Berkategori

Siang ini bersama beberapa teman aku ngobrol banyak dengan seorang teman yang pernah sekantor. Sang teman mengundurkan diri dua tahun lalu. Alasan pengunduran diri serta cerita dia tentang kegiatannya selama ini terkait dengan alasan pengunduran diri itu membuatku berpikir inilah kesimpulan atau jawaban dari beberapa peristiwa yang aku alami selama seminggu terakhir.

Dimulai dari cerita seorang ibu yang berteriak-teriak di depan rumah mantan suaminya sekedar untuk bertemu dengan anak mereka, yang berdasarkan penetapan pengadilan hak asuhnya jatuh kepada si bapak. Yang berikutnya tentang seorang ibu yang menandatangani surat pernyataan yang menyatakan menyerahkan sepenuhnya hak pengasuhan anak kepada mertuanya. Karena suami si ibu baru saja meninggal. Sementara sebelum suaminya meninggal suami istri itu telah sepakat untuk bercerai meski belum ada perjanjian hitam di atas putih. Yang terakhir adalah kejadian pagi ini. Tenteku [yang adik dari ibuku] meninggal dunia karena menderita kanker rahim stadium tiga dan telah dua kali menjalani kemotherapy di Penang, Malaysia. Tante meninggalkan sepasang anak yang masih kecil-kecil. Sedih membayangkan bagaimana ke depannya Edo dan Duma [dua nama sepupuku itu] sepeninggal Tante. Sebab menurutku, meski sama-sama sakit, kehilangan seorang bapak masih lebih ‘mendingan’ daripada kehilangan seorang ibu.

Kembali ke cerita teman di atas, sang teman memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaan biar lebih bisa memberi perhatian kepada putra pertamanya yang konon ‘bermasalah’. Dari cerita yang beru pertama kali aku dengar tadi siang [meski sekantor aku baru mendengar cerita itu] dia menduga penyebabnya adalah karena kurangnya perhatian kepada si sulung. Menurut temanku itu, saat si sulung masih baru lepas dari ASI dia harus berbagi perhatian dengan dua orang adiknya. Akhirnya si sulung bertingkah yang aneh-aneh. Bahkan sampai mogok sekolah segala. Padahal saat itu dia masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar.

Tentu saja aku kaget mendengarnya. Kelas dua SD sudah bisa protes dengan cara orang dewasa. Segala macam cara dicoba sang teman agar si sulung kembali bersekolah tidak berhasil. Bukti bahwa perhatian si ibu yang dicari si anak terlihat saat si ibu pulang dengan surat Pemutusan Hubungan Kerja dari perusahaan. Konon si sulung langsung merespon dengan kalimat kurang lebih, “Kalau begitu, besok saya sekolah lagi”.

Anehnya setelah lebih kurang dua tahun menjadi ibu rumah tangga dan dekat dengan si sulung, ternyata belum cukup baginya untuk mendapat perhatian dari si ibu. Terbukti sampai sekarang si sulung masih suka bermanja-manja dengan si ibu. Sementara dua adiknya yang kebetulan perempuan lebih mandiri daripada si sulung. Si sulung sampai dengan saat ini masih tidur bersama dengan si ibu. Manakala adiknya telah berani tidur sendiri.

Si teman bercerita terus terang, bahwa berat sekali awalnya merubah kebiasaan sebagai seorang kantoran menjadi ‘sekadar’ ibu rumah tangga. Satu hal yang langsung aku bantah [bukan cuman untuk membesarkan hatinya namun memang kenyataannya demikian] bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling berat buat seorang wanita. Bahkan seandainya wanita itu direktur satu perusahaan sekalipun.

Selama bercerita si teman terlihat beberapa kali mengusap matanya. Meski berusaha menyembunyikan aku tau kalau dia terharu bercerita tentang si sulung. Tapi selain itu, aku juga melihat ada kebanggaan darinya saat bercerita bagaimana dia melakukan segala upaya untuk si sulung. Termasuk bagaimana akhirnya dia bisa berbagi sekaligus bersaksi kepada keluarga dan teman-teman terdekatnya.

Satu hal yang aku setuju dari pernyataan yang disampaikannya tadi siang adalah, saat dia mengatakan bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Bila kita sebagai orangtua memberi cinta dan kesempatan kepada anak, niscaya dia bisa menjadi bintang. Si teman bahkan memberi contoh bagaimana perjuangan Ibu dari Hee Ah Lee menjadikan si anak menjadi pianis yang mendunia meski hanya memiliki dua jari di masing-masing tangannya.

1 Komentar

  1. betuuull.. kalo liat dari luar sih emang pekerjaan ibu rumah tangga tuh ‘cuma’ gitu-gitu doang. padahal susahnya minta ampuuunn… contoh kecilnya, gue suka merhatiin nyokap gue kebingungan hari ini mo makan apa. padahal makanan itu kan bervariasi. tapi kalo udah lama berumah tangga mungkin jadi biasa kali ya. itu lagi itu lagi. n biasanya kalo gitu tuh berarti seorang istri tidak mau suaminya merasa bosan dengan masakan itu lagi itu lagi.. (asal jangan lo lagi lo lagi) hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *